Oleh: Fahril Andi Pangeran/Annisa Fadhilah/Putri Anantasia/Fatimah Roudatul Jannah/Riska Wika Yanti/Alvina Damayanti/Vanissa Azzahra/Zaky Rakha Eralfi/Jhon Melky Hutapea/Dimas Aditya/Brian Jogi Nicolas Malau/Jones Panjaitan/Wahyu Ampudani Siregar
Pemandangan kepulan asap tebal yang membubung tinggi dari sisa aktivitas pembakaran sampah secara terbuka di pekarangan rumah warga telah menjadi warisan kebiasaan di Desa Paya Perupuk, Kecamatan Tanjung Pura, Kabupaten Langkat. Keadaan ini menjadi perhatian utama bagi Kelompok LK-03 Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Universitas Sumatera Utara (USU) yang beranggotakan 13 mahasiswa dengan dua jurusan berbeda yakni Kesejahteraan Sosial dan Sosiologi.
Selama hampir dua bulan, tepatnya terhitung sejak tanggal 29 Mei hingga 16 Juli 2026, rangkaian proses dilakukan dengan berpedoman pada pendekatan disiplin ilmu Kesejahteraan Sosial dan Sosiologi. Para mahasiswa berupaya meruntuhkan kebiasaan lama warga yang destruktif melalui sebuah skema program pemberdayaan kesehatan lingkungan pedesaan yang taktis dan solutif berbasiskan partisipasi aktif masyarakat setempat.
Di bawah bimbingan intensif dari Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Fajar Utama Ritonga, S.Sos., M.Kesos., mahasiswa KKN-T LK-03 memulai rancangan dengan melakukan pemetaan komprehensif guna mengidentifikasi akar permasalahan sanitasi di area pemukiman desa. Dalam proses pemetaan tersebut, pandangan masyarakat sekitar menjadi masukan dan pertimbangan yang sangat penting. Berangkat dari pemetaan tersebut, mahasiswa LK-03 KKN-T USU menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) pada Selasa (23/06) yang menghadirkan kepala desa, sekretaris desa, jajaran kepala dusun, anggota Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK), perwakilan Badan Permusyawaratan Desa (BPD), hingga perwakilan masyarakat setempat.
Hasil diskusi menunjukkan bahwa masalah yang ada didasari oleh ketiadaan sarana Tempat Pembuangan Sampah (TPS) yang mudah dijangkau dan keberadaan armada pengangkutan sampah yang terhenti setelah beroperasi beberapa minggu pasca banjir. Kesulitan akses pembuangan sampah tersebut menjadi alasan utama masyarakat setempat masih membakar sampah maupun membuangnya di aliran badan air terdekat.
Merespons dilema lingkungan yang telah menahun tersebut, mahasiswa LK-03 merumuskan penerapan teknologi tepat guna berupa komposter ember berskala domestik. Inovasi ini ditawarkan sebagai sebuah solusi taktis yang ramah lingkungan guna mengonversi sisa limbah basah rumah tangga langsung dari sumbernya agar tidak berakhir di pembakaran sampah terbuka.
“Keberadaan kompos berskala domestik ini menjadi solusi praktis yang kami tawarkan setelah diskusi yang juga melibatkan masyarakat setempat. Alasan utama solusi ini dipilih tentu karena dapat menjangkau seluruh komponen masyarakat sekitar dengan proses dan bahan materialnya yang mudah ditemui di sekitar, misalnya limbah rumah tangga,” tutur Fahril Andi Pangeran selaku Ketua Kelompok LK-03 KKN-T USU.
Rangkaian edukasi teknis dan implementasi fisik dilaksanakan secara masif selama dua hari berturut-turut pada Sabtu dan Minggu, 4–5 Juli 2026, melalui penyelenggaraan lokakarya demonstrasi praktis pembuatan komposter secara estafet di beberapa wilayah dusun yang berbeda. Dalam sesi lokakarya tersebut, para mahasiswa membimbing dan mengajak warga dusun untuk mempraktikkan langsung seluruh tahapan pembuatan pupuk organik. Proses dimulai dari cara mencacah sisa makanan dapur untuk memperkecil ukuran partikel, teknik pelapisan material organik secara selang-seling dengan tanah kompos topsoil, hingga aplikasi penyemprotan formula cairan stimulan starter yang memanfaatkan kombinasi bioaktivator EM4 dan rendaman air cucian beras yang telah didiamkan semalaman sebagai sumber nutrisi alami bagi mikroorganisme pengurai.

Tidak hanya itu, mahasiswa LK-03 juga berupaya menggarap dimensi perubahan perilaku sosial-kultural masyarakat lintas generasi dengan edukasi inklusif. Upaya ini dilakukan melalui penyelenggaraan kegiatan rekreatif di TK Nurul Islam Desa Paya Perupuk, serta sosialisasi bersama siswa/i SDN 056033. Pembelajaran yang diberikan berpusat pada penyadaran tentang penjagaan lingkungan dan pentingnya pemilahan sampah yang tepat. Selain itu, juga dilangsungkan sesi senam sehat sebaga alternatif ruang dialog mengenai manajemen pemilahan limbah dapur bersama kader penggerak PKK Desa Paya Perupuk.
Berikutnya, mahasiswa LK-03 bersama masyarakat setempat memulai pembuatan tempat sampah terpilah dalam rentang waktu tujuh hari. Demi mengoptimalkan sarana kampanye sanitasi lingkungan, tempat sampah kayu terpilah tersebut juga dilengkapi papan edukasi visual yang memuat lini masa urai material sampah anorganik, seperti plastik dan kaleng. Tempat sampah tersebut kemudian ditempatkan secara strategis di tiga titik fasilitas publik utama, yakni di Kantor Desa Paya Perupuk, Lapangan Futsal Dusun III, dan Taman Baca Masyarakat (TBM) Desa Paya Perupuk. Keberadaan tempat sampah ini diharapkan mampu membangun kesadaran dan inisiatif masyarakat setempat untuk menjaga lingkungan dengan pengelolaan sampah yang tepat.
Muhammad Syafri, S.E selaku Kepala Desa Paya Perupuk juga menyampaikan apresiasinya atas upaya dan setiap kegiatan yang sudah dilakukan oleh kelompok LK-03 selama berada di Desa Paya Perupuk. Ia berharap, mahasiswa LK-03 juga dapat mengambil manfaat dan pengajaran berharga dari pengabdian yang dilakukan. Jajaran perangkat desa berkomitmen penuh untuk mengawal keberlanjutan program ini dan merawat fasilitas fungsional yang telah diserahkan agar mewujudkan cita-cita Desa Paya Perupuk yang bersih, sehat, dan bebas dari polusi asap pembakaran sampah dapat terjaga secara permanen.
Artikel ini adalah publikasi tugas akhir Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) USU 2026 dengan Dosen Pembimbing Lapangan Fajar Utama Ritonga, S.Sos., M.Kesos.
Redaktur: Muhassanah Nasution
Leave a comment