Oleh: Nelly Nadezda Berzanti Novna
Suara USU, Medan. Mie gomak merupakan salah satu kuliner tradisional khas Batak Toba yang berasal dari kawasan sekitar Danau Toba, Sumatera Utara. Hidangan ini dikenal sebagai makanan sehari-hari masyarakat dan telah berkembang di berbagai daerah, seperti Porsea, Balige, Laguboti, Tarutung, Tapanuli Selatan, Medan, Pematangsiantar, dan Deli Serdang.
Berbeda dengan sejumlah hidangan Batak yang kerap disajikan dalam peristiwa khusus atau upacara adat, mie gomak lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Keberadaannya yang bertahan hingga kini menunjukkan bahwa hidangan tersebut tidak hanya menjadi bagian dari kebiasaan makan, tetapi juga melekat dalam kehidupan masyarakat Batak Toba.
Berdasarkan artikel Atourin berjudul “Mie Gomak dengan Rasa Pedasnya”, keberadaan mie gomak berkaitan dengan kehidupan masyarakat Sumatera Utara yang pada masa lalu banyak mengandalkan kegiatan bercocok tanam dan berladang. Hasil panen, termasuk ubi, kemudian dimanfaatkan sebagai bahan pangan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Pengolahan bahan pangan tersebut berkembang menjadi berbagai jenis makanan, termasuk hidangan berbentuk mi yang kemudian dikenal sebagai mie gomak. Seiring waktu, makanan ini berkembang dengan penggunaan bahan dan cara pengolahan yang menyesuaikan kebiasaan masyarakat di berbagai daerah.
Nama “gomak” berkaitan dengan cara penyajian makanan pada masa lalu. Dalam bahasa Batak Toba, gomak merujuk pada aktivitas mengambil atau menggenggam menggunakan tangan. Penyebutan tersebut kemudian melekat pada hidangan yang dahulu disajikan dengan cara digenggam sebelum disantap.
Seiring perkembangan zaman, penyajian mie gomak kini lebih umum menggunakan alat makan, seperti sendok dan garpu. Cara penyajiannya juga dapat berbeda sesuai dengan daerah serta resep yang digunakan masyarakat setempat.
Salah satu ciri utama mie gomak terdapat pada bentuk mi yang menyerupai lidi, berukuran lebih besar dibandingkan mi pada umumnya, serta berwarna kuning hingga jingga. Bentuknya yang panjang dan lurus membuat hidangan ini kerap dijuluki sebagai “spageti Batak”.
Mie gomak dapat disajikan dengan atau tanpa kuah. Pada penyajian berkuah, mi yang telah direbus biasanya dipisahkan dari kuah dan sambal. Kuah santan berisi aneka sayuran, seperti labu siam, wortel, atau buncis, kemudian disiramkan ke atas mi dan disajikan dalam keadaan panas. Sementara itu, varian mi goreng dibuat dengan menumis mi menggunakan sedikit air. Mie gomak umumnya disajikan bersama telur rebus dan aneka gorengan, seperti ubi, bakwan, pisang, tempe, dan tahu goreng.
Selain cara penyajiannya, penggunaan rempah menjadi bagian penting dari cita rasa mie gomak. Salah satu bahan yang menjadi ciri khasnya ialah andaliman, yang memberikan sensasi pedas, segar, dan sedikit getir pada lidah. Perpaduan mi, santan, sayuran, telur, dan rempah menghasilkan cita rasa yang kuat dan khas Sumatera Utara.
Keberadaan mie gomak di berbagai daerah menunjukkan bahwa kuliner ini terus berkembang tanpa kehilangan keterkaitannya dengan budaya asalnya. Perbedaan cara penyajian dan penggunaan bahan memperlihatkan penyesuaian terhadap kebiasaan serta selera masyarakat. Dengan demikian, mie gomak tidak hanya menjadi hidangan berbahan dasar mi, tetapi juga bagian dari identitas kuliner Batak Toba dan kawasan Danau Toba.
Redaktur: Erni Yuli Simatupang
Leave a comment