Oleh: Deswina Listiani Matondang
Suara USU, Medan. Ketika kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali ramai dibicarakan, media sosial dipenuhi berbagai informasi mengenai kondisi di lapangan. Mulai dari foto kepulan asap, video kebakaran, kabar titik api, hingga informasi mengenai penanganan bencana. Namun, semakin cepat informasi menyebar, semakin besar pula kemungkinan munculnya kabar yang belum tentu benar.
Situasi tersebut mengingatkan pada sosok Sutopo Purwo Nugroho, pejabat BNPB yang selama bertahun-tahun dikenal masyarakat sebagai penyampai informasi bencana. Namanya kembali muncul di media sosial ketika isu karhutla ramai. Bagi sebagian orang, Sutopo mungkin hanya dikenal sebagai sosok yang sering muncul di televisi ketika terjadi bencana. Padahal, pekerjaannya jauh lebih besar dari sekadar memberikan keterangan kepada wartawan.
Sutopo merupakan Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat BNPB. Dalam posisi tersebut, ia menjadi salah satu orang yang berada di depan ketika Indonesia menghadapi berbagai bencana. Ketika gempa terjadi, tsunami menerjang, banjir melanda, atau kebakaran hutan terjadi, masyarakat membutuhkan informasi mengenai apa yang sedang berlangsung. Di situlah Sutopo mengambil peran.
Ia dikenal aktif menyampaikan perkembangan bencana melalui media massa maupun media sosial. Twitter menjadi salah satu media yang sering digunakannya untuk memberikan informasi terbaru, menjawab pertanyaan masyarakat, sekaligus meluruskan kabar yang tidak benar.
Perannya menjadi penting karena situasi bencana selalu berlangsung cepat. Masyarakat ingin mengetahui apa yang terjadi, daerah mana yang terdampak, bagaimana kondisi korban, dan apa yang harus dilakukan. Dalam keadaan seperti itu, informasi yang terlambat memang menjadi masalah. Namun, informasi yang salah juga dapat menimbulkan kepanikan baru.
Sutopo memahami posisi tersebut. Ia tidak hanya dituntut untuk cepat, tetapi juga harus memastikan informasi yang disampaikan memiliki dasar yang jelas. Salah satu contohnya terjadi setelah gempa dan tsunami melanda Palu dan Donggala pada 2018. Saat masyarakat masih berada dalam situasi penuh ketidakpastian, beredar pesan mengenai prediksi gempa susulan berkekuatan besar dan tsunami yang akan kembali terjadi.
Dikutip dari Kompas.com, Sutopo memastikan informasi mengenai gempa susulan berkekuatan 8,1 dan tsunami tersebut merupakan hoaks. Ia juga menjelaskan bahwa teknologi belum dapat memprediksi secara pasti kapan gempa akan terjadi.
Hal tersebut menunjukkan bahwa tugas Sutopo bukan hanya memberikan kabar, tetapi juga membantu masyarakat memilah informasi. Ketika bencana terjadi, masyarakat membutuhkan seseorang yang dapat menjelaskan keadaan dengan bahasa yang mudah dipahami tanpa menambah kepanikan.
Yang membuat kisah Sutopo semakin menarik adalah kondisi dirinya sendiri ketika menjalankan tugas. Pada awal 2018, ia didiagnosis menderita kanker paru-paru stadium 4B. Di saat yang sama, Indonesia menghadapi berbagai bencana besar, termasuk gempa Lombok, gempa dan tsunami Sulawesi Tengah, serta tsunami Selat Sunda.
Di tengah pengobatan yang harus dijalaninya, Sutopo tetap aktif memberikan informasi kepada masyarakat. Ia masih menghadiri konferensi pers, berkomunikasi dengan wartawan, serta memperbarui informasi melalui media sosial. Kondisi tersebut tentu tidak mudah, tetapi ia tetap berusaha menjalankan tanggung jawabnya.
