Oleh: Agnes Dhea Oktavia Sinaga
Penjara adalah miniatur kecil dari sebuah society. Di dalamnya ada kekuasaan, kekerasan, aturan, perbedaan kasta, konflik, dan orang-orang yang hidup di bawah sebuah sistem. Joko Anwar pernah menyampaikan gagasan tersebut ketika membicarakan film Ghost in the Cell. Baginya, apa yang terjadi di dalam penjara dapat menjadi gambaran dari kehidupan masyarakat yang lebih luas.
Ghost in the Cell merupakan film horor komedi Indonesia tahun 2026 yang ditulis dan disutradarai oleh Joko Anwar. Film ini dibintangi oleh Endy Arfian, Abimana Aryasatya, Yoga Pratama, Aming, Bront Palarae, dan Rio Dewanto. Film ini pertama kali ditayangkan di Festival Film Internasional Berlin pada 13 Februari 2026 sebelum hadir di bioskop Indonesia pada 16 April 2026.
Lapas Labuhan Angsana tidak hanya menjadi tempat para napi menjalani hukuman. Di dalamnya, kekuasaan, kekerasan, dan perbedaan perlakuan terlihat begitu jelas. Para napi harus menghadapi pertikaian antarsesama tahanan sekaligus Jefri (Bront Palarae), pejabat lapas yang menggunakan kekuasaannya untuk menekan mereka.
Keresahan terhadap keadaan tersebut memang menjadi bagian dari alasan Joko Anwar membuat film ini. Dalam video behind the scene yang diunggah di kanal YouTube Come and See Pictures, ia mengatakan:
“Melihat keadaan di Indonesia ketika hukum dan keadilan tidak berpihak pada kebenaran terutama kepada rakyat kecil, dan juga dikuasai oleh sistem yang korup. Jadi film Ghost in the Cell ini genrenya memang horor komedi, tapi ada pesan yang ingin disampaikan dan dikritik dari situasi di Indonesia saat ini.”
Cerita mengikuti Dimas (Endy Arfian), seorang jurnalis yang dijebloskan ke Lapas Labuhan Angsana setelah menjadi tersangka pembunuhan bosnya, Endy (Rio Dewanto). Jasad Endy ditemukan dalam keadaan mengenaskan tidak lama setelah ia mengomentari draf artikel Dimas mengenai perusakan hutan di Kalimantan. Tidak lama setelah kedatangan Dimas, satu per satu napi mulai tewas secara brutal oleh sosok yang tidak dapat mereka lihat.
Mereka kemudian mengetahui bahwa hantu tersebut memburu orang dengan energi negatif paling kuat. Aura yang berubah menjadi merah menjadi tanda bahwa seseorang berada dalam bahaya. Para napi pun mulai mencari cara untuk menurunkan energi negatif tersebut. Ada yang beribadah, menyanyi, menari, dan melakukan berbagai kegiatan lain yang dianggap dapat membantu menurunkan aura mereka.
Tidak ada perubahan karakter yang tiba-tiba setelah mereka mengetahui aturan tersebut. Mereka tetap saling membenci, tetap berkonflik, dan masih membawa sifat buruk masing-masing. Mereka melakukan berbagai kegiatan itu karena tidak ingin menjadi korban berikutnya. Bahkan ketika mereka berusaha menurunkan energi negatif, hubungan antarnapi tetap dipenuhi persoalan.
Sasaran sebenarnya dari hantu tersebut juga menjadi bagian penting dari kritik film. Ada seorang koruptor yang ditempatkan di lorong sel berbeda dari napi lainnya. Berada di dalam penjara tidak membuat kehidupannya seperti tahanan lain. Ia menempati ruang yang nyaman, menghabiskan waktu dengan menonton dan bersantai, mendapatkan berbagai fasilitas, bahkan dilayani oleh penjaga lapas.
Ironinya, koruptor itulah yang sebenarnya menjadi incaran hantu. Namun, napi-napi lain justru ikut mati. Mereka yang bukan sasaran menjadi korban dalam proses mengejar orang yang dianggap paling bersalah. Film tidak hanya menunjukkan bahwa orang yang bersalah dapat lolos dari perlakuan yang seharusnya diterima, tetapi juga bahwa orang-orang yang tidak bersalah dapat ikut menanggung akibatnya.
Perbedaan perlakuan itu membuat Lapas Labuhan Angsana terasa seperti gambaran kecil dari masyarakat yang penuh kasta. Mereka sama-sama berada di balik jeruji, tetapi tidak mendapatkan kehidupan yang sama. Ada yang harus bertahan dari kekerasan dan ancaman kematian, sementara ada yang tetap dapat menikmati kenyamanan karena posisi dan kekuasaannya.
Joko Anwar memilih horor komedi untuk menyampaikan persoalan tersebut. Situasi para napi yang berusaha menjaga aura mereka dapat menjadi lucu karena caranya absurd, tetapi alasan di balik tindakan mereka tetap serius, mereka sedang berusaha bertahan hidup. Humor tidak menghilangkan persoalan yang dibicarakan film, tetapi membuat kritik terhadap sistem tersebut hadir melalui situasi yang tidak biasa.
Visual Lapas Labuhan Angsana juga terasa penting dalam membangun dunia film. Joko Anwar dan tim desain produksinya membangun set penjara dari nol dengan inspirasi dari Lapas Sukamiskin di Bandung. Ruangannya terasa sempit, gelap, sesak, dan terisolasi. Penonton seperti tidak pernah benar-benar diberi ruang untuk merasa nyaman, sama seperti para karakter yang hidup di dalamnya.
Adegan kematian menjadi salah satu bagian visual yang paling menonjol. Gore ditampilkan secara brutal melalui darah dan tubuh yang rusak, tetapi tetap memiliki perhatian terhadap komposisi gambar. Pencahayaan, warna yang cenderung gelap, dan ruang yang sempit membuat adegan-adegan tersebut terasa semakin tidak nyaman. Brutal bukan berarti asal-asalan, beberapa adegannya bahkan dapat terasa seperti karya visual yang memang sengaja dikomposisikan untuk menghasilkan bentuk dengan makna tertentu.
Tidak hanya melalui gambar, musik dalam film juga memainkan peran untuk membangun suasana. Cicak-Cicak di Dinding, lagu anak-anak yang akrab bagi banyak orang, diaransemen ulang dengan nuansa horor. Lagu yang seharusnya ringan kemudian berubah menjadi sesuatu yang membuat tidak nyaman ketika ditempatkan dalam konteks yang berbeda.
Permainan kontras itu juga muncul menjelang kredit melalui “Tonight You Belong to Me”. Setelah penonton melewati kematian, kekerasan, dan ketegangan di dalam lapas, lagu dengan melodi yang manis tetapi memberikan perasaan tidak nyaman yang membuat bulu roma berdiri.
Meskipun persoalan yang dibangun sepanjang film sebenarnya besar, tetapi penyelesaiannya terasa lebih sederhana dibandingkan kompleksitas masalah yang sejak awal ditampilkan. Setelah membawa penonton melihat kekuasaan, kekerasan, dan ketidakadilan, film seolah harus bergegas menyelesaikan semuanya dalam ruang yang terbatas. Bagi sebagian orang, beberapa persoalan dalam film yang sebelumnya dianggap penting tidak mendapatkan ruang yang sama kuat untuk diselesaikan.
Di luar ceritanya, Ghost in the Cell juga mencatat pencapaian sebelum ditayangkan di Indonesia. Hak distribusinya telah dibeli oleh distributor dari 86 negara. Film ini membawa persoalan yang sangat dekat dengan realitas Indonesia, tetapi tema mengenai kekuasaan, korupsi, dan ketidakadilan membuatnya tetap relevan untuk penonton di luar konteks tersebut.
Penjara dalam Ghost in the Cell menjadi miniatur kecil dari sebuah society, ketika ketidakadilan ditelan setiap hari, lalu dimuntahkan kembali dalam bentuk kekerasan kepada yang lain. Bahkan ketika yang bersalah hendak dihukum, korban yang tidak bersalah tetap ikut berjatuhan. Di tempat seperti ini, hukum tajam ke bawah, tumpul ke atas benar adanya, dan keadilan terasa seperti komedi belaka.
Redaktur: Siti Farhatun Nafis Azhari
Leave a comment