Home Kabar Nasional NASA Pantau Sebaran Karbon Monoksida di Atmosfer Indonesia
Kabar Nasional

NASA Pantau Sebaran Karbon Monoksida di Atmosfer Indonesia

Share

Reporter: Maudy Fara Nabila

Suara USU, Medan. Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) merilis data pemantauan atmosfer melalui platform Eyes on the Earth. Dilansir dari detikcom, visualisasi rata-rata pengamatan satelit pada 13–15 Oktober 2026 menunjukkan wilayah Indonesia didominasi warna merah hingga oranye pekat. Sebaran tersebut dikaitkan dengan tingginya konsentrasi karbon monoksida (CO) akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Gas CO yang terdeteksi di atmosfer dapat bertahan selama beberapa waktu sebelum terurai melalui reaksi kimia atau berpindah mengikuti pergerakan udara.

Karbon monoksida merupakan gas tidak berwarna dan tidak berbau yang dapat membahayakan kesehatan manusia. Selain berdampak terhadap kesehatan, karhutla juga mengancam kelangsungan hidup satwa, merusak ekosistem, dan berpotensi menimbulkan pencemaran asap lintas batas (transboundary haze) hingga ke negara tetangga.

Karbon monoksida terbentuk dari proses pembakaran tidak sempurna, termasuk pembakaran vegetasi saat karhutla. Ketika terhirup, gas ini masuk ke paru-paru dan berikatan dengan hemoglobin dalam sel darah merah dengan afinitas jauh lebih tinggi daripada oksigen. Akibatnya, kemampuan darah mengangkut oksigen ke organ vital, seperti otak dan jantung, dapat terganggu. Paparan CO dapat menimbulkan gejala berupa sakit kepala, pusing, mual, dan lemas. Pada kondisi yang lebih parah, keracunan CO dapat menyebabkan gangguan kesadaran hingga kematian.

Dampak pencemaran udara akibat karhutla juga perlu diperhatikan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta penderita penyakit jantung dan pernapasan. Paparan asap dapat memperburuk kondisi kesehatan yang telah ada dan meningkatkan risiko gangguan pernapasan. Jika berlangsung berulang atau dalam jangka panjang, paparan polutan dapat menimbulkan dampak kesehatan yang lebih serius.

Selain manusia, karhutla turut mengancam satwa liar dan hewan ternak di kawasan terdampak. Paparan asap dan gas berbahaya dapat mengganggu kesehatan hewan, sedangkan kebakaran secara langsung dapat menyebabkan kematian serta merusak habitat. Hilangnya vegetasi juga mengurangi ketersediaan sumber makanan dan tempat berlindung bagi satwa liar. Akibatnya, sejumlah satwa berpotensi berpindah ke kawasan permukiman dan meningkatkan risiko konflik dengan manusia.

Tidak hanya berdampak lokal, sebaran asap dan emisi gas CO dari karhutla yang terbawa angin juga berpotensi mengganggu negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara, seperti Malaysia dan Singapura. Fenomena asap lintas batas ini kerap menurunkan indeks kualitas udara (Air Pollutant Index) di kawasan regional, memicu kekhawatiran kesehatan masyarakat internasional, serta mengganggu sektor penerbangan dan ekonomi antarnegara.

Dalam skala lingkungan yang lebih luas, partikulat asap dan sisa pembakaran karhutla membawa senyawa karbon yang berbahaya. Zat-zat ini akan mengendap di permukaan tanah dan badan air, sehingga merusak kualitas unsur hara serta mencemari sumber air terbuka.

Di atmosfer, karbon monoksida turut memengaruhi proses kimia yang mengatur keberadaan sejumlah gas. CO bereaksi dengan radikal hidroksil (OH), yaitu molekul yang berperan dalam menguraikan berbagai senyawa di atmosfer, termasuk metana. Ketika radikal hidroksil bereaksi dengan CO, ketersediaannya untuk menguraikan metana dapat berkurang sehingga umur metana di atmosfer berpotensi meningkat. Proses ini turut memengaruhi keseimbangan kimia atmosfer dan dapat berkontribusi terhadap perubahan iklim.

Untuk menekan dampak karhutla, upaya pencegahan dan pemadaman kebakaran perlu diperkuat melalui koordinasi antara Kementerian Lingkungan Hidup, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Masyarakat juga perlu mengikuti informasi kualitas udara dan imbauan dari instansi terkait. Ketika kualitas udara memburuk, masyarakat disarankan membatasi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker respirator, seperti N95, untuk mengurangi paparan partikel asap. Perlindungan tambahan juga perlu diberikan kepada kelompok rentan serta hewan peliharaan dan ternak.

Redaktur: Siti Farhatun Nafis Azhari

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.