Home Tulisan Dari Sawah hingga UMKM, Pematang Johar Mengembangkan Potensi Lokal untuk Menggerakkan Ekonomi Masyarakat
Tulisan

Dari Sawah hingga UMKM, Pematang Johar Mengembangkan Potensi Lokal untuk Menggerakkan Ekonomi Masyarakat

Share

Oleh: Fahril Andi Pangeran, Alvina Damayanti, Annisa Fadhilah, Putri Anantasia Ramadani, Salsabila, Vanissa Azzahra Sinaga, Riska Wika Yanti

Pematang Johar, Deli Serdang. Hamparan persawahan menjadi salah satu ciri yang melekat pada Desa Pematang Johar, Kecamatan Labuhan Deli, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Selain menjadi sumber mata pencaharian masyarakat, kawasan persawahan juga pernah dikembangkan menjadi potensi pariwisata melalui Wisata Sawah yang sempat menarik perhatian dan kunjungan masyarakat.

Kehadiran Wisata Sawah pada masanya tidak hanya memberikan ruang rekreasi bagi masyarakat, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi warga sekitar. Aktivitas wisata menciptakan ruang bagi kuliner, perdagangan, serta berbagai produk masyarakat untuk diperkenalkan kepada pengunjung. Persawahan yang sebelumnya lebih banyak dipandang sebagai ruang produksi pertanian kemudian memiliki nilai tambah sebagai daya tarik wisata dan penggerak aktivitas ekonomi desa.

Namun, geliat tersebut mengalami perubahan. Pandemi COVID-19 turut memengaruhi aktivitas dan jumlah kunjungan wisata. Berdasarkan hasil observasi lapangan yang dilakukan dalam kajian mengenai potensi lokal Desa Pematang Johar, Wisata Sawah saat ini sudah ditutup dan masih dalam tahap perbaikan kembali. Kondisi ini menunjukkan bahwa salah satu potensi ekonomi yang sebelumnya berkembang melalui sektor pariwisata belum kembali berjalan seperti sebelumnya.

Meski aktivitas wisata mengalami penurunan, perekonomian masyarakat Pematang Johar tidak sepenuhnya berhenti. Di tengah perubahan tersebut, masyarakat masih memiliki berbagai potensi ekonomi yang berasal dari usaha mandiri, khususnya melalui Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta industri rumah tangga.

Berbagai produk makanan ringan, keripik, tempe, dan olahan lainnya menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat. Salah satu usaha yang berkembang adalah produksi keripik ubi. Berdasarkan hasil wawancara yang tercantum dalam kajian tersebut, keripik ubi diproduksi sekitar tiga kali dalam seminggu dengan bahan baku yang diperoleh dari agen setempat. Produk tersebut tersedia dalam beberapa ukuran dan telah dipasarkan tidak hanya kepada masyarakat sekitar, tetapi juga melalui pemesanan secara daring.

Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa UMKM memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan pola ekonomi masyarakat. Jika sebelumnya keberadaan wisata dapat menjadi salah satu ruang untuk memperkenalkan produk lokal secara langsung kepada pengunjung, pemasaran digital kini memberikan peluang bagi pelaku usaha untuk menjangkau konsumen tanpa harus bergantung sepenuhnya pada aktivitas wisata.

Selain usaha makanan, Pematang Johar juga memiliki produk kerajinan yang mengangkat karakteristik lokal, salah satunya Batik Sawah. Produk tersebut dikembangkan di Dusun IX A dan menggunakan motif yang terinspirasi dari lingkungan persawahan, seperti sawah, bunga, daun, dan burung. Penggunaan pewarna alami, termasuk pemanfaatan bahan dari limbah kayu mangrove, menjadi salah satu karakteristik dalam proses produksinya.

Keberadaan produk-produk tersebut menunjukkan bahwa potensi lokal tidak selalu harus diwujudkan dalam bentuk destinasi wisata. Sumber daya yang dimiliki masyarakat juga dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi, budaya, dan identitas. Dalam konteks Pematang Johar, lingkungan persawahan tidak hanya menjadi pemandangan, tetapi juga dapat menjadi inspirasi bagi produk dan kegiatan ekonomi masyarakat.

Meski demikian, perkembangan UMKM di Pematang Johar masih menghadapi tantangan. Berdasarkan keterangan dalam kajian, sebagian besar produk UMKM masih memiliki jangkauan pemasaran yang terbatas dan belum mampu menembus pasar yang lebih luas. Beberapa produk telah berkembang lebih jauh, tetapi secara umum pelaku usaha masih membutuhkan dukungan dalam memperluas pemasaran dan meningkatkan daya saing produk.

Karena itu, pengembangan UMKM tidak cukup hanya dengan mempertahankan keberadaan usaha yang sudah ada. Pelaku usaha juga membutuhkan peningkatan kemampuan dalam pengelolaan usaha, pencatatan keuangan, inovasi produk, pengemasan, serta pemanfaatan media digital sebagai sarana promosi dan pemasaran. Langkah tersebut dapat membantu produk lokal Pematang Johar keluar dari pasar yang terbatas dan menjangkau konsumen yang lebih luas.

Upaya tersebut juga dapat didukung melalui keberadaan BUMDes Johar Mandiri Jaya. BUMDes yang berdiri sejak 2017 ini memiliki sejumlah unit usaha, seperti WiFi atau hotspot, ATK, fotokopi, BRI Link, PPOB, hingga Batik Sawah. Keberadaan BUMDes menjadi salah satu bentuk kelembagaan ekonomi desa yang dapat menghubungkan potensi masyarakat dengan kegiatan ekonomi yang lebih terorganisasi.

Perkembangan teknologi juga memberikan peluang baru bagi masyarakat. Keberadaan WiFi desa dengan sekitar 200 pelanggan menunjukkan bahwa akses internet telah menjadi bagian dari kehidupan ekonomi masyarakat. Internet tidak hanya dapat digunakan untuk kebutuhan komunikasi, tetapi juga dapat dimanfaatkan pelaku UMKM untuk mempromosikan produk, menerima pesanan, dan membangun pasar di luar wilayah desa.

Dengan demikian, kondisi Pematang Johar memperlihatkan adanya perubahan dalam cara masyarakat memanfaatkan potensi lokal. Ketika Wisata Sawah yang dahulu menjadi salah satu daya tarik ekonomi belum kembali beroperasi seperti sebelumnya, masyarakat masih memiliki berbagai sumber daya yang dapat dikembangkan melalui UMKM dan usaha mandiri.

Potensi tersebut perlu mendapat dukungan agar tidak berhenti pada skala usaha rumah tangga. Pemerintah desa, BUMDes, masyarakat, dan pihak terkait dapat mengambil peran melalui pendampingan, pelatihan, peningkatan kualitas produk, penguatan pengelolaan usaha, serta perluasan pemasaran. Dengan dukungan tersebut, UMKM dapat menjadi salah satu kekuatan ekonomi yang tumbuh dari masyarakat sendiri.

Pada akhirnya, kekuatan Pematang Johar tidak hanya terletak pada luasnya persawahan atau keberadaan sebuah destinasi wisata. Kekuatan tersebut juga terlihat dari kemampuan masyarakat dalam mengolah potensi yang dimiliki menjadi sumber penghidupan. Dari hasil pertanian, produk olahan pangan, kerajinan, hingga pemanfaatan teknologi digital, berbagai aktivitas tersebut menunjukkan bahwa ekonomi lokal masih memiliki ruang untuk berkembang.

Ketika Wisata Sawah belum kembali pada masa ramainya, bukan berarti potensi ekonomi Pematang Johar ikut berhenti. Justru melalui UMKM dan kreativitas masyarakat, potensi lokal dapat terus dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi yang lebih mandiri dan berkelanjutan.

Artikel ini adalah publikasi tugas Mata Kuliah Dinamika Masyarakat Pedesaan dengan Dosen Pengampu Dra. Berlianti, M.SP.

Redaktur: Muhassanah Nasution

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.