Dikutip dari BNPB, Sutopo tetap aktif memberikan informasi mengenai kebencanaan meskipun sedang menjalani pengobatan. Ia juga dikenal aktif menangkal berita bohong yang beredar dan dapat meresahkan masyarakat.
Dedikasinya membuat Sutopo tidak hanya dikenal sebagai pejabat BNPB, tetapi juga sebagai sosok yang dekat dengan masyarakat. Cara komunikasinya yang sederhana membuat informasi mengenai bencana lebih mudah diterima. Ia memahami bahwa informasi yang terlalu teknis atau menggunakan bahasa birokrasi belum tentu mudah dipahami oleh masyarakat luas.
Sutopo juga memiliki hubungan yang cukup dekat dengan para jurnalis. Ketika terjadi bencana, namanya sering menjadi salah satu sumber yang dicari untuk mendapatkan informasi terbaru. Ia berusaha memberikan data yang dapat digunakan media untuk memberitakan kondisi bencana kepada masyarakat.
Dikutip dari ANTARA, Sutopo dikenal mampu berkomunikasi dengan lebih dari 2.000 wartawan dari dalam dan luar negeri dalam memberikan informasi mengenai kebencanaan. Ia juga dikenal sebagai sosok yang aktif menyampaikan informasi sekaligus melawan kabar bohong yang beredar di media sosial.
Sutopo meninggal dunia pada 7 Juli 2019 di Guangzhou, Tiongkok, ketika sedang menjalani pengobatan. Kepergiannya meninggalkan kesan bagi masyarakat yang selama ini terbiasa mendapatkan informasi bencana darinya. Namun, nilai dari apa yang ia lakukan masih relevan hingga sekarang.
Indonesia masih menghadapi berbagai bencana, termasuk karhutla. Di sisi lain, perkembangan media sosial membuat informasi semakin cepat menyebar. Sebuah foto atau video dapat berpindah dari satu akun ke akun lain dalam waktu singkat. Masalahnya, tidak semua informasi yang ramai dibicarakan sesuai dengan keadaan sebenarnya.
Kondisi tersebut membuat cara Sutopo menyampaikan informasi menjadi penting untuk kembali diingat. Ia menunjukkan bahwa menjadi penyampai informasi bukan hanya soal siapa yang paling cepat memberikan kabar. Ada tanggung jawab untuk memastikan informasi tersebut benar dan tidak menimbulkan keresahan.
Hal ini juga dekat dengan kehidupan mahasiswa. Di tengah penggunaan media sosial yang semakin tinggi, mahasiswa bukan hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga ikut menyebarkannya. Ketika menemukan berita mengenai bencana, misalnya, kita bisa membiasakan diri untuk melihat sumbernya terlebih dahulu, membaca berita secara utuh, dan membandingkannya dengan informasi dari lembaga resmi.
Kebiasaan sederhana tersebut mungkin terlihat kecil, tetapi dapat membantu mengurangi penyebaran informasi yang salah. Terlebih ketika informasi tersebut berkaitan dengan bencana yang menyangkut keselamatan banyak orang.
Sutopo memang sudah tidak lagi berada di balik akun media sosial yang dulu sering memberikan pembaruan mengenai bencana. Namun, kebutuhan masyarakat terhadap informasi yang jelas dan dapat dipercaya tidak pernah berhenti.
Sosok Sutopo Purwo Nugroho akhirnya bukan hanya tentang seorang pejabat BNPB yang bekerja di tengah bencana. Ia juga menjadi gambaran tentang bagaimana seseorang menggunakan pengetahuan dan pekerjaannya untuk membantu orang lain. Di tengah kondisi yang tidak mudah, ia tetap berusaha memberikan informasi yang dibutuhkan masyarakat.
Ketika bencana kembali menjadi perbincangan dan media sosial dipenuhi berbagai informasi, nama Sutopo mengingatkan bahwa masyarakat tidak hanya membutuhkan berita yang cepat. Mereka juga membutuhkan informasi yang benar, jelas, dan disampaikan dengan penuh tanggung jawab.
Redaktur: Emia Timentha Tarigan
Leave a comment