Oleh: Deswina Listiani Matondang
Suara USU, Medan. Membaca Tempurung karya Oka Rusmini seperti diajak masuk ke kehidupan perempuan yang tidak sesederhana kelihatannya. Novel ini mempertemukan berbagai persoalan tentang perempuan, mulai dari tubuh, perkawinan, keluarga, cinta, agama, dan budaya, hingga keinginan untuk menentukan hidup sendiri. Oka Rusmini tidak menghadirkan perempuan sebagai tokoh yang hanya menunggu untuk diselamatkan. Sebaliknya, para perempuan dalam novel ini memiliki keinginan, kemarahan, luka, pilihan, bahkan kontradiksi yang membuat mereka terasa begitu manusiawi. Deskripsi penerbit juga menempatkan perempuan-perempuan dalam Tempurung sebagai sosok yang berhadapan dengan persoalan kemerdekaan atas tubuh dan norma masyarakat, sekaligus mempertanyakan apakah menjadi perempuan merupakan sebuah anugerah atau justru kutukan.
Salah satu kutipan yang paling menarik berbunyi, “Yang punya tubuh kan aku, bukan alam.” Kalimat ini sederhana, tetapi sebenarnya membawa persoalan yang besar. Siapa yang memiliki hak atas tubuh seorang perempuan? Pertanyaan tersebut menjadi penting karena tubuh perempuan sering kali tidak berhenti sebagai milik pribadi. Tubuh bisa dinilai, diatur, bahkan diputuskan oleh orang lain berdasarkan norma yang berlaku di masyarakat.
Kutipan tersebut terasa semakin kuat karena dalam novel kalimat itu diucapkan oleh tokoh perempuan yang masih sangat muda. Seorang pembaca bahkan menyoroti bagaimana kalimat tersebut memperlihatkan gagasan bahwa bukan hanya tubuh, tetapi juga pikiran dan tindakan perempuan seharusnya menjadi miliknya sendiri. Di sinilah Tempurung terasa relevan untuk mahasiswa. Kita hidup di zaman ketika tubuh seseorang masih mudah menjadi bahan komentar. Perempuan bisa dinilai dari pakaian, bentuk tubuh, cara berbicara, hubungan percintaan, hingga pilihan hidupnya. Padahal, tidak semua hal tentang seseorang pantas menjadi konsumsi penilaian orang lain.
Namun, persoalan dalam Tempurung tidak berhenti pada tubuh. Yang lebih menarik adalah pertanyaan tentang seberapa bebas seseorang dalam menentukan hidupnya sendiri. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering merasa sudah bebas memilih. Kita memilih jurusan, teman, pasangan, pekerjaan, bahkan cara berpakaian. Tetapi jika dipikirkan lagi, berapa banyak pilihan yang benar-benar lahir dari keinginan sendiri dan berapa banyak yang muncul karena takut mengecewakan orang lain?
Pertanyaan itu menjadi semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa. Di usia ketika seseorang mulai dianggap dewasa, justru banyak keputusan besar yang harus diambil. Ada mahasiswa yang memilih jurusan karena keinginan orang tua. Ada yang takut berbeda karena ingin diterima lingkungan. Ada pula yang bertahan dalam hubungan atau pertemanan yang tidak sehat karena takut sendirian. Kita mungkin tidak tinggal dalam “tempurung” yang terlihat secara fisik, tetapi ada banyak batas tidak kasatmata yang membuat kita sulit bergerak.
Oka Rusmini juga memperlihatkan bahwa tempurung tersebut tidak selalu dibentuk oleh orang lain. Terkadang, kita sendiri yang mempertahankannya. Ada rasa takut, rasa bersalah, kebiasaan, dan anggapan bahwa hidup harus mengikuti jalan tertentu. Bahkan ketika kesempatan untuk keluar sudah terbuka, seseorang bisa tetap memilih tinggal karena keluar dari tempurung berarti berhadapan dengan ketidakpastian.
Hal tersebut terasa dalam salah satu kutipan yang menggambarkan kegamangan seorang tokoh, “Jangan-jangan aku sedang jatuh cinta. Pada siapa? Frank Sinatra? Bunga kecombrang? Atau aku sedang dilanda kejenuhan. Kesepian.” Sekilas, kutipan ini terdengar ringan dan bahkan agak absurd. Namun, di baliknya ada kesepian yang dalam. Tokoh tersebut bahkan tidak yakin dengan apa yang sedang ia rasakan. Ia mencoba mencari nama untuk perasaan yang sebenarnya mungkin bukan tentang cinta, melainkan tentang kebutuhan untuk ditemani dan dimengerti.
Bagi mahasiswa, bagian ini mungkin justru terasa paling dekat. Kesepian tidak selalu berarti tidak memiliki teman. Seseorang bisa berada di tengah banyak orang, aktif di organisasi, menghadiri berbagai kegiatan, tetapi tetap merasa tidak benar-benar dipahami. Di tengah tuntutan untuk terlihat baik-baik saja, perasaan seperti bosan, kosong, takut, dan kehilangan arah kadang justru disimpan sendiri. Tempurung menunjukkan bahwa mengenali perasaan sendiri pun merupakan bagian dari perjuangan untuk mengenali diri.
Menariknya, persoalan perempuan dalam novel ini tidak hanya berkaitan dengan laki-laki sebagai pihak yang menekan. Konfliknya jauh lebih kompleks. Ada keluarga, adat, agama, perkawinan, norma, dan keinginan pribadi yang saling bertabrakan. Kajian terhadap Tempurung juga melihat keputusan tokoh Jelangga dalam mempertahankan keyakinannya sebagai bentuk otonomi diri, meskipun keputusan tersebut membawa konsekuensi dalam kehidupan keluarganya.
Dari sini, Tempurung mengajarkan bahwa kebebasan tidak selalu datang dalam bentuk keputusan besar. Terkadang kebebasan dimulai dari keberanian mengatakan “tidak”, mempertanyakan sesuatu yang selama ini dianggap biasa, atau mengakui bahwa kita sebenarnya tidak bahagia. Menjadi diri sendiri juga bukan berarti harus melawan semua aturan. Yang penting adalah mengetahui alasan di balik pilihan yang kita ambil.
Pada akhirnya, Tempurung meninggalkan pertanyaan yang cukup mengganggu, apakah kita benar-benar menjalani hidup yang kita pilih, atau hanya hidup sesuai dengan apa yang diharapkan orang lain? Pertanyaan ini membuat novel Oka Rusmini tidak hanya relevan untuk membahas perempuan dan budaya Bali, tetapi juga kehidupan anak muda secara lebih luas.
Kita semua mungkin memiliki tempurung masing-masing. Ada yang dibentuk keluarga, ada yang dibentuk lingkungan, ada yang muncul dari norma masyarakat, dan ada pula yang kita bangun sendiri karena terlalu takut untuk keluar. Masalahnya bukan selalu tentang memiliki tempurung, sebab manusia memang membutuhkan batas dan tempat untuk merasa aman. Persoalannya adalah ketika tempurung tersebut membuat kita lupa bahwa kita masih punya pilihan.
Mungkin, makna terdalam Tempurung bukan sekadar tentang bagaimana perempuan berusaha keluar dari tekanan. Lebih jauh, novel ini mengajak pembaca untuk memiliki keberanian mengenali diri sendiri sebelum menentukan bagaimana hidup akan dijalani. Sebab, menjadi bebas bukan hanya tentang mampu keluar dari tempurung, tetapi juga berani bertanya, setelah keluar nanti, sebenarnya aku ingin menjadi siapa?
Redaktur: Emia Timentha Tarigan
Leave a comment