Home Kabar Kampus Inovasi Limbah Ikan dan Jagung, Tim Collacel USU Raih Best Expo
Kabar Kampus

Inovasi Limbah Ikan dan Jagung, Tim Collacel USU Raih Best Expo

Share

Reporter: Suci Rahmawati Siregar

Suara USU, Medan. Pekan Inovasi Mahasiswa Pertanian Indonesia (PIMPI) 2026 kembali hadir dengan mengusung tema Innovating Integrated Agriculture for Climate-Resilient Future yang diselenggarakan di kampus IPB University Dramaga, Bogor. Dalam ajang ini, Tim Collacel dari Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara (USU) berhasil meraih penghargaan Best Expo pada kompetisi esai nasional, setelah bersaing dengan 22 tim peserta dan lolos sebagai salah satu dari 10 tim finalis.

Tim Collacel beranggotakan Khairyah Hutagalung selaku ketua tim, bersama Nayla Alfina dan Dea Novita Fitrianti, dengan didampingi dosen pembimbing Dr. Ridwansyah, S.TP., M.Si.

Keikutsertaan mereka tidak direncanakan sejak jauh hari. PIMPI dibuka bertepatan dengan masa liburan, dan ketiga mahasiswi ini memilih mengisi waktu luang dengan mengikuti kompetisi ini sebagai tim pertama mereka bersama.

Proses pengembangan ide dimulai dari brainstorming masing-masing anggota, kemudian dilakukan penyaringan sesuai subtema yang diminta. Tim berfokus pada isu climate change, khususnya permasalahan food loss yang tinggi pada komoditas yang mudah rusak seperti tomat.

“Kami meng-highlight tema yang membahas climate changes sehingga topik utama diskusi mengenai limbah yang berpotensi mengalami pemborosan energi yang memicu emisi rumah kaca, kami juga menyelaraskan dengan subtema food security and climate adaptation,” jelas Dea dalam wawancara dengan Suara USU (11/09/26).

Gagasan utama yang mereka usung dalam esai adalah inovasi active packaging berbentuk lembaran film berbahan limbah kolagen dari ikan, nanoselulosa dari tongkol jagung, dan ekstrak kulit jeruk nipis. Untuk mendukung pengolahannya, tim menambahkan teknologi ramah lingkungan bernama SWE (Subcritical Water Extraction). Inovasi ini berpotensi memperpanjang masa simpan tomat sekaligus mengurangi food loss.

Rangkaian kompetisi sendiri terdiri dari tahap penyisihan secara daring, presentasi final dan expo secara luring pada Sabtu, 05 September, serta seminar dan awarding pada keesokan harinya. Persiapan tim mencakup brainstorming materi, penyusunan desain poster dan banner, penguasaan materi expo, hingga mempersiapkan prototipe yang ditampilkan saat presentasi dan expo.

Tantangan terbesar datang saat presentasi dan sesi tanya jawab, terlebih ini merupakan lomba offline pertama mereka.

“Cara mengatasinya adalah perbanyak latihan dan referensi bacaan karena salah satu poin plus untuk tim yaitu pemahaman yang basic hingga mendalam terkait ide, dan yang penting juga latihan presentasi dengan timer,” ungkapnya.

Hasilnya jauh melampaui ekspektasi awal. “Jujur hasil ini tidak kami ekspektasikan sebelumnya, karena mengikuti lomba ini awalnya hanya berupa iseng dan ada waktu luang,” ucapnya.

Momen paling berkesan bagi tim adalah datang langsung ke kampus IPB, bertemu finalis dari berbagai universitas, serta mendapat feedback dari juri yang sangat berpengalaman. Rangkaian seminar juga memberikan motivasi tersendiri bagi mereka untuk terus menghasilkan karya ilmiah.

Dari seluruh perjalanan ini, tim Collacel menitipkan satu pesan sederhana.

“Coba aja dulu. Semua berawal dari keinginan untuk mencoba dan keberanian untuk mengirimkan naskah atau idenya. Ketika kamu tidak memilih untuk mencoba maka kamu tidak akan mengetahui hasil dari sesuatu yang kamu lewatkan,” tutupnya.

Redaktur: Siti Farhatun Nafis Azhari

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.