Home Cerpen Teh Blueberry dan Karbon Monoksida
Cerpen

Teh Blueberry dan Karbon Monoksida

Share

​Oleh: Muthia El Istiqomah Siregar

Suara USU, Medan. ​Aku berlari kecil menghampiri teman-temanku yang sudah berkumpul di meja dekat pepohonan. Kami hendak melakukan rutinitas mingguan, yaitu minum teh aroma blueberry ditemani kue-kue kecil. Ina, teman yang membawa semua sajian itu, langsung menunjukku saat aku mendekat.

​“Iti kebiasaan telat! Nanti kuenya dihabiskan Abil, lho,” cerocosnya.

​Abil yang mendengarnya tidak terima. “Enak saja! Aku baru makan tiga kue, masih ada sisa dua buat kalian,”

​Aku hanya tertawa sambil meminta maaf dan berjanji tidak akan terlambat lagi. Aku langsung menyeruput teh hangat di hadapanku. Ina penasaran dan bertanya mengapa aku datang sangat lambat.

​“Tadi Mama menyuruhku menyuapi adik makan dulu, baru boleh pergi main,” jawabku.

​Ina mengangguk seolah paham betapa repotnya memiliki adik yang baru lahir, padahal dia sendiri anak bungsu. Kami lalu melanjutkan obrolan tentang hal-hal tidak penting. Ina dan Abil mendadak heran karena aku selalu memakai pakaian yang sama setiap kali bermain.

​”Kata Mamaku, yang penting pakai baju,” jawabku polos.

​Mereka tertawa dan berjanji suatu hari nanti akan memilihkan pakaian yang lebih cantik untukku. Aku hanya mengangguk setuju. Langit mulai temaram menandakan waktu magrib telah tiba, saatnya pulang sebelum kami diculik setan.

​Aku mengayuh sepeda sembari memperhatikan anak-anak seumuranku yang juga bergegas pulang ke rumah masing-masing. Begitu melangkah masuk ke rumah, aku melihat Mama sedang duduk di ruang tamu. Pemandangan yang terasa agak aneh, sebab Mama kerap tiba-tiba tertawa dan berbicara sendiri. Aku sering bertanya alasan di baliknya, tetapi Mama hanya menjawab bahwa dia teringat kejadian masa lalu. Anehnya, kebiasaan itu berlangsung hampir seharian dan tidak pernah berhenti. Sudah bertahun-tahun seperti itu. Aku bingung apakah semua orang dewasa memang demikian, sebab Ayah tidak seperti itu.

​Aku juga pernah bertanya kepada Ayah, tetapi Ayah tidak pernah menjawab. Beliau terlalu sibuk dengan telepon genggam dan pekerjaannya yang menurutku lebih baik dibuang saja. Lagipula, sejak adik lahir, aku sebagai anak tertua sering diminta ikut mengurusnya.

​Tak lama kemudian, Ayah baru pulang dari kantor. Beliau langsung bertanya dengan nada marah kepada Mama karena tidak disediakan minuman, mengeluh betapa lelahnya baru pulang bekerja. Mama yang mendengarnya hanya diam. Pikirku, Mama pasti sama lelahnya karena harus mengurus bayi sendirian dengan sedikit bantuanku. Aku bingung harus bersikap bagaimana dalam situasi rumit itu. Aku pun merasa lelah setelah mengayuh sepeda dari rumah Ina. Akhirnya, aku memilih menghampiri adik dan bermain bersamanya.

​Suara pertengkaran mulai terdengar riuh dari ruang tamu. Aku berusaha tidak terlalu memikirkannya. Itu dunia orang dewasa, sementara aku hanyalah anak kelas lima SD. Ayah bersikeras bahwa seorang istri harus mengerti suaminya yang lelah bekerja, sedangkan Mama membela diri bahwa seorang suami juga harus paham betapa melelahkannya mengurus bayi seharian. Biasanya Ayah mau membantu mengurus adik, hanya saja sepertinya sedang ada masalah di kantor sehingga emosinya meledak di rumah. Dunia orang dewasa benar-benar rumit untuk kupahami.

​Aku menunggu mereka selesai bertengkar. Jika dipotong, ketegangannya pasti akan semakin membara. Setelah suasana mereda, aku berniat meminta dibuatkan makan malam karena perutku sudah sangat lapar. Namun, Ayah malah pergi keluar rumah, sementara Mama mengurung diri di kamar. Berhubung aku belum bisa memasak, aku memutuskan mengganjal perut dengan makanan ringan seadanya di dalam kulkas.

