Oleh: Agnes Dhea Oktavia Sinaga
Suara USU, Medan. Duka adalah hal yang tidak pernah benar-benar selesai. Seseorang mungkin belajar menjalani hari-hari setelah kehilangan, tetapi bukan berarti beban tersebut mengecil seiring waktu. Realitas inilah yang diangkat secara apik dalam Journal with Witch (Ikoku Nikki), serial anime 13 episode produksi Studio Shuka yang diadaptasi dari manga karya Tomoko Yamashita. Ditayangkan secara perdana pada 4 Januari 2026 melalui platform Crunchyroll dan Netflix, anime ini menyoroti perjalanan Makio Kōdai, seorang novelis berusia 35 tahun yang terbiasa menyendiri, bersama keponakannya, Asa Takumi (15 tahun). Kehidupan keduanya berubah total di Tokyo saat Makio memutuskan menjadi wali Asa setelah kedua orang tua remaja tersebut tewas dalam kecelakaan tragis. Anime ini merekam bagaimana dua generasi belajar merajut hidup dan berproses bersama duka yang tersimpan di hati mereka.
Meski kehilangan menjadi titik awal cerita, Journal with Witch tidak menawarkan jawaban instan mengenai cara menghadapi duka. Anime ini justru memperlihatkan bagaimana roda kehidupan tetap harus berputar setelah tragedi terjadi. Asa tetap harus pergi ke sekolah, berinteraksi dengan kawan-kawannya, menemukan minat baru, dan menghadapi dinamika masa remaja. Sementara itu, Makio tetap berkutat dengan dunia penulisan. Di tengah rutinitas tersebut, keduanya berupaya memahami perubahan drastis dalam hidup mereka.
Hal yang menarik adalah bagaimana keduanya berduka dengan cara yang bertolak belakang. Asa menghadapi kehilangan kedua orang tuanya secara langsung. Kesedihan dan kesepian menjadi bagian dari kehidupan barunya, terlebih saat ia harus beradaptasi dengan lingkungan serta wali barunya. Asa tidak enggan menangis, berteriak, marah, maupun mengekspresikan rasa kesepiannya.
Duka Makio memiliki bentuk yang berbeda. Ia tidak digambarkan tenggelam dalam kesedihan setelah kematian kakaknya. Sebaliknya, kepergian sang kakak justru memicu Makio memikirkan ulang hubungan mereka yang selama ini tidak akur. Muncul pertanyaan mengenai makna hubungan tersebut, alasan mendasar mengapa mereka menjadi berjarak, dan bagaimana mengartikan hubungan itu setelah sang kakak tidak lagi bisa ditemui. Perbedaan ini menegaskan bahwa duka tidak memiliki satu bentuk baku; ada yang memprosesnya lewat tangisan, dan ada pula yang merenung lewat pertanyaan-pertanyaan yang belum usai.
Dinamika hubungan Makio dan Asa menjadi fondasi utama penceritaan. Sebagai novelis yang terbiasa hidup sendiri, Makio memproses segala sesuatu secara reflektif dan terbiasa mengamati lingkungan dari jarak aman. Cara komunikasinya cenderung kaku, sehingga ungkapan kepeduliannya sering kali terdengar dingin. Sebaliknya, Asa adalah remaja yang terbuka, berenergi, serta memiliki rasa ingin tahu tinggi. Perbedaan karakter ini tidak memaksa mereka untuk saling mengubah, melainkan belajar saling memahami Makio mengapresiasi keterbukaan Asa, sementara Asa menyerap cara pandang Makio yang lebih tenang.
Perkembangan karakter Asa juga terlihat saat ia mencoba menemukan identitas dirinya lewat musik. Ia bergabung dengan band sekolah dan memberanikan diri tampil di panggung. Sempat timbul keraguan apakah keinginannya untuk menjadi pusat perhatian adalah bentuk sifat egois. Namun, keraguan itu terjawab dalam salah satu dialog berkesan di Episode 13 (menit 14:48-14:57): “Tujuanku bernyanyi adalah didengar oleh temanku yang depresi dan dia merasa lebih baik.” Kalimat tersebut menegaskan bahwa dorongannya untuk tampil lahir dari keinginan tulus untuk menyampaikan pesan emosional kepada orang lain.
Secara teknis visual, Journal with Witch membawakan suasana kehidupan sehari-hari tanpa dramatisasi berlebihan. Penataan ruang di rumah Makio yang perlahan bertransformasi dari hunian personal menjadi ruang berbagi ditemani palet warna lembut yang memberi kesan tenang dan tidak terburu-buru. Narasi visualnya tidak mengandalkan dialog padat; ekspresi wajah, gestur kecil, dan keheningan sering kali lebih efektif menyuarakan kondisi batin para karakternya. Hal ini didukung oleh performa pengisi suara yang presisi, di mana intonasi Asa yang dinamis berpadu kontras dengan nada bicara Makio yang tenang dan terukur.
Pada akhirnya, Journal with Witch bukanlah kisah tentang cara melupakan kehilangan, melainkan tentang bagaimana seseorang tetap berjalan sembari merangkul duka tersebut. Menyambut Grief Awareness Month, serial ini menjadi pengingat yang menyentuh bahwa hadir dan mendampingi proses berduka seseorang tanpa menuntut mereka untuk cepat pulih adalah bentuk empati terbaik yang bisa kita berikan.
Redaktur: Rifatul Suaidah
Leave a comment