Oleh : Mayla Faiza Janayu
Suara USU, Medan. Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri atas ribuan pulau dengan keindahan alam dan kekayaan budaya yang beragam. Salah satunya adalah Pulau Nias yang terletak di Provinsi Sumatera Utara. Keindahan pulau ini tidak hanya terletak pada pesona alamnya, tetapi juga pada adat istiadat dan budaya yang masih lestari hingga kini.
Salah satu destinasi yang menjadi tujuan wisata untuk mengenal adat istiadat dan budaya Nias adalah Desa Bawomataluo yang terletak di Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara. Desa ini dikenal dengan kekayaan budaya megalitik, rumah adat, serta tradisi lompat batu yang masih dilestarikan hingga saat ini.
Nama Bawomataluo, yang berarti “Bukit Matahari”, mencerminkan letak geografis desa ini. Berada pada ketinggian sekitar 270 meter di atas permukaan laut, Desa Bawomataluo menawarkan panorama alam yang indah dengan pemandangan yang menghadap ke laut. Untuk memasuki kawasan desa, pengunjung harus menaiki 77 anak tangga batu. Setibanya di area desa, pengunjung akan disambut oleh sekumpulan batu megalitik yang pada masa lalu digunakan sebagai altar, singgasana raja, serta monumen untuk mengenang orang yang telah meninggal atau memperingati peristiwa penting.
Selain peninggalan batu megalitik, Desa Bawomataluo juga memiliki rumah adat yang masih kokoh berdiri hingga saat ini. Rumah adat di desa ini terbagi menjadi dua jenis, yaitu Omo Sebua dan Omo Hada.
Omo Sebua merupakan kediaman kepala adat atau raja. Bagian fasad atau bagian depan rumah dihiasi ornamen tulang babi sebagai simbol pesta adat atau ritual yang pernah diselenggarakan; semakin banyak susunan tulang babi tersebut, semakin tinggi pula kedudukan pemilik rumah.
Pada masa lalu, peperangan antardesa kerap terjadi sehingga Omo Sebua dirancang sebagai rumah yang mampu bertahan dari serangan musuh. Satu-satunya akses masuk ke dalam rumah adalah melalui tangga sempit dengan pintu kecil di bagian atas sehingga mempersulit musuh untuk memasukinya. Selain itu, rumah ini memiliki atap curam dengan ketinggian mencapai sekitar 16 meter. Tidak hanya berfungsi sebagai sarana pertahanan, konstruksi Omo Sebua juga terbukti kokoh dan mampu bertahan dari guncangan gempa.
Sementara itu, Omo Hada merupakan rumah yang ditempati oleh masyarakat biasa. Keunikan rumah-rumah adat tersebut terletak pada konstruksinya yang dibangun tanpa menggunakan paku, melainkan memanfaatkan sistem pasak kayu sehingga tetap kokoh meskipun telah berusia ratusan tahun.
Selain rumah adat yang menjadi ciri khas Desa Bawomataluo, terdapat pula tradisi lompat batu atau Fahombo yang menjadi ikon budaya masyarakat Nias. Tradisi ini dilakukan dengan melompati susunan batu setinggi sekitar dua meter. Pada masa lalu, lompat batu merupakan bagian dari proses pendewasaan sekaligus ujian ketangkasan bagi para pemuda sebelum dianggap layak menjadi prajurit. Kemampuan tersebut dibutuhkan untuk melewati benteng pertahanan musuh saat terjadi peperangan antardesa.
Seiring berjalannya waktu, tradisi lompat batu tidak lagi digunakan sebagai latihan perang, melainkan menjadi warisan budaya yang terus dilestarikan. Atraksi ini kini menjadi daya tarik utama bagi wisatawan yang berkunjung ke Desa Bawomataluo sekaligus menjadi simbol keberanian dan semangat masyarakat Nias.
Desa Bawomataluo telah masuk ke dalam Tentative List Situs Warisan Dunia UNESCO sejak tahun 2009. Saat ini, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara melalui Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif terus mengupayakan agar Desa Bawomataluo dapat ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Upaya tersebut dilakukan melalui berbagai tahapan, seperti sosialisasi kepada masyarakat serta penyusunan dokumen sebagai persyaratan pengajuan kepada UNESCO.
Dengan kekayaan sejarah, arsitektur, dan tradisi yang dimilikinya, Desa Bawomataluo menjadi salah satu warisan budaya Indonesia yang patut dijaga, dilestarikan, dan diperkenalkan kepada dunia.
Redaktur : Naisya Husna Hafizahtul Salwa Anshari
Leave a comment