Home Kabar Kampus Gemar Belajar FH USU Gelar Kuliah Umum, Soroti Isu Democratic Backsliding
Kabar Kampus

Gemar Belajar FH USU Gelar Kuliah Umum, Soroti Isu Democratic Backsliding

Share

Reporter: Siti Farhatun Nafis Azhari, Suci Rahmawati Siregar, dan Yolanda Febriana Sinaga

Suara USU, Medan. Perkumpulan Gemar Belajar (GEMBEL) Fakultas Hukum (FH) Universitas Sumatera Utara (USU) menggelar kuliah umum bertajuk “Menakar Arah Demokrasi Indonesia di Tengah Isu Democratic Backsliding” pada Sabtu (29/8/2026) di Aula Fakultas Keperawatan USU, guna membedah indikator kemunduran demokrasi serta mendorong peran aktif generasi muda dalam mengawal kebijakan negara. Sebanyak 219 peserta dari berbagai perguruan tinggi, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), dan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) se-Kota Medan turut menghadiri kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Logos Gevantara 2026 tersebut.

Sebelum sesi pemaparan inti dimulai, pembawa acara memandu rangkaian pembukaan yang diawali dengan pembacaan doa bersama, menyanyikan lagu kebangsaan “Indonesia Raya”, mengumandangkan “Mars Gemar Belajar”, serta mendengarkan sambutan dari jajaran pimpinan dan tokoh alumni. Sambutan disampaikan secara berturut oleh Ketua Panitia Logos Gevantara 2026, Presiden XXI GEMBEL Hamit Tantio Lumban Gaol, perwakilan alumni John Perdana Purba, serta Dekan FH USU Dr. Mahmul Siregar, S.H., M.Hum. 

Pada sesi utama kuliah umum, GEMBEL FH USU menghadirkan pakar hukum kepemiluan, Titi Anggraini, sebagai narasumber. Dalam pemaparannya, Titi membedah fenomena kemunduran demokrasi yang kerap berlangsung secara bertahap dan tersembunyi di balik prosedur yang secara formal terlihat legal. Selain menekankan urgensi keterwakilan perempuan dalam sistem politik, ia turut memaparkan berbagai langkah konkret bagi mahasiswa untuk mengawal demokrasi, mulai dari pengawasan proses legislasi, penulisan riset dan policy brief, pengajuan uji materi undang-undang (judicial review), hingga penyerahan berkas sahabat pengadilan (amicus curiae).

Saat diwawancarai oleh Suara USU, Titi memaparkan data global yang menunjukkan bahwa iklim demokrasi di tanah air sedang menghadapi tantangan serius. Ia merujuk pada penilaian sejumlah lembaga riset internasional, seperti Economist Intelligence Unit (EIU) yang mengategorikan Indonesia sebagai flawed democracy (demokrasi cacat), Varieties of Democracy (V-Dem) sebagai electoral autocracy (autokrasi elektoral), serta Freedom House yang menyematkan status partly free (sebagian bebas). Selain itu, ia menyoroti Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia rilisan Transparency International yang hanya mencatat skor 34 dari 100, sehingga berada di peringkat ke-109 dunia. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan demokrasi Indonesia sedang mengalami pelemahan sehingga seluruh pihak perlu memastikan situasi tersebut tidak terus memburuk.

Lebih lanjut, Titi menegaskan bahwa masa depan demokrasi Indonesia sangat bergantung pada sikap generasi muda, khususnya kalangan mahasiswa. Ia berpendapat bahwa mahasiswa dapat mengambil peran strategis melalui sikap kritis terhadap arah kebijakan publik, pengawasan ketat terhadap kinerja lembaga negara, advokasi, pengujian undang-undang, serta edukasi publik secara masif melalui media sosial. Mahasiswa juga diharapkan mampu memanfaatkan hak suara dalam pemilu secara rasional guna melahirkan kepemimpinan yang berintegritas.

Salah seorang peserta kegiatan, Yoel Edward Hasugian, mengungkapkan bahwa pemaparan narasumber berhasil membuka ruang diskusi yang objektif dan terukur. Menurutnya, pembahasan mengenai kemunduran demokrasi kerap kali hanya berkutat pada tataran narasi, sementara materi kuliah umum kali ini menyajikan data serta indikator ilmiah yang konkret. “Bukan hanya dari sisi emosional, tetapi juga dari sisi intelektual, kita bisa melihat bahwa memang ada kemunduran demokrasi,” ungkapnya.

Yoel pun berharap pihak penyelenggara dapat mengadakan kegiatan serupa secara berkala dengan melibatkan lintas disiplin ilmu agar mahasiswa dapat menelaah isu kebangsaan dari beragam sudut pandang.

Kuliah umum ini juga membuka ruang diskusi dua arah melalui sesi tanya jawab yang disambut antusias oleh ratusan peserta. Peserta yang hadir tidak hanya berasal dari internal USU, melainkan mahasiswa dari Universitas Negeri Medan (Unimed), Politeknik Negeri Medan (Polmed), Universitas HKBP Nommensen, Universitas Katolik Santo Thomas (Unika Santo Thomas), Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU), hingga Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU).

Di samping penyelenggaraan forum akademik, panitia Logos Gevantara 2026 juga melakukan aksi sosial berupa donasi buku yang bermitra dengan Perpustakaan Cinta Baca. Melalui inisiatif ini, panitia berhasil menghimpun dan menyerahkan sebanyak 100 eksemplar buku kepada pihak perpustakaan.

Ketua Panitia Logos Gevantara 2026, Sufina Jafa Fadhilah, menjelaskan bahwa kuliah umum dan aksi literasi ini merupakan bagian dari program tahunan eksternal GEMBEL FH USU yang dirancang atas dasar keresahan mahasiswa terhadap kebijakan publik yang berpotensi merugikan masyarakat.

“Perkumpulan Gemar Belajar itu memiliki kegiatan tahunan yang kami namakan kegiatan eksternal. Kegiatan ini tidak selalu berbentuk kuliah umum karena kami diberikan ruang untuk berkreasi dan melaksanakan kegiatan yang dapat memberikan dampak kepada masyarakat,” jelasnya dalam wawancara dengan Suara USU, (29/08/26). 

Ia menambahkan bahwa pemilihan Perpustakaan Cinta Baca sebagai mitra penyaluran donasi didasarkan pada keselarasan program literasi yang mereka kembangkan, khususnya program penguatan interaksi ibu dan anak melalui aktivitas membaca.

Rangkaian acara kemudian ditutup secara resmi dengan penyerahan sertifikat penghargaan kepada narasumber oleh pihak penyelenggara, serta serah terima simbolis 100 buku donasi kepada pengelola Perpustakaan Cinta Baca.

Redaktur: Alya Nayla Sahirah S.

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.