Home Kabar Nasional Kebakaran Hutan di Kalimantan
Kabar Nasional

Kebakaran Hutan di Kalimantan

Share

Reporter: Ruth Jelita Laia

Suara USU, Medan. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali meluas di sejumlah wilayah Kalimantan sepanjang Agustus 2026. Kabut asap tebal menyelimuti sejumlah kota, mengganggu aktivitas warga, penerbangan, hingga proses belajar-mengajar di sekolah. Tak hanya itu, asap pekat akibat karhutla di Kalimantan bahkan mencapai negara tetangga, Malaysia.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut September masih menjadi fase kritis karhutla. Kondisi kering yang dipengaruhi fenomena El Niño serta tingginya jumlah titik panas meningkatkan potensi kebakaran, terutama di wilayah Sumatera dan Kalimantan.

Kalimantan Barat menjadi salah satu wilayah yang mengalami dampak terbesar. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga 9 Agustus 2026, luas lahan terbakar di enam provinsi prioritas mencapai sekitar 48.889 hektare. Kalimantan Barat mencatat luasan terbesar, yakni sekitar 28.680 hektare.

Kebakaran juga terjadi di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara. Pada 3 September, karhutla berdampak terhadap sekitar sembilan hektare lahan yang tersebar di Desa Mangkupadi, Kecamatan Tanjung Palas Timur, dan Kelurahan Tanjung Selor Timur, Kecamatan Tanjung Selor. Tim gabungan berhasil memadamkan api pada keesokan harinya dan melanjutkan proses pendinginan di lokasi.

Untuk menekan penyebaran api, pemerintah mengerahkan pemadaman darat dan udara, patroli, water bombing, serta Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). BMKG melaporkan bahwa OMC di Kalimantan Barat berlangsung sejak 22 Agustus hingga 4 September dengan 27 sorti penerbangan dan sekitar 24,6 ton garam sebagai bahan semai. Operasi tersebut berhasil memicu hujan yang membasahi lahan gambut dan membantu memadamkan titik api di sejumlah lokasi rawan.

Hasil serupa juga tercatat di Kalimantan Tengah. Hujan ringan hingga sedang terjadi di sejumlah wilayah, yaitu Murung Raya, Barito Utara, Kotawaringin Barat, Kapuas, Lamandau, dan Barito Selatan.

Melihat hasil tersebut, pemerintah memperpanjang pelaksanaan OMC di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah hingga 14 September 2026 dengan dukungan pembiayaan dari Kementerian Kehutanan dan BNPB.

Sejalan dengan hal tersebut, BNPB memberikan perhatian khusus terhadap enam provinsi prioritas penanganan karhutla, yaitu Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Barat. BNPB bersama pemerintah daerah dan unsur terkait terus memperkuat penanganan karhutla melalui operasi darat, patroli udara, water bombing, serta OMC. Langkah tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi meteorologis dan perkembangan titik panas di sejumlah wilayah.

Upaya tersebut merupakan bagian dari langkah antisipasi menghadapi musim kemarau yang berpotensi meningkatkan risiko karhutla. Selain pemadaman, petugas juga melakukan pemantauan titik panas, patroli udara, dan pendinginan untuk mencegah munculnya kembali titik api serta membatasi perluasan kebakaran. Penanganan diprioritaskan pada kawasan gambut dan wilayah yang sulit dijangkau melalui jalur darat.

BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla, terutama di wilayah dengan tingkat kerawanan kebakaran sedang hingga sangat tinggi. Masyarakat juga diminta untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan apabila menemukan titik api atau kepulan asap yang berpotensi berkembang menjadi kebakaran.

Redaktur: Lucy Kezia Simarmata

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.