Oleh: Dinda Sri Aulia
Suara USU, Medan. Kesibukan pendidikan, pekerjaan, dan berbagai tuntutan kehidupan kerap membuat seseorang semakin jarang menghabiskan waktu bersama keluarga. Jarak dan rutinitas perlahan mengubah percakapan hangat menjadi panggilan singkat serta kepulangan yang semakin jarang. Dalam situasi tersebut, Raisa melalui Lagu Untukmu menghadirkan gambaran tentang rindu seorang anak yang telah beranjak dewasa kepada ibunya sekaligus kesadaran bahwa waktu bersama orang tua tidak selalu dapat diulang.
Dirilis pada 25 Mei 2018, Lagu Untukmu menjadi salah satu karya Raisa yang mengangkat hubungan antara anak dan ibu. Berbeda dari banyak karyanya yang lekat dengan tema percintaan, lagu ini menyampaikan kasih, rasa bersalah, dan kerinduan seorang anak yang mulai mandiri dan menjalani kehidupannya sendiri. Lagu bertajuk Lagu Untukmu tersebut masih berada dalam genre pop-ballad, seperti kebanyakan lagu Raisa lainnya, dengan karakter musik yang mendukung suasana emosional dalam liriknya.
Kerinduan yang dihadirkan bukan sekadar rasa ingin bertemu, tetapi juga menggambarkan perubahan hubungan ketika seorang anak mulai dewasa. Saat masih kecil, bertemu dan menghabiskan waktu bersama ibu terasa mudah dan bebas. Namun, ketika beranjak dewasa, pendidikan, pekerjaan, dan berbagai tanggung jawab membuat kesempatan tersebut semakin terbatas. Perubahan itulah yang menjadi salah satu persoalan emosional yang terasa dalam lagu ini.
Lagu tersebut dibuka dengan potongan lirik yang menggambarkan percakapan sederhana antara ibu dan anak.
Setiap ‘ku mendengar kalimat,
‘Sayang, apa kabarmu?’
Sungguh remuk rasa hatiku,
Membuatmu harus bertanya.
Sapaan ibu yang menanyakan kabar menjadi pemantik emosi dalam lagu. Pertanyaan sederhana tersebut menggambarkan hubungan yang mulai berjarak akibat waktu dan kesibukan. Bagi seorang anak yang tinggal jauh dari rumah, pertanyaan tersebut dapat menjadi pengingat bahwa ibu tetap menunggu kabar meskipun kehidupan anak telah dipenuhi berbagai aktivitas.
Perasaan bersalah tersebut kemudian berkembang menjadi keinginan untuk segera pulang.
Tak akan lama,
Takkan kuingkari lagi
Ku segera berlari,
Tak perlu menunggu
Bagian ini memperlihatkan perubahan sikap seorang anak yang tidak ingin terus menunda kepulangan. Keinginan untuk pulang bukan hanya tentang kembali ke rumah secara fisik, tetapi juga tentang kembali menikmati waktu bersama ibu. Kerinduan tersebut terasa dekat dengan pengalaman banyak orang yang harus meninggalkan rumah demi pendidikan, pekerjaan, maupun mengejar cita-cita.
Kehangatan keluarga kemudian menjadi bagian penting dalam lagu. Raisa menghadirkan kenangan sederhana yang mungkin terlihat biasa, tetapi justru menjadi sesuatu yang dirindukan ketika seorang anak berada jauh dari rumah.
Pulang ke pelukanmu,
Tenteramnya telinga yang mendengar tanpa menghakimi.
Secangkir kopi hangat yang kita hirup berdua,
Gurauan dalam petuahmu
Pelukan ibu, percakapan tanpa penghakiman, mendengarkan nasihat, hingga menikmati secangkir kopi bersama menjadi gambaran tentang kenyamanan yang sulit ditemukan di tempat lain. Kebahagiaan dalam lagu ini tidak dibangun melalui sesuatu yang besar atau mewah, melainkan melalui kebersamaan sederhana antara anak dan ibu.
Rumah dalam Lagu Untukmu juga tidak hanya dimaknai sebagai tempat secara fisik. Rumah hadir sebagai ruang emosional tempat seorang anak dapat melepaskan berbagai tuntutan kehidupan dan kembali merasakan kedekatan dengan keluarganya. Ketika seseorang telah dewasa dan dituntut untuk mandiri, rumah menjadi tempat yang mengingatkan bahwa dirinya tetap memiliki ruang untuk pulang dan diterima apa adanya.
Kerinduan tersebut mencapai titik emosional melalui pengulangan sapaan kepada sosok ibu.
“Ibu, ibu, ibu, aku rindu.”
Pengulangan tersebut membuat emosi lagu terasa semakin personal. Tidak banyak kata yang diperlukan untuk menggambarkan kerinduan seorang anak. Penyebutan “ibu” secara berulang justru memperlihatkan bahwa sosok tersebut menjadi pusat dari rasa ingin pulang yang dibangun sepanjang lagu.
Menjelang akhir, lagu membawa pendengar pada pemaknaan yang lebih dalam mengenai hubungan seorang anak dengan ibunya.
Hanya kau tempat,
Di mana aku menjadi diriku sendiri
Potongan tersebut menggambarkan ibu sebagai ruang tempat seorang anak dapat menjadi dirinya sendiri. Di luar rumah, seseorang mungkin dituntut untuk mandiri, kuat, dan mampu menghadapi berbagai persoalan. Namun, di hadapan ibu, tuntutan tersebut seakan dapat dilepaskan. Rumah dan ibu menjadi tempat untuk kembali tanpa harus menyembunyikan sisi rapuh diri.
Kekuatan Lagu Untukmu terletak pada kemampuannya mengubah pengalaman sederhana menjadi refleksi tentang kedewasaan. Menjadi dewasa bukan berarti berhenti membutuhkan ibu, melainkan menyadari bahwa waktu bersama ibu tidak lagi sebebas ketika masih kecil. Karakter pop-ballad yang lembut dan vokal Raisa turut memperkuat suasana rindu dan kehangatan dalam lagu, sehingga terasa dekat dengan pengalaman mahasiswa yang sedang menjalani kehidupan jauh dari keluarga.
Pada akhirnya, Lagu Untukmu mengingatkan bahwa kesibukan mengejar masa depan tidak seharusnya membuat seseorang melupakan rumah dan sosok yang memberinya rasa aman. Bagi mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan jauh dari rumah, kerinduan tersebut dapat menjadi pengingat untuk menyisihkan waktu menelepon, pulang, berbincang, atau sekadar menikmati secangkir kopi bersama ibu. Sebab, bagi seorang anak yang telah dewasa, rumah bukan hanya tempat untuk kembali, melainkan tempat untuk kembali menjadi dirinya sendiri.
Redaktur: Erni Yuli Simatupang
Leave a comment