Oleh: Laura Nike Lakeisha Hutagaol, Novita Rezeki, Thalita Safira Fortuna Dalimunthe, Chelse Nanda Febiola Sihotang, Rifky Fahrezi, Wilman Unedo Manurung, Angger Satriyo Angkoso, dan Thessalonika Berliani Simangunsong
Suara USU, Medan. Kerja kelompok seharusnya menjadi ruang bagi mahasiswa untuk saling berbagi tugas, bertukar pikiran, dan menyelesaikan pekerjaan bersama. Namun, dalam praktiknya, beban tersebut tidak selalu terbagi secara merata. Ada anggota yang harus mengerjakan sebagian besar tugas, sementara anggota lainnya minim kontribusi, tetapi tetap memperoleh nilai yang sama. Perilaku ini dikenal sebagai free rider dan menjadi salah satu persoalan yang kerap muncul dalam kerja kelompok mahasiswa.
Fenomena tersebut tergambar dalam survei terhadap 54 mahasiswa lintas fakultas di Universitas Sumatera Utara (USU).Seluruh responden (100%) mengaku pernah mengalami atau menyaksikan langsung anggota kelompok yang tidak berkontribusi. Sebagian besar responden berasal dari angkatan 2026, yaitu 40 orang atau 74,1%.
Hasil survei menunjukkan bahwa penyebab free rider tidak semata-mata berkaitan dengan sifat pribadi. Faktor sistem penilaian dan dosen memperoleh skor rata-rata tertinggi, yaitu 3,72 dari 5, dengan 62,5% responden menyetujuinya. Sebanyak 72,2% responden setuju bahwa ketiadaan sanksi menjadi salah satu faktor penyebab, sedangkan 70,4% menilai tidak adanya penilaian individu turut memengaruhi perilaku tersebut. Sementara itu, faktor kelompok memperoleh skor rata-rata 3,28 dan faktor individu 3,25, yang keduanya berada pada kategori sedang.
Wawancara dengan empat mahasiswa turut memperlihatkan sisi lain dari fenomena ini. Seluruh informan menyebut rasa malas atau sikap tidak peduli sebagai pemicu langsung. Rahel Friska Manalu, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik angkatan 2026, menilai bahwa dosen terkadang kurang memperhatikan kontribusi setiap anggota sehingga nilai diberikan secara merata. Ia juga menemukan anggota kelompok yang menyalin jawaban dari kecerdasan buatan menjelang tenggat pengumpulan tugas tanpa memahami materi yang dikerjakan.
Meski persoalan tersebut telah dialami banyak mahasiswa, tidak semua memilih untuk menegur atau melaporkan anggota yang tidak berkontribusi. Sebanyak 47,7% responden cenderung setuju untuk membiarkan perilaku free rider, sedangkan 64,8% setuju bahwa perilaku tersebut sudah sering terjadi sehingga banyak mahasiswa memilih tidak mempermasalahkannya. Temuan ini menunjukkan bahwa kebiasaan membiarkan anggota yang tidak bekerja berpotensi membuat perilaku tersebut semakin dianggap lumrah.
Padahal, diam tidak selalu menjadi pilihan pertama. Dinda Muti Sembiring, mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya angkatan 2021, mengaku pernah memberikan peringatan beserta konsekuensinya kepada anggota yang tidak bekerja. Jika anggota tersebut tetap tidak berkontribusi, ia memilih melaporkannya kepada dosen atau tidak mencantumkan namanya dalam tugas. Namun, ia merasa bahwa terus-menerus mengingatkan anggota yang tidak bertanggung jawab hanya menghabiskan tenaga. Akhirnya, anggota lain memilih mengambil alih pekerjaan agar tugas tetap selesai.
Putri Hutagaol, mahasiswa Fakultas Keperawatan angkatan 2024, menambahkan bahwa melaporkan anggota yang tidak berkontribusi dapat merepotkan dan berisiko menurunkan nilai seluruh kelompok. Situasi ini menempatkan mahasiswa dalam dilema: menegakkan keadilan dengan melaporkan anggota yang tidak bekerja atau mengambil alih tugas demi memastikan pekerjaan kelompok selesai.
Persoalan tersebut juga dapat dilihat melalui nilai-nilai Pancasila. Pemberian nilai yang sama tanpa mempertimbangkan kontribusi setiap anggota berkaitan dengan persoalan keadilan sebagaimana terkandung dalam sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, serta sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Sementara itu, lemahnya komunikasi dan kebiasaan memilih diam menunjukkan bahwa semangat gotong royong dalam sila ketiga, Persatuan Indonesia, masih perlu diperkuat dalam kehidupan akademik.
Untuk mengatasi persoalan ini, dosen dapat menerapkan penilaian individu sebagai pelengkap nilai kelompok, misalnya melalui evaluasi antarteman secara anonim. Jalur pelaporan yang aman juga diperlukan agar mahasiswa dapat menyampaikan masalah tanpa khawatir merugikan anggota lain yang telah bekerja. Di sisi lain, mahasiswa perlu menyepakati pembagian tugas dan tanggung jawab sejak awal, membangun komunikasi yang terbuka, serta berani menegur anggota yang tidak berkontribusi dengan cara yang baik. Langkah tersebut diharapkan dapat mencegah pembiaran sekaligus mendorong pembagian kerja yang lebih adil.
Meski demikian, temuan ini perlu dipahami sesuai dengan cakupan penelitian. Survei terhadap 54 responden dan wawancara dengan empat informan belum dapat mewakili seluruh mahasiswa USU. Hasil tersebut memberikan gambaran awal mengenai pengalaman mahasiswa dan faktor-faktor yang berkaitan dengan perilaku free rider dalam kerja kelompok.
Free rider mungkin tidak sepenuhnya hilang dari kerja kelompok. Namun, menyelesaikan tugas bersama bukan hanya tentang memastikan pekerjaan selesai, melainkan juga menjaga agar setiap anggota menjalankan tanggung jawabnya. Dari ruang kelas, mahasiswa dapat belajar bahwa kerja sama yang baik membutuhkan lebih dari sekadar pembagian tugas: diperlukan kejujuran, kepedulian, dan keberanian untuk memperjuangkan keadilan.
Artikel ini merupakan publikasi dari tugas mata kuliah Pendidikan Pancasila dengan dosen pengampu Dr. Onan Marakali Siregar, S.Sos., M.Si.
Redaktur: Erni Yuli Simatupang
Leave a comment