​Terasa aneh melihat kedua orang tua bertengkar hingga lupa bahwa anak mereka belum makan malam. Kondisi rumah juga sangat berantakan. Aku membereskannya sebisaku, lalu menyeduh susu untuk adik sebelum menidurkannya.

​Keesokan paginya, Mama tiba-tiba menghilang dari rumah dan membuatku kewalahan. Aku bingung bagaimana menyiapkan semua perlengkapan sekolah dan siapa yang akan mengganti pakaian adik. Ayah masih tertidur di ruang tamu, dan ketika kubangunkan, ia tetap tidak mau bangun. Akhirnya, aku sendiri yang membuatkan susu serta mengganti pakaian adik.

​Aku mandi terburu-buru karena harus bergegas ke sekolah. Tidak ada yang mengantar ataupun membuatkan sarapan, semua harus kukerjakan sendiri karena orang tua sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Ketika Ayah akhirnya terbangun, aku meminta tolong dibuatkan sarapan. Ia mengangguk dan membuatkanku telur setengah matang dengan bagian bawah yang gosong, meski bagian atasnya matang sempurna.

​Aku tidak terlalu memikirkannya karena rasa lapar sudah menumpuk sejak semalam. Begitu Bibi penjaga adik datang, aku langsung mengayuh sepeda menuju sekolah. Kata Ayah, Mama sedang merawat Nenek yang sakit di luar kota sehingga tidak bisa pulang untuk beberapa waktu. Aku heran, mengapa harus merawat Nenek, padahal Mama sendiri sedang sakit? 

​Selama Mama pergi, kegiatan Ayah di rumah hanya tidur dan pergi bermain tenis lapangan. Sesekali beliau mengurus adik sembari menyelesaikan pekerjaannya. Rumah terasa jauh lebih sepi tanpa kehadiran Mama.

​Hari pertemuan mingguan pun tiba. Aku kembali berkumpul bersama teman-temanku untuk menikmati teh wangi blueberry dan kue kecil buatan Ina. Kali ini obrolan kami berpusat pada alasan mengapa Abil bisa makan sangat banyak dalam satu waktu. Menurut Ina, mungkin Abil memiliki banyak cacing pita di perutnya.

​Menurut pandanganku, hal itu karena Abil orang kaya, dan orang kaya selalu bisa makan apa saja yang mereka inginkan. Abil sendiri berasumsi mungkin karena orang tuanya gemar makan banyak, sehingga menurun padanya. Aku dan Ina tidak setuju dengan teori itu. Pada akhirnya, kami menyerah mencari jawaban dan memilih pulang ke rumah sebelum diculik setan karena hari sudah menjelang magrib.

​Sudah sebulan lamanya Mama tidak ada di rumah. Rasa rindu begitu menyiksa, tetapi aku tidak bisa menemui Mama karena sepertinya Ayah dan Mama masih memiliki urusan orang dewasa yang tidak sanggup kupahami. Kemarin, tukang pos mengantarkan selembar surat ke rumah. Di sana tertulis surat gugatan perceraian antara Ayah dan Mama. Sepertinya mereka benar-benar akan berpisah. Aku berusaha tidak terlalu ambil pusing, sebab melihat mereka bertengkar terus-menerus juga bukan hal yang baik.

​Akhirnya, Mama pulang ke rumah. Perasaanku membuncah senang bisa melihat Mama kembali. Mama langsung menghampiri adik dan bertanya apakah dia sudah diberi makan. Kujawab belum, sebab aku sendiri belum makan malam dan biasanya adik baru kuberi makan setelah aku selesai makan.

​Mama menatapku dengan raut tidak suka, seolah ada emosi besar yang ditahannya. Tanpa bicara lagi, Mama membuatkan makanan untukku dan adik. Ketika Ayah pulang, suasana rumah seketika menjadi sangat tegang. Aku memutuskan menghabiskan makanan secepat mungkin lalu bergegas masuk ke kamar.

​Aku mengambil buku pelajaran dan berpura-pura belajar. Aku paham, mereka berdua sebenarnya tidak ada yang ingin membawaku. Mama hendak kembali ke rumah Nenek dan menitipkan adik ke rumah orang tua Ayah, sementara Ayah merasa tidak sanggup merawat dua anak sendirian. Padahal kenyataannya, selama Mama pergi, aku merawat diriku sendiri dan mengurus adik dengan bantuan Bibi penjaga yang datang setiap hari. Aku memilih untuk langsung tidur. Mendengar perdebatan mereka hanya membuatku makin pusing dengan rumitnya dunia orang dewasa.

​Keesokan harinya, aku berangkat sekolah dengan perasaan sangat malas. Bukan karena masalah orang tua, melainkan karena hari ini ada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Aku sangat tidak menyukai materi tentang alam.

