Oleh: Muhassanah Nasution
Sapalah hariku saat pagi menjelang,
elus kepalaku saat aku telah pulang.
Sekali saja, tolong banggakan medali yang tengah kugenggam,
atau setidaknya, tanyakan apa yang kali ini kurengkuh dalam diam.
Andai bisa bertemu masa mudamu,
akan kuajarkan bagaimana menjadi sosok “ayah”,
pelipur lara yang merekah,
sekaligus cinta pertama bagi tuan putrinya.
Andai bisa bertemu masa mudamu,
akan kuajarkan cara menyambut senyum hangat putrimu,
menyapa selamat pagi, petang, dan malam,
menanyakan kabar hariku,
biar menjelma awal dari kisah panjang yang kuutarakan.
Bak air yang meluruhkan peluh,
layaknya semilir yang mengembus lukaku.
Andai bisa bertemu masa mudamu,
kan kuajarkan cara menggenggam tangan kecil putrimu,
mengulurkan kasih yang selama ini ia dambakan,
menyalurkan hangat di dingin jalan yang ia lalui sendirian.
Temanilah dunia yang sedang ia perangi.
Andai bisa bertemu masa mudamu,
kan kuajarkan cara merengkuh raga letih putrimu,
menjadi tempat bersandar saat tangis tak lagi tertahan,
menjadi teduh ketika langit di kepalanya runtuh,
menjadi bahu ketika dunia terasa kian jauh.
Jadilah.
Sungguh, aku merindukan sesuatu
yang bahkan tak pernah tinggal dalam ingatan.
Dan jika sekali saja,
kau elus kepalaku,
hangatnya kan terkenang hingga lima puluh tahun perjalanan usiaku.
Namun, jika pada akhirnya,
setengah mati yang kuusahakan
kian berbalas setengah hati tanpa penghargaan,
maka sepertinya lekas sampai
pada titik di mana harap sekadar bayang semu,
yang perlahan mengudara,
berselimut sayap lara.
Redaktur: Alya Nayla Sahirah S.
Leave a comment