Oleh: Maria Marsella Simamora (240902010)
Seorang anak perempuan tidak pernah lahir dengan pikiran bahwa ia harus lebih hati-hati, lebih lembut, atau tidak boleh melangkah terlalu jauh. Ia tidak tahu bahwa ada pekerjaan yang dianggap lebih cocok untuk laki-laki, ada sikap yang dianggap terlalu berani untuk perempuan, atau ada mimpi yang dianggap terlalu tinggi untuk dirinya. Semua itu dipelajari. Perlahan, melalui kata-kata, kebiasaan, dan cara orang-orang di sekitarnya memperlakukannya.
“Jangan terlalu keras, kamu perempuan.” “Jangan pulang terlalu malam.” “Perempuan harus tahu cara menjaga diri.” Kalimat-kalimat seperti ini mungkin terdengar sebagai bentuk perhatian dan memang tidak selalu bermaksud membatasi. Namun, ketika perempuan lebih sering diajarkan tentang apa yang harus dihindari daripada apa yang dapat ia lakukan, pesan yang tertanam bisa menjadi berbeda. Ia belajar bahwa dunia adalah tempat yang harus diwaspadai, bahwa keberanian memiliki batas, dan bahwa menjadi perempuan berarti harus lebih banyak menyesuaikan diri.
Batas tersebut kemudian muncul dalam bentuk yang lebih halus. Anak laki-laki yang berani menyampaikan pendapat dianggap percaya diri, sementara perempuan yang sama tegasnya bisa dianggap terlalu keras. Laki-laki yang ingin memimpin dipandang memiliki inisiatif, sedangkan perempuan terkadang lebih dulu dinilai dari cara ia bersikap. Akhirnya, perempuan bukan hanya berhadapan dengan batas yang dibuat orang lain, tetapi juga dengan batas yang mulai ia buat untuk dirinya sendiri.
Inilah mengapa ketidaksetaraan gender tidak selalu dimulai dari diskriminasi yang terang-terangan. Kadang, ia dimulai dari kebiasaan yang terlalu lama dianggap wajar. Ketika pilihan seseorang terus dikaitkan dengan jenis kelaminnya, kemampuan menjadi kurang penting dibanding label yang melekat padanya. Perempuan bisa saja memiliki kemampuan untuk memimpin, mengambil keputusan, atau mencoba sesuatu yang baru, tetapi kesempatan itu terasa jauh ketika sejak awal ia tidak terbiasa melihat dirinya berada di sana.
Pemberdayaan perempuan karena itu tidak cukup hanya dengan mengatakan bahwa perempuan memiliki kesempatan yang sama. Kesempatan harus disertai ruang untuk menggunakannya. Perempuan perlu didorong untuk menyampaikan pendapat tanpa takut dicap terlalu agresif, mengambil keputusan tanpa selalu diragukan, dan mencoba tanpa merasa kegagalan akan menjadi bukti bahwa dirinya tidak mampu. Pemberdayaan bukan tentang membuat perempuan menjadi lebih kuat dari laki-laki, melainkan memastikan bahwa perempuan memiliki kendali atas pilihan dan kehidupannya sendiri.
Mungkin sudah saatnya kita berhenti hanya bertanya mengapa perempuan kurang berani mengambil ruang. Kita juga perlu bertanya, sejak kapan kita mengajarkan mereka untuk mengecilkan diri? Sebab seseorang tidak akan mudah memperluas langkah jika sejak kecil ia terus diberi tahu di mana harus berhenti.
Perempuan tidak lahir dengan batas. Batas itu tumbuh dari apa yang mereka dengar, lihat, dan alami setiap hari. Karena itu, jika kita ingin perempuan tumbuh lebih berdaya, yang perlu diubah bukan mimpi mereka, keberanian mereka, atau cara mereka menjadi perempuan. Yang perlu kita ubah adalah kebiasaan yang selama ini mengajarkan bahwa menjadi perempuan berarti harus berjalan lebih kecil.
Artikel ini merupakan publikasi tugas mata kuliah Gender dan Pemberdayaan Perempuan dengan Dosen Pengampu Ibu Dr. Hairani Siregar, S.Sos., M.SP. dan Ibu Dra. Berlianti, M.SP.
Redaktur: Emia Timentha Tarigan
Leave a comment