Oleh : Anastasyia Dwi T Sitinjak
Suara USU, Medan. Pernahkah kita merasa lelah atau bahkan terluka setelah mendengar hinaan dari orang lain? Setiap orang tentu pernah mengalaminya. Perkataan yang dianggap sepele oleh seseorang dapat meninggalkan luka bagi orang yang mendengarnya. Tidak jarang, hinaan membuat seseorang merasa tidak cukup baik, kehilangan kepercayaan diri, bahkan mempertanyakan nilai dirinya sendiri. Namun, dari rasa sakit tersebut, muncul keberanian untuk melawan dan menerima diri sendiri. Perasaan inilah yang coba disuarakan Nabila Taqiyyah melalui lagu Hanya Lolongan.
Lagu tersebut dirilis pada 3 Mei 2024, dan liriknya ditulis oleh Nabila bekerjasama dengan pamannya, Abenk. Ia menulis lagu “Hanya Lolongan” berdasarkan pengalaman pribadinya saat menghadapi ejekan dan perundungan (bullying) ketika duduk di bangku SMP di Aceh. Pengalaman itulah yang menjadikan lagu ini terasa dekat bagi siapa saja yang pernah mengalami kejadian serupa.
Dari segi aransemen, lagu ini dibalut secara minimalis tetapi menyentuh. Sentuhan piano yang lembut semakin membuat lagu terasa sangat personal. Selain itu, Nabila mampu membawakan lagu ini dengan penuh penghayatan sehingga makna yang terkandung disetiap liriknya dapat tersampaikan dengan baik kepada pendengar.
Ku berjalan sendirian
Bagaikan hilang arah tujuan
Langit mendung, riuh angin
Hujan pun seakan tak berteman
Hilang sudah semua harapan yang di depan
Mampukah aku tetap bertahan?
Hanya ingin rasakan sedikit kesenangan
Walau kunikmati dalam diam
Melalui penggalan lirik tersebut, Nabila menggambarkan sosok yang sedang merasa sendirian dan kehilangan arah. Kalimat “Ku berjalan sendirian” menunjukkan rasa sepi yang dirasakan setelah melewati berbagai tekanan. Suasana tersebut juga terlihat dari gambaran “langit mendung” dan “hujan” yang seakan menggambarkan kesedihan yang sedang dialami. Meski begitu, lirik “Mampukah aku tetap bertahan?” menunjukkan bahwa di balik rasa lelah dan kehilangan harapan, masih ada keinginan untuk terus bertahan. Sementara itu, keinginan untuk merasakan “sedikit kesenangan” menggambarkan bahwa kebahagiaan sederhana pun tetap berarti meski dalam situasi yang paling sulit.
Selain menggambarkan kesedihan, lagu ini juga memberikan pesan untuk bangkit melalui lirik, “Kau boleh menangis, tapi kembali berdiri” dan “Kau boleh terluka, tapi hanya sementara. Lirik ini menunjukkan bahwa menangis dan merasa terluka bukanlah sesuatu yang harus disembunyikan. Seseorang berhak merasakan kesedihan, tetapi tidak seharusnya terus berada dalam keadaan tersebut. Hal ini semakin ditegaskan melalui lirik “Jangan kau terlalu lama tenggelam, ingatlah, masih ada masa depan” yang mengajak pendengar untuk tidak terus terjebak dalam rasa sakit karena masih ada kesempatan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.
Salah satu bagian yang terasa sangat personal terdapat pada lirik “Omongan mereka hanya lolongan, yang hilang ditelan malam.” Lirik tersebut menggambarkan bahwa perkataan buruk dari orang lain pada akhirnya hanya akan berlalu dan tidak selamanya memiliki arti dalam kehidupan seseorang. Penggunaan kata “lolongan” juga menjadi simbol bahwa hinaan hanyalah suara dari orang lain yang tidak perlu menentukan nilai diri kita.
Dengan demikian, lagu ini tidak hanya menceritakan tentang luka akibat bullying, tetapi juga memberikan semangat untuk bangkit dan tidak membiarkan perkataan orang lain untuk menghentikan langkah dalam menggapai masa depan.
Redaktur: Romaito Margareta Saruksuk
Leave a comment