Oleh: Gebi Margareta (240902074)
Acara adat Batak masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Batak di Kota Medan. Dalam pelaksanaannya, laki-laki dan perempuan sama-sama terlibat, meskipun peran yang dijalankan sering kali berbeda.
Laki-laki biasanya lebih banyak terlibat dalam bagian yang berkaitan dengan pembicaraan adat dan urusan antarkeluarga. Sementara itu, perempuan sering berperan dalam menyiapkan makanan, menyambut tamu, serta membantu berbagai kebutuhan selama acara berlangsung. Pembagian tersebut terlihat sebagai bagian dari kebiasaan yang telah berlangsung dalam pelaksanaan acara adat.

Sumber: Indonesia, The Ultimate in Diversity.
Pembagian tugas tersebut sudah menjadi kebiasaan dalam berbagai acara adat. Bagi masyarakat, pembagian peran ini merupakan bagian dari tata cara adat yang telah dikenal dan dilakukan secara turun-temurun. Namun, perbedaan tugas antara laki-laki dan perempuan juga dapat dilihat dari sisi kesetaraan gender. Salah satu hal yang menarik untuk diperhatikan adalah kesempatan perempuan dalam menyampaikan pendapat dan terlibat dalam pengambilan keputusan selama kegiatan adat. Hal ini menjadi penting karena keterlibatan perempuan dalam sebuah kegiatan tidak hanya dilihat dari kehadirannya, tetapi juga dari ruang yang diberikan untuk menyampaikan pandangan dan mengambil bagian dalam keputusan.
Seiring perkembangan zaman, pandangan generasi muda terhadap pembagian peran tersebut juga mulai beragam. Perempuan saat ini tidak hanya beraktivitas di rumah, tetapi juga menempuh pendidikan, bekerja, dan aktif dalam berbagai kegiatan di luar rumah. Perubahan tersebut turut memengaruhi cara generasi muda melihat pembagian peran laki-laki dan perempuan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam pelaksanaan acara adat.

Sumber: instagram @disbudpar_toba
Hal yang sama juga terjadi pada laki-laki. Keterlibatan dalam pekerjaan rumah dan persiapan acara tidak lagi selalu dianggap sebagai tugas perempuan saja. Dalam beberapa keluarga, laki-laki dan perempuan mulai saling membantu sesuai dengan kebutuhan. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa menjalankan adat dan menerapkan kesetaraan gender dapat berjalan bersamaan. Tradisi tetap dapat dipertahankan, sementara pembagian tugas dapat menyesuaikan kondisi dan kesepakatan dalam keluarga.
Di tengah kehidupan Kota Medan yang terus berkembang, generasi muda memiliki peran dalam melihat kembali bagaimana tradisi dijalankan. Bukan untuk menghilangkan adat, tetapi untuk memastikan laki-laki dan perempuan tetap memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam kegiatan keluarga dan adat.
Artikel ini merupakan publikasi UTS Mata Kuliah Gender dan Pemberdayaan Perempuan dengan Dosen Pengampu Dr. Hairani Siregar, S.Sos., M.SP. dan Dra. Berlianti, M.SP.
Redaktur: Emia Timentha Tarigan
Leave a comment