Penulis: Tania Renata Panjaitan
Tak hanya menuntut akan kedewasaan dan kemandirian dalam hidup, angka tiga puluh pun menghadirkan nostalgia tak berkesudahan akan masa muda dahulu. Sore itu, Bilha duduk melamun di kursi teras, ditemani kicauan burung bersamaan dengan nuansa oranye yang perlahan-lahan melahap kebiruan di langit. Dalam labirin pikirannya, ia terjebak bersama penantian akan waktu yang tepat, sesuatu yang selama ini Bilha tunggu-tunggu.
Jemarinya telah mendekap erat kotak berwarna merah yang berdebu. Sama seperti manusia yang akan menua, kotak itu pun telah usang dimakan waktu. Dalam hati, Bilha bertanya-tanya, kapan ia terakhir kali memasukkan harapannya ke dalam kotak ini? Kapan terakhir kali Bilha membuka kotak ini? Kesibukannya sebagai perancang busana membuatnya melupakan seluruh keinginan yang ia nantikan terkabul di waktu yang tepat. Dan hingga kini, Bilha masih terus bertanya-tanya, sama seperti dirinya yang masih remaja dulu, kapan waktu yang tepat untuk semua harapannya ini terkabul?
Perlahan-lahan, Bilha membuka kotak tersebut. Baginya, membuka kotak ini sama dengan menyapa kembali hal-hal yang belum bisa dirasanya hingga kini. Bilha akan kembali bersua bersama keinginannya yang bergantungan tanpa pernah ia raih.
“Apa sudah ada harapanku yang tercapai?” Bilha bergumam. “Ah, jika tidak ada, mungkin memang aku yang bermimpi terlalu tinggi,” lanjutnya sembari mengendikkan bahu.
Ia membuka gulungan kertas origami berwarna hijau. Ingin Bilha menebak-nebak terlebih dahulu, tulisan apa yang ada di dalamnya. Namun, rasa tak sabar yang menggerogoti dirinya mendorong Bilha untuk membuka gulungan tersebut dengan cepat.
Aku ingin sekali jalan-jalan dengan temanku saat SMA. Tapi, nanti sajalah, tunggu mereka yang mengajak duluan.
Usai membaca tulisan tersebut, Bilha berusaha mengingat kembali, apakah keinginannya yang satu ini sempat terwujud dulu? Beberapa menit terlewatkan dan Bilha tak kunjung menemukan jawabannya.
Perempuan itu mengembuskan nafasnya. “Ah, mungkin iya dan mungkin juga tidak.”
Kali ini, Bilha membuka gulungan kertas origami berwarna merah. Tanpa menebak-nebak apa tulisan di dalamnya, Bilha langsung membuka gulungan tersebut tanpa ragu.
Tadi pembicara seminarnya asal Prancis. Beberapa kali, beliau ngomong pakai bahasa Prancis juga. Nanti kalau udah siap, aku mau belajar bahasa Prancis juga deh!
Bilha dapat membayangkan dirinya yang masih remaja menuliskan kalimat tersebut dengan antusiasme yang sangat tinggi. Entah kapan perasaan siap itu hadir, tetapi yang Bilha tahu hingga kini hanyalah Bonjour, Mademoiselle, dan Je T’aime. Ironis sekali, bukan?
Gulungan kertas origami selanjutnya berwarna kuning dan menjadi saksi dari keinginan Bilha untuk mengikuti kompetisi menulis internasional saat duduk di bangku kuliah.
Aku menemukan kompetisi menulis internasional di media sosial! Menarik sekali kalau aku ikut karena akan mendapatkan pengalaman baru. Aku akan merancang cerpennya saat nanti aku sudah punya ide.
Bagian ini terekam dengan jelas di kepala Bilha. Ia masih dapat mengingatnya. Kompetisi menulis internasional yang begitu diinginkannya dan beribu alasan Bilha untuk menunda memulainya. Saat itu, setiap kali ada ide yang muncul, Bilha langsung menyingkirkannya tanpa mempertimbangkan. Ia merasa tak satupun idenya yang muncul saat itu benar-benar layak untuk dipertandingkan dalam kancah internasional. Alhasil, Bilha tak pernah benar-benar memulainya.
“Bagaimana kalau waktu itu aku cukup menulis ideku, menyelesaikannya, dan mengirimnya? Apakah akan ada yang berbeda?” Bilha bertanya-tanya kepada dirinya sendiri. Seketika, muncul puluhan kemungkinan dalam benaknya. Namun, inti dari seluruh kemungkinan tersebut hanya menang dan hadiah atau kalah dan pengalaman.
“Dan di usia yang ke-tiga puluh ini aku hanya mendapatkan kekalahan tanpa pengalaman.”
Senada dengan langit yang telah dilahap warna oranye, Bilha membuka gulungan kertas origami berwarna yang sama. Jangan harap isinya berubah! Isinya masih sama, seputar keinginan selalu terasa jauh bagi Bilha.
Aku ingin sekali ikut workshop merangkai bunga tapi kayaknya gak terlalu penting banget, jadi nanti aja deh.
Oh, Bilha, kapan tepatnya waktu dibalik kata “nanti” itu? Bahkan, hingga kini pun belum pernah ia merangkai bunga. Perlahan tapi pasti, rasa kesal akan diri remajanya dulu muncul. Bilha memutuskan menjadikan origami oranye itu sebagai gulungan terakhir yang ia buka. Masih terdapat sekitar delapan hingga sepuluh gulungan kertas origami lagi.
“Rasanya aku tak sanggup membaca semuanya,” ujar Bilha dengan nada putus asa.
Kesenyapan kembali menyerang sekeliling Bilha. Tak ada lagi monolog dengan nada lesu, kicauan burung-burung, dan desau angin sepoi-sepoi. Pendengaran Bilha seolah ditutup paksa dan dihantui dengan suara-suara yang menggaungkan kata nanti.
Nanti, nanti, nanti, nanti, nanti!
Bilha menutup matanya. Ia bergeleng cepat-cepat. Suara itu tak lenyap-lenyap juga. Dalam hati, Bilha berharap agar burung di udara menguatkan nyanyiannya secara serentak untuk meredupkan suara yang berteriak kata nanti ini berkali-kali.
“Bilha!”
Bilha tersentak. Nelangsa yang tadi menghiasi mimik mukanya digantikan dengan keterkejutan. Matanya mencari ke sekeliling, berusaha keras mendapatkan sumber suara yang menyebut namanya tadi. Namun, Bilha tak menemukan apapun. Tak seorang pun berada di sekitar rumahnya. Bilha sendirian.
Alih-alih takut, rasa tak berdaya yang semakin bertumbuh dalam diri Bilha. Impian-impian tak berwujud, rasa keputusasaan, dan kini kesendirian. Apakah usia tiga puluh memang seperti ini? Sendu dan sepi.
Bilha kembali terdiam. Kata “nanti” membayangi dirinya. Ia sadar bahwa dalam tulisan yang tadi dibacanya selalu ada kata “nanti”. Kata yang tak pernah Bilha ketahui wujudnya atau mungkin saja… kata tersebut memanglah tak berwujud. Kata tak berwujud yang membuat impian Bilha turut tak berwujud. Kini, diri remaja Bilha mungkin terkubur bersama impian yang belum pernah diraih, impian yang selalu dikurung dalam pengalihan waktu yang tepat, dan impian yang berakhir dalam kotak “nanti”.
Redaktur: Siti Farhatun Nafis Azhari
Leave a comment