Home Tulisan Saat Tren Berganti, Limbah Pakaian Bertambah
Tulisan

Saat Tren Berganti, Limbah Pakaian Bertambah

Share

Oleh: Veronika Ariloti dan Aura Qathrunnada Gultom

Kita mungkin sering berkata, “Duh, aku enggak punya baju lagi untuk jalan-jalan,” padahal pakaian di lemari sudah menumpuk. Sebagian masih sering digunakan, tetapi sebagian lainnya hanya tersimpan karena sudah jarang atau tidak pernah dikenakan lagi. Jika tidak dikelola dengan baik, pakaian tersebut dapat menjadi limbah.

Yuli Efriani, pendiri Komunitas Lingkungan Seabolga, menjelaskan bahwa pakaian yang sudah tidak digunakan masih banyak ditemukan di rumah dan belum tentu langsung menjadi sampah. Menurutnya, seseorang bisa memiliