Home Musik “Sudah”, Tentang Menerima dan Melanjutkan Hidup
Musik

“Sudah”, Tentang Menerima dan Melanjutkan Hidup

Share

Oleh: Dinda Sari

Suara USU, Medan. Kehidupan mahasiswa di lingkungan kampus tidak selalu dipenuhi aktivitas perkuliahan dan berbagai kegiatan organisasi. Di balik kesibukan tersebut, mahasiswa juga menghadapi persoalan pribadi yang terkadang tidak terlihat oleh orang lain. Masalah pertemanan, hubungan, keluarga, tekanan akademik, hingga rasa kehilangan menjadi bagian dari perjalanan selama masa perkuliahan.

Di tengah berbagai persoalan tersebut, musik kerap menjadi ruang untuk kita beristirahat dan menenangkan diri  sekaligus memahami perasaan yang sedang kita alami. Salah satu lagu yang mampu menggambarkan proses tersebut adalah “Sudah” karya Ardhito Pramono.

Dirilis pada 16 Oktober 2020 dan menjadi bagian dari Story of Kale: Original Motion Picture Soundtrack, lagu ini membawa pesan tentang menerima keadaan dan belajar melepaskan. Dimulai pada bait awal, pendengar langsung diajak untuk berhenti dari berbagai beban yang menumpuk melalui lirik:

Sudah
Sudahi semua bicara
Kuingin segera berdua
Dan pagi menjelang melahirkan mentari

Bait ini menghadirkan keinginan untuk menenangkan diri dari kerumitan yang ada. “Sudahi semua bicara” bukan ajakan untuk diam, tetapi bentuk keinginan untuk menghentikan konflik, perdebatan, maupun pikiran yang terus terjadi. Sementara itu, hadirnya “pagi” dan “mentari” menjadi simbol harapan, bahwa setelah malam yang panjang, selalu ada kesempatan untuk memulai kembali.

Pagi dan sudah
Sudahi semua prasangka
Dunia berputarlah saja
Rekam peristiwa yang takkan terulangi

Pada bait ini, Ardhito Pramono mengajak pendengar untuk melepaskan prasangka dan berhenti mencoba mengendalikan segala hal. Kalimat “dunia berputarlah saja” memberi kesan bahwa hidup akan terus berjalan, dengan atau tanpa kesiapan kita. Kemudian juga kesadaran bahwa setiap peristiwa tidak akan terulang, sehingga yang bisa dilakukan hanyalah menerima dan menjadikannya bagian dari proses hidup.

Pagi dan sudah
Sudahi malam yang duka
Dunia kau kan baik saja
Hujan akan tiba melahirkan pelangi

Metafora “hujan” dan “pelangi” menjadi gambaran sederhana tentang proses penyembuhan. Kesedihan dan luka bukanlah akhir, melainkan bagian dari perjalanan menuju sesuatu yang lebih baik. Bagi mahasiswa yang sedang berada dalam fase penuh tekanan, pesan ini menekankan bahwa masa sulit tidak berlangsung selamanya.

Belajar memahami masa depan
Tak kah yang disimpan akan tenang
Melahirkan semua nada indah
Mencoba menjadi bahagiamu sendiri

Bait ini menyampaikan bagaimana pentingnya berdamai dengan diri sendiri. Tidak semua hal harus terus dipendam, karena apa yang disimpan justru dapat menjadi beban. Lagu ini mengingatkan bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari luar, tetapi bisa dibangun dari dalam diri sendiri.

Sudah
Lupakan semua derita
Doa semesta mencairkan
Luka akan hilang perlahan terobati

Bait ini menjadi penutup yang menunjukkan bahwa proses melepaskan memang tidak instan, tetapi akan berjalan perlahan seiring waktu. Ada keyakinan bahwa luka akan sembuh, meskipun membutuhkan proses yang tidak singkat. 

Bagi mahasiswa, mengatakan “sudah” bukan berarti melupakan, melainkan menerima bahwa tidak semua hal dapat dipertahankan. Dalam kehidupan kampus yang penuh dinamika, lagu ini menjadi pengingat bahwa berhenti sejenak, melepaskan, dan memberi ruang bagi diri sendiri adalah bagian penting dari proses bertumbuh. Jadi, “Sudah” bukan hanya lagu tentang perpisahan atau kehilangan, tetapi juga tentang keberanian untuk melangkah. Sebab, dalam setiap akhir, selalu ada ruang untuk memulai kembali dengan versi diri yang lebih kuat dan lebih memahami arti perjalanan yang telah dilalui.

Redaktur: Frianka Raya Sitanggang

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.