Oleh: Rosani Margaretha Samosir
Suara USU, Medan. Vika selalu meyakini bahwa hidup adalah lintasan lurus dengan satu garis akhir yang sama bagi semua orang. Bedanya, sebagian orang mampu berlari kencang mendahului, sementara sebagian lainnya terseok-seok tertinggal jauh di belakang. Anggapan itu kian mengakar setiap kali ia memulai pagi dengan layar ponsel yang dipenuhi kabar keberhasilan orang lain. Linimasanya tidak pernah sepi dari unggahan teman-teman yang meraih beasiswa, memenangkan kompetisi bergengsi, diterima di perusahaan impian, atau sekadar membagikan pencapaian kecil yang justru terasa seperti pengingat bahwa dirinya belum menghasilkan apa-apa.
Jemari Vika memang selalu tergerak untuk mengetikkan ucapan selamat. Senyumnya terkembang tulus, bahkan ada rasa bahagia yang membuncah saat melihat orang lain melangkah maju. Namun, begitu layar gawai itu padam dan keheningan kamar kembali merengkuhnya, senyum itu perlahan luntur. Tersisa satu tanya yang kian bising mengendap di benaknya. “Kapan giliranku tiba?”. Pertanyaan itu menggantung tanpa kepastian, terus berputar layaknya roda yang bergerak di tempat tanpa pernah membawanya ke mana pun.
Kegelisahan itu tampak jelas saat Vika duduk bersama sahabatnya, Rani, di sebuah kedai dekat kampus beberapa waktu kemudian. Rani memperhatikan cangkir minuman Vika yang hanya diaduk berulang kali tanpa benar-benar diteguk. Menyadari gelagat tersebut, Rani akhirnya bertanya dengan nada tenang, “Kamu kenapa?”
Vika mengangkat wajahnya, lalu memaksakan sebuah senyum tipis. “Tidak apa-apa.”
Rani menggeleng pelan, tahu betul tabiat sahabatnya. “Kamu selalu memberi jawaban yang sama setiap kali kepalamu sedang penuh.”
Hening merayap cukup lama di antara mereka. Pandangan Vika jatuh pada permukaan meja kayu di hadapannya sebelum ia melepaskan embusan napas panjang. “Aku cuma merasa tertinggal.”
Rani tidak langsung menyela. Ia membiarkan beberapa detik berlalu, menimbang kata-kata agar tidak terdengar seperti rentetan petuah hampa. “Tertinggal dari siapa?” tanyanya kemudian.
Pertanyaan lugas itu seketika membungkam Vika. Ia bingung harus menunjuk siapa, sebab lawan paling berat yang ia hadapi selama ini bukanlah orang lain, melainkan ekspektasi dirinya sendiri. Ia merasa tertinggal dari kawan-kawan sebayanya, dari orang-orang yang melesat cepat, bahkan dari sosok ideal yang pernah ia bayangkan di masa lalu. “Aku tidak tahu,” bisik Vika lirih.
Rani menatapnya hangat, lalu tersenyum tipis. “Mungkin masalahnya bukan karena kamu terlambat, Vik. Kamu hanya terlalu sering mencocokkan langkahmu dengan jam orang lain.”
Kalimat sederhana itu terus terngiang, menemani langkah Vika hingga tiba di rumah. Malam harinya, ketika layar ponsel kembali menampilkan potongan-potongan hidup orang lain, Vika berusaha menata ulang sudut pandangnya. Ia mulai menyadari bahwa satu unggahan foto hanyalah representasi dari satu detik perjalanan panjang. Di balik senyum yang terpajang, bisa jadi tersimpan rentetan kegagalan yang sengaja disembunyikan, malam-malam penuh air mata dan kecemasan, serta luka perjuangan yang tidak pernah disiarkan kepada siapa pun.
Keesokan sorenya, demi mengurai benang kusut di kepala, Vika melangkahkan kaki tanpa tujuan pasti hingga sampai di sebuah taman kecil dekat kompleks perumahan. Pandangannya terpaku pada salah satu sudut taman, tempat sebuah wahana roda putar tua berdiri membisu di bawah naungan pohon rindang. Lapisan catnya telah terkelupas dan kerangka besinya tampak berkarat dimakan usia, seolah sudah bertahun-tahun ditinggalkan anak-anak. Vika memilih duduk di bangku kayu tak jauh dari sana, mengamati roda tersebut dengan tatapan lekat. Ada rasa familier yang menyentuh hatinya, seakan benda usang itu adalah cerminan dari dirinya sendiri.
Seorang pria paruh baya yang tengah menyapu guguran daun di sekitar taman menyadari tatapan Vika. Ia menghentikan sapuan tangannya sejenak, lalu menyapa ramah, “Kenapa terus dilihat, Nak?”
Vika menoleh pelan sembari menunjuk wahana tersebut. “Kelihatannya sudah lama sekali tidak berputar, Pak.”
Pria itu turut mengarahkan pandangannya ke roda tua tersebut. “Memangnya semua hal yang diam itu tandanya sudah berhenti?”
Pertanyaan itu membuat kening Vika berkerut heran. “Bukankah begitu?”
Lelaki tua itu tersenyum teduh. “Roda itu tidak pernah memilih untuk berada di atas atau di bawah. Tugasnya hanya mengikuti poros. Selama porosnya masih ada, setiap bagian pasti akan mendapat gilirannya.”
Vika termenung mencerna kalimat itu. “Lalu, bagaimana kalau saat ini posisinya sedang di bawah?”
”Tentu suatu saat akan kembali naik ke atas,” sahut pria itu mantap.
”Bagaimana jika roda itu benar-benar tidak berputar lagi?” desak Vika, menyiratkan keraguan yang bersarang di hatinya.
Pria tua itu menatap Vika dengan pandangan teduh sebelum menjawab bijak. “Bisa jadi bukan perjalanannya yang usai, melainkan waktunya saja yang belum tiba.”
Pria itu kembali melanjutkan pekerjaannya menyapu daun-daun kering, meninggalkan Vika yang masih terpaku di bangku taman. Kalimat-kalimat bersahaja tadi menancap begitu dalam di benaknya. Malam itu, Vika kembali merenungkan sosok-sosok yang sempat membuatnya merasa kerdil. Ia tersadar bahwa selama ini ia hanya terpukau pada puncak pencapaian mereka, tanpa pernah melihat palung perjuangan yang mungkin sama gelapnya dengan titik terendah yang sedang ia lalui.
Ia tidak pernah benar-benar tahu berapa kali mereka harus bangkit dari kegagalan sebelum berhasil mencicipi kemenangan. Ia juga tidak pernah menyaksikan berapa banyak kesempatan yang terlewat, keraguan yang melumpuhkan, atau tanya getir yang barangkali sempat mereka lontarkan tentang mengapa hidup orang lain tampak jauh lebih mudah.
Kini Vika memahami bahwa hidup bukanlah lintasan garis lurus yang kaku, melainkan putaran roda yang dinamis. Hidup akan terus berputar, membawa seseorang melambung ke atas, menghempaskannya ke bawah, lalu perlahan mengangkatnya kembali dengan cara yang tak terduga. Ketika gilirannya tiba nanti, ia berjanji tidak akan melupakan rasa getir saat berada di titik nadir. Dari sanalah ia belajar bahwa tidak ada kejayaan yang kekal, sebagaimana tidak ada keterpurukan yang abadi. Roda itu masih berputar, hari ini mungkin milik orang lain, tetapi hari esok masih membentang luas dan ceritanya belum usai.
Redaktur: Alya Nayla Sahirah S.
Leave a comment