Oleh: Suci Lestari Br Ginting
Suara USU, Medan. Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) merupakan salah satu wadah mahasiswa untuk membangun relasi, mengembangkan kemampuan, menjalankan kegiatan kemahasiswaan, serta menjadi penghubung antara mahasiswa dan program studi. Universitas Sumatera Utara (USU) sendiri menempatkan organisasi kemahasiswaan sebagai bagian dari pengembangan mahasiswa. Melalui kegiatan yang diselenggarakan, mahasiswa didorong untuk dapat mengembangkan kemampuan, kepemimpinan, kerja sama, serta pengalaman di luar kegiatan akademik. Namun, fungsi tersebut menjadi persoalan ketika HMJ tidak lagi aktif. Minimnya kegiatan, informasi yang jarang disampaikan, serta rendahnya interaksi dengan mahasiswa dapat membuat keberadaan HMJ semakin jauh dari mahasiswa yang seharusnya menjadi bagian dari lingkup kerjanya. Lantas, apa yang membuat sebuah HMJ menjadi pasif?
Berdasarkan wawancara dengan lima mahasiswa USU dari angkatan 2022, 2023, dan 2024, kondisi internal merupakan hal yang paling banyak disoroti. Mahasiswa angkatan 2022 berinisial C menilai HMJ yang sehat terlihat dari komunikasi dan kerja sama yang berjalan baik. Sebaliknya, apabila hanya pengurus tertentu yang bekerja, akan muncul kelompok-kelompok kecil, anggota merasa tidak dilibatkan, dan kondisi tersebut dapat menghambat jalannya organisasi.
Pandangan serupa disampaikan oleh mahasiswa angkatan 2022 lainnya. Menurutnya, kepengurusan yang jelas, pembagian tugas yang adil, koordinasi yang baik, sikap saling mendukung, serta transparansi menjadi ciri-ciri organisasi yang sehat. Sebaliknya, senioritas berlebihan, sikap merasa paling benar, minimnya keterbukaan terhadap kritik, dan sikap apatis dapat menjadi persoalan internal.
Hal tersebut sejalan dengan penelitian Cynthia G. Campbell, Iryna Babik, dan Stephen J. Crowley dalam Frontiers in Education (2025). Penelitian tersebut membahas kompetensi kerja tim mahasiswa di perguruan tinggi dan menempatkan komunikasi terbuka, perencanaan, koordinasi, penyelesaian masalah bersama, kepercayaan, serta kohesi tim sebagai bagian penting dari kerja sama yang efektif. Artinya, ketidakaktifan HMJ tidak hanya disebabkan karena tidak adanya program kerja. Masalah dapat muncul lebih awal, yaitu ketika komunikasi dan koordinasi di dalam kepengurusan tidak berjalan dengan baik. Jika informasi tidak tersampaikan dengan tepat, pembagian tugas menjadi tidak jelas, atau hanya sebagian anggota yang bekerja, maka pelaksanaan program kerja pun berpotensi ikut terhambat.
Dari sudut pandang mahasiswa, HMJ yang aktif akan lebih mudah dikenali melalui aktivitas yang terlihat. Mahasiswa USU angkatan 2023 berinisial V menyebut bahwa HMJ yang aktif dapat terlihat dari penyampaian informasi melalui media sosial serta keberadaan program kerja. Sementara itu, mahasiswa USU angkatan 2023 berinisial P melihat variasi dan relevansi program kerja sebagai salah satu pembeda. Menurutnya, program kerja seharusnya menyesuaikan kebutuhan, keresahan, dan kondisi mahasiswa di program studi. Dengan demikian, aktif tidak semata-mata berarti banyak mengadakan kegiatan. HMJ juga perlu memastikan bahwa kegiatan dan informasi yang diberikan memiliki relevansi bagi mahasiswa. Penelitian mengenai kegiatan ekstrakurikuler mahasiswa oleh Antonio J. M. de la Torre dkk. dalam Education + Training (2020) juga menunjukkan bahwa kegiatan ekstrakurikuler dapat berkaitan dengan perkembangan kemampuan interpersonal, komunikasi, adaptasi, dan pengambilan keputusan mahasiswa.
Ketika HMJ tidak aktif dalam jangka waktu yang panjang, dampaknya pun dapat dirasakan oleh mahasiswa di luar kepengurusan. C menyebut mahasiswa dapat kehilangan ruang untuk berorganisasi, membangun relasi lintas angkatan, mengembangkan kemampuan di luar perkuliahan, serta menyampaikan aspirasi. Mahasiswa angkatan 2024 berinisial K juga menilai bahwa ketidakaktifan HMJ dapat membuat mahasiswa kehilangan wadah untuk menyampaikan keluhan mengenai lingkungan jurusan maupun kesempatan untuk mengenal organisasi di tingkat jurusan.
Persoalan tersebut juga berkaitan dengan rasa keterhubungan mahasiswa. Penelitian Ghislaine van Bommel dan Marcel A. L. M. van Assen dalam Studies in Higher Education (2026) menemukan bahwa sense of belonging mahasiswa di perguruan tinggi berkaitan dengan motivasi, keterlibatan, dan keberlanjutan studi. Penelitian ini juga menunjukkan adanya hubungan antara kegiatan pengenalan atau integrasi awal dengan rasa memiliki terhadap sesama mahasiswa.
Meskipun demikian, ketidakaktifan HMJ tidak bisa hanya dibebankan kepada pengurus ataupun mahasiswa. Dari lima mahasiswa USU yang diwawancarai, terdapat pandangan bahwa persoalan tersebut merupakan kombinasi antara masalah internal dan rendahnya partisipasi mahasiswa. Mahasiswa berinisial P menilai bahwa persoalan internal dapat memengaruhi persepsi mahasiswa terhadap HMJ. Ketika mahasiswa melihat organisasi tidak berjalan dengan baik, ketertarikan untuk ikut berpartisipasi juga dapat berkurang.
Oleh karena itu, menghidupkan kembali HMJ tidak cukup hanya dengan memperbanyak kegiatan. Pembenahan perlu dimulai dari internal melalui komunikasi yang lebih terbuka, pembagian kerja yang jelas, evaluasi kepengurusan, serta penyelesaian masalah sebelum berkembang menjadi konflik yang lebih besar. Mahasiswa angkatan 2024 berinisial K menilai bahwa persoalan internal perlu dikomunikasikan agar dapat dicari jalan keluarnya, sementara P menekankan pentingnya evaluasi dan alur kerja yang jelas dalam organisasi.
HMJ yang tidak aktif bukan hanya persoalan tentang seberapa sering sebuah organisasi mengadakan kegiatan. Di baliknya terdapat persoalan mengenai bagaimana organisasi bekerja, berkomunikasi, dan memahami kebutuhan mahasiswa. HMJ yang sehat bukan berarti HMJ yang tidak memiliki masalah, melainkan organisasi yang mampu menghadapi persoalan internal dan tetap menjalankan fungsinya bagi mahasiswa. Ketika komunikasi, kerja sama, dan keterbukaan dapat dibangun kembali, HMJ memiliki ruang untuk kembali menjadi wadah yang hidup dan relevan bagi mahasiswa USU.
Redaktur: Alya Nayla Sahirah S.
Leave a comment