​Hari itu, guru menjelaskan tentang karbon monoksida, sebuah gas berbahaya yang tidak terlihat dan dapat menumpuk di ruangan berventilasi buruk. Penjelasan itu seketika mengingatkanku pada ucapan Bibi, bahwa pemanas air di kamar mandi rumah sedang rusak dan ventilasinya harus selalu dibiarkan terbuka.

​Setibanya bel pulang, aku langsung mengayuh sepeda menuju rumah. Tidak ada yang menjemput seperti biasa saat Mama belum sakit. Sesampainya di rumah, aku memarkirkan sepeda dan kembali melihat Mama duduk di sofa sembari tertawa sendiri. Namun kali ini ada yang berbeda, Mama memutar lagu pernikahan mereka. Mama menyadari kepulanganku dan menyapa, “Nak, sudah pulang? Jangan lupa ganti baju, ya.” Aku mengangguk walau merasa agak heran.

​Setelah berganti pakaian, aku kembali ke ruang tamu dan melihat Mama sedang membuka album foto pernikahan bersama Ayah. Wajah Mama menyiratkan seolah beliau sangat bahagia dengan pernikahan itu.

​Aku bersiap pergi untuk rutinitas mingguan bersama Ina dan Abil. Saat aku melangkah keluar dan mengambil sepeda, Mama menyusul ke area garasi.

​“Sebelum ada kamu, Mama sangat bahagia bersama Ayah,” ucap Mama lirih.

​Aku menatap Mama dengan bingung karena tidak mengerti maksudnya. Karena tidak ingin ambil pusing, aku membiarkannya dan berpamitan, “Aku pergi main dulu, ya.” Mama hanya tersenyum melepas kepergianku.

​Topik pertemuan kami kali ini agak berbeda karena aku ingin menuntaskan rasa penasaran. “Kalian tahu tidak, ada penyakit yang bikin orang tertawa sendiri?”

​Ina dan Abil saling pandang bingung. “Aku baru tahu ada penyakit seperti itu,” celetuk Abil.

​“Aku juga. Jadi mereka bisa tertawa sendiri?” tanya Ina heran.

​“Iya, mereka bisa tertawa tanpa perlu ada orang lain,” jelasku.

​“Nanti kutanyakan pada Mamaku penyakit apa itu. Berarti mereka bisa tertawa tanpa perlu menyewa badut, ya,” sahut Abil santai sambil mengunyah kue.

​“Abil makan terus seperti babi,” cetus Ina tanpa merasa bersalah.

​“Tidak apa-apa, babi kan imut,” balas Abil santai seraya mengambil kue berikutnya.

​Aku hanya mengangguk menyetujui. Hari mulai gelap, waktunya pulang sebelum diculik setan.

​Setibanya di rumah, aku mendapati Mama kembali duduk di sofa sembari tertawa sendiri. Di meja makan, sudah tersaji banyak sekali lauk pauk kesukaanku. Aku segera mengambil nasi dengan porsi melimpah karena Mama sangat jarang memasak makanan favoritku. Berhubung Ayah sepertinya akan pulang larut malam, aku berniat menghabiskan semuanya. Mama mendekat dan membujukku untuk makan yang banyak. Saat itu, aku merasa sangat disayang oleh Mama.

​Selesai makan malam, aku masuk ke kamar dan duduk di meja belajar untuk mengerjakan tugas sekolah. Tugasnya adalah mencari contoh sumber karbon monoksida yang dihasilkan di dalam rumah. Aku teringat perkataan Bibi bahwa pemanas air di kamar mandi sedang rusak, sehingga pintu kamar harus selalu dibuka karena ventilasi kamar mandi tidak berfungsi.

​Aku menuliskan jawaban itu dengan cepat agar bisa segera tidur. Perut yang terlalu kenyang membuat kantuk datang lebih cepat. Begitu selesai, aku langsung membaringkan badan di tempat tidur, memejamkan mata, dan berusaha lelap.

​Di tengah keheningan, aku mendengar suara seseorang sedang mengunci pintu kamarku dari luar. Aku terdiam, membuka mata, lalu menatap langit-langit kamar yang gelap. Jadi, ini alasannya Mama memasak makanan kesukaanku malam ini. Sebuah perayaan yang terasa sangat aneh.

​Aku memilih untuk tidak terlalu memikirkannya. Lagipula, aku memang tidak pernah ingin menjadi dewasa. Aku hanya ingin terus menjalankan rutinitas mingguan bersama Ina dan Abil, menikmati teh wangi blueberry dengan kue-kue kecil, lalu pulang sebelum diculik setan.

​Redaktur: Alya Nayla Sahirah S.

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.