Home Life Style Low-Waist Kembali Populer, Nostalgia Y2K di Kalangan Gen Z
Life Style

Low-Waist Kembali Populer, Nostalgia Y2K di Kalangan Gen Z

Share

Oleh: Ilma Anzali Hasni

Suara USU, Medan. Tren gaya berpakaian low-waist kembali menjadi perhatian di kalangan generasi muda, khususnya Generasi Z (Gen Z). Celana dengan potongan di bawah pinggang yang identik dengan fesyen era 2000-an tersebut kembali mencuat melalui media sosial, panggung hiburan, hingga gaya berpakaian sehari-hari anak muda. Meski sempat dianggap ketinggalan zaman, gaya berpakaian ini kini kembali populer dengan berbagai kombinasi yang membuatnya terlihat lebih modern dan sesuai dengan tren fesyen masa kini.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana tren fesyen dapat berputar ke masa lalu dan kembali diminati ketika mendapatkan sentuhan dari generasi yang berbeda. Pada kalangan Gen Z, low-waist bukan sekadar mengulang gaya lama, tetapi juga menjadi bagian dari cara mereka bereksperimen dengan penampilan.

Kembalinya tren tersebut berkaitan erat dengan bangkitnya estetika Y2K (Year 2000) yang menonjolkan warna cerah, aksesori unik, serta siluet pakaian yang berani. Di berbagai platform digital, low-waist dipadukan dengan baby tee, oversized jacket, hoodie, hingga sneakers, sehingga tampil lebih kasual dibandingkan gaya awal 2000-an. Kombinasi tersebut juga membuat low-waist lebih mudah disesuaikan dengan selera berpakaian anak muda saat ini.

Tidak sedikit pengguna media sosial yang menjadikan gaya tersebut sebagai inspirasi untuk membuat konten Outfit of the Day (OOTD) maupun Get Ready With Me (GRWM). Perpaduan antara nostalgia dan kreativitas inilah yang membuat estetika Y2K kembali memperoleh tempat di tengah perkembangan tren fesyen.

Popularitas low-waist juga dipengaruhi oleh industri hiburan, khususnya dunia entertainment Korean pop atau K-pop. Sejumlah grup generasi baru, seperti CORTIS dan LNGSHOT, kerap tampil mengenakan outfit bergaya low-waist dalam pemotretan, panggung, maupun konten media sosial. Penampilan para idol tersebut kemudian menjadi referensi gaya bagi penggemar yang ingin mencoba tampilan serupa.

Pengaruh seperti ini semakin kuat akibat kedekatan Gen Z dengan media sosial yang membuat tren dari industri hiburan dapat dengan mudah menyebar dalam waktu singkat. Kini, apa yang dikenakan figur publik akhirnya tidak hanya menjadi bagian dari panggung, tetapi juga dapat memengaruhi cara anak muda memilih busana sehari-hari.

Di lingkungan kampus, gaya low-waist mulai terlihat dalam berbagai aktivitas nonformal, seperti menghadiri konser, festival kampus, kegiatan organisasi, atau sekadar berkumpul bersama teman. Bagi sebagian mahasiswa, pakaian tidak hanya berfungsi sebagai kebutuhan, tetapi juga menjadi sarana untuk mengekspresikan identitas dan mengikuti perkembangan budaya populer.

Meski demikian, kebebasan berekspresi melalui fesyen tetap perlu disertai kemampuan dalam memahami situasi, posisi, dan tempat. Lingkungan kampus memiliki berbagai ruang dan kegiatan dengan kebutuhan berpakaian yang berbeda, seperti di ruang kelas, laboratorium, seminar, maupun kegiatan lapangan. Oleh karena itu, mengikuti tren fesyen tidak berarti harus menerapkan gaya yang sama dalam setiap kesempatan. Penyesuaian terhadap situasi dan lingkungan tetap diperlukan agar ekspresi diri melalui fesyen dapat berjalan selaras dengan peraturan dan kebutuhan.

Hal tersebut menjadi semakin penting jika melihat konteks budaya berpakaian di Indonesia. Indonesia memiliki budaya berpakaian yang beragam dan dalam banyak situasi masih mempertimbangkan unsur kesopanan, kepantasan, serta kondisi lingkungan. Gaya berpakaian dari budaya populer global tentu dapat diadaptasi, tetapi sebaiknya tidak diterapkan secara mentah tanpa mempertimbangkan norma yang berlaku di lingkungan sekitar.

Low-waist dapat menjadi pilihan fesyen untuk situasi tertentu selama pemakainya tetap memperhatikan kenyamanan dan kepantasan. Dengan begitu, mengikuti tren global tidak berarti harus mengesampingkan karakter budaya berpakaian yang berkembang di Indonesia.

Mahasiswa juga perlu memahami bahwa tempat dan waktu menjadi bagian dari pertimbangan ketika memilih pakaian. Outfit low-waist mungkin lebih sesuai dikenakan saat menghadiri konser, berjalan-jalan, atau berkumpul dalam suasana santai. Namun, gaya berpakaian ini kurang tepat digunakan saat melakukan presentasi di kelas, mengikuti praktikum di laboratorium, atau menghadiri kegiatan yang mengharuskan penggunaan pakaian lebih formal.

Dalam kegiatan laboratorium, misalnya, mahasiswa perlu memprioritaskan keselamatan, kenyamanan dan mengikuti ketentuan pakaian yang berlaku daripada sekadar mempertahankan gaya. Begitu pula ketika mengikuti kegiatan formal kampus, pemilihan pakaian sebaiknya disesuaikan dengan suasana dan aturan yang telah ditetapkan.

Menyesuaikan pakaian dengan tempat dan aktivitas bukan berarti membatasi kebebasan berekspresi, melainkan menunjukkan kemampuan untuk menempatkan diri. Dengan demikian, mahasiswa dapat menjadikan low-waist sebagai salah satu referensi gaya tanpa harus kehilangan karakter pribadi maupun mengabaikan regulasi dan situasi di sekitarnya.

Tidak ada salahnya mencoba kembali gaya Y2K selama penggunaannya disesuaikan dengan konteks, terutama ketika berada di lingkungan akademik. Sebab, berpakaian bukan hanya tentang mengikuti apa yang sedang viral, tetapi juga tentang menemukan gaya yang nyaman, percaya diri, dan mampu merepresentasikan diri dengan tepat.

Redaktur: Muhassanah Nasution

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.