Oleh: Theresa Melyasari
Suara USU, Medan. Perjalanan terbaik bukanlah tentang seberapa cepat kita sampai di tujuan, melainkan tentang siapa yang duduk di samping kita saat badai menerjang. Lewat The First Ride, penonton diajak menyelami makna persahabatan yang tulus, yang tidak hanya diuji ketika bersama-sama merayakan tawa, tetapi juga ketika tiba waktunya untuk belajar melepaskan dengan ikhlas.
Film The First Ride membawa penonton ke dalam kisah empat orang sahabat yang telah berteman selama lebih dari 15 tahun, sejak taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas. Disutradarai oleh Nam Dae-joong, film ini pada awalnya tampak seperti komedi perjalanan tentang empat sahabat masa kecil yang akhirnya berhasil mewujudkan impian untuk bepergian bersama ke Thailand. Tae-jung, Do-jin, Yeon-min, dan Geum-bok memiliki sebuah janji sederhana sejak remaja: melakukan perjalanan bersama ke luar negeri.
Namun, semakin jauh perjalanan berlangsung, penonton mulai menyadari bahwa The First Ride bukan semata-mata tentang perjalanan menuju Thailand. Perjalanan tersebut justru menjadi perjalanan emosional untuk menghadapi masa lalu, kehilangan, dan kenyataan yang selama bertahun-tahun berusaha disangkal.
Pada menit-menit awal, film ini menghadirkan banyak adegan yang memicu gelak tawa penonton. Tingkah kocak Do-jin, Geum-bok, dan Tae-jung membuat perjalanan mereka tampak seperti liburan bersama sahabat pada umumnya. Namun, seiring berjalannya cerita, kejanggalan mulai terasa. Yeon-min ternyata tidak benar-benar ikut dalam perjalanan mereka ke Thailand.
Ketidakhadiran Yeon-min pada awalnya dijelaskan secara sederhana: ia sedang berada di Selandia Baru untuk melanjutkan pendidikan. Kehadiran Yeon-min kemudian digantikan oleh sebuah bantal bergambar dirinya yang dibawa Do-jin sepanjang perjalanan. Di balik tingkah Do-jin yang lucu karena berbicara dan memperlakukan bantal tersebut layaknya seorang sahabat, tersimpan luka yang sangat dalam.
Seiring berjalannya film, terungkap kenyataan yang mengubah cara penonton memandang seluruh cerita. Yeon-min ternyata telah meninggal dalam kecelakaan ketika mereka hendak melakukan perjalanan pertama ke Thailand. Kematian Yeon-min bukan sekadar kejutan dalam film, melainkan pusat dari luka yang selama ini dibawa Do-jin, seorang sahabat yang sangat menyayanginya.
Do-jin belum mampu menerima kenyataan pahit bahwa sahabatnya telah pergi. Ia masih menyimpan barang-barang yang mengingatkannya kepada Yeon-min, masih berbicara kepadanya, dan berusaha mempertahankan seolah-olah sahabatnya itu masih berada di sampingnya. Rasa bersalah karena merasa gagal menyelamatkan Yeon-min membuatnya semakin sulit melepaskan masa lalu. Perasaan tersebut bahkan membuat kondisi psikologis Do-jin terganggu akibat tekanan yang berlebihan. Bagian ini semakin membuat perasaan penonton menjadi campur aduk.
Di titik inilah film tersebut mengalami perubahan makna. Apa yang awalnya terlihat sebagai kelucuan ternyata merupakan bentuk seseorang dalam menghadapi kehilangan. Salah satu hal paling menyentuh dari The First Ride adalah bagaimana film ini menggambarkan bahwa kehilangan seseorang tidak selalu berarti kita harus berhenti mencintainya.
Do-jin menunjukkan bahwa terkadang manusia begitu takut kehilangan kenangan hingga memilih untuk hidup di dalamnya. Ia mempertahankan sosok Yeon-min karena melepaskannya terasa seperti mengakui bahwa sahabatnya benar-benar telah tiada. Padahal, merelakan bukan berarti menghapus seseorang dari kehidupan kita.
Menariknya, The First Ride tidak hanya berbicara tentang bagaimana menerima kepergian seseorang. Film ini juga memperlihatkan bahwa kehidupan perlahan menghadirkan orang-orang baru. Kehadiran Ok-sim menjadi salah satu contohnya. Ia awalnya bukan bagian dari persahabatan keempat tokoh tersebut. Kehadirannya pun tidak serta-merta menghapus posisi Yeon-min. Justru di situlah pesan film terasa penting: orang baru tidak harus menjadi pengganti orang lama.
Film ini diakhiri dengan manis dan menyentuh hati. Setelah kembali ke Korea Selatan, Tae-jung, Do-jin, dan Geum-bok melakukan ziarah ke makam Yeon-min. Pada akhirnya, ketiga sahabat tersebut mampu merelakan dan mengikhlaskan kepergian Yeon-min. Duka yang selama ini terpendam perlahan dapat mereka lepaskan dengan hati yang lebih lapang.
Setiap manusia memiliki tempatnya sendiri dalam hidup kita. Sahabat yang telah pergi meninggalkan kenangan dan cerita yang tidak dapat digantikan oleh siapa pun. Menerima kehadiran orang baru bukan berarti mengkhianati kenangan tentang seseorang yang telah pergi. The First Ride mengajarkan bahwa hidup adalah tentang perjumpaan dan perpisahan, sementara keikhlasan menjadi jalan untuk berdamai dengan keduanya.
Redaktur: Lucy Kezi Simarmata
Leave a comment