Oleh: Salsa Aurora Novanda (240902088)
Usia perempuan masih sering dijadikan ukuran dalam menilai kehidupan seseorang. Sejak kecil, perempuan seolah tumbuh bersama batas usia yang tidak pernah benar-benar terlihat. Ada usia untuk sekolah, bekerja, menikah, bahkan ada usia yang dianggap sudah terlambat untuk memulai sesuatu. Kehidupan perempuan seakan memiliki jadwal yang harus diikuti.
Ketika memasuki usia tertentu dan belum menikah, pertanyaan mulai bermunculan. “Belum ada yang dekat?” “Tidak mau menikah?” “Jangan terlalu pilih-pilih.” “Kalau terlalu lama nanti bagaimana?” Pertanyaan tersebut mungkin hanya membutuhkan jawaban singkat. Namun, ketika terus diulang, seseorang bisa merasa bahwa dirinya sedang mengejar sesuatu yang bahkan tidak pernah ia sepakati sebagai perlombaan. Mengapa usia perempuan begitu mudah menjadi bahan penilaian? Mengapa angka di kartu identitas seolah dapat menentukan apakah seorang perempuan sedang berada di waktu yang tepat atau sudah dianggap terlambat?
Istilah seperti “perawan tua” juga masih sering digunakan untuk menyebut perempuan yang belum menikah pada usia tertentu. Meskipun bagi sebagian orang dianggap sebagai candaan, istilah tersebut menunjukkan bahwa perempuan yang belum menikah masih sering ditempatkan dalam posisi yang seolah-olah harus dipertanyakan. Ia bisa dianggap terlalu sibuk bekerja, terlalu memilih, terlalu mandiri, atau terlalu mengejar pendidikan.
Padahal, belum menikah bukan berarti ada sesuatu yang salah. Seorang perempuan bisa saja sedang menyelesaikan pendidikan, membangun karier, membantu keluarga, mengembangkan dirinya, atau memang belum menemukan pasangan yang tepat. Bisa juga menikah bukan menjadi prioritasnya untuk saat ini. Setiap orang memiliki pertimbangan dan kesiapan yang berbeda dalam menentukan keputusan sebesar pernikahan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2024 sebanyak 35,46 persen perempuan berusia 10 tahun ke atas yang pernah kawin melakukan perkawinan pertama pada usia 21 tahun ke atas. Data tersebut menunjukkan bahwa usia perkawinan perempuan tidak berada pada satu batas usia yang sama. Ada perempuan yang menikah lebih awal, sementara sebagian lainnya memasuki pernikahan pada usia yang lebih dewasa.
Namun, perbedaan waktu tersebut masih sering dipandang sebagai sesuatu yang perlu dipertanyakan. Tekanan untuk menikah semakin terasa ketika perempuan mulai membandingkan dirinya dengan orang lain. Ketika teman-temannya mulai menikah, ia bisa merasa tertinggal. Ketika seseorang yang lebih muda darinya menikah, ia mulai bertanya apakah ada yang salah dengan dirinya. Ketika pertanyaan tentang pasangan terus berdatangan, kehidupan yang sebelumnya terasa baik-baik saja perlahan bisa terasa kurang. Padahal, kehidupan seseorang tidak menjadi lebih rendah hanya karena ia belum memiliki status yang sama dengan orang lain.
Ada banyak pencapaian perempuan yang sebenarnya layak dihargai. Menyelesaikan pendidikan, mendapatkan pekerjaan yang diinginkan, membantu orang tua, mengembangkan kemampuan, melakukan kegiatan sosial, maupun terus belajar menjadi lebih baik juga merupakan bagian dari perjalanan hidup. Namun, berbagai pencapaian tersebut terkadang masih kalah oleh satu pertanyaan sederhana: kapan menikah?
Persoalannya bukan pada pernikahan. Menikah merupakan pilihan hidup yang sah dan bagi banyak orang menjadi bagian penting dalam kehidupan. Persoalannya muncul ketika pernikahan dijadikan ukuran utama untuk menentukan apakah kehidupan seorang perempuan sudah berjalan dengan benar atau belum.
Pernikahan bukan sekadar status yang harus dicapai sebelum usia tertentu. Di dalamnya ada kehidupan yang akan dijalani, keputusan yang harus dipertanggungjawabkan, serta hubungan yang membutuhkan kesiapan. Karena itu, rasanya tidak adil jika perempuan didorong untuk menikah hanya karena lingkungan mulai merasa gelisah melihat usianya.
Tidak semua kehidupan harus mengikuti urutan yang sama. Ada yang menemukan pasangan lebih awal, ada yang bertemu setelah menyelesaikan pendidikan atau membangun karier, dan ada pula yang membutuhkan waktu lebih panjang untuk mengenal dirinya sendiri sebelum memutuskan berbagi hidup dengan orang lain.
Karena itu, mungkin yang perlu diubah bukan cara perempuan menjalani hidupnya, melainkan cara kita memandang kehidupan perempuan. Bertambahnya usia tidak seharusnya otomatis dianggap sebagai tanda bahwa seseorang semakin tertinggal. Usia adalah bagian dari perjalanan hidup, bukan ukuran keberhasilan seseorang.
Daripada terus mempertanyakan kapan seorang perempuan akan menikah, mungkin kita bisa mulai melihat apa yang sedang ia bangun dalam hidupnya. Sebab, kehidupan perempuan tidak berhenti hanya karena belum adanya pernikahan, dan setiap orang berhak menentukan sendiri kapan ia siap mengambil keputusan sebesar itu.
Artikel ini merupakan publikasi UTS Mata Kuliah Gender dan Pemberdayaan Perempuan dengan Dosen Pengampu Dr. Hairani Siregar, S.Sos., M.SP. dan Dra. Berlianti, M.SP.
Redaktur: Emia Timentha Tarigan
Leave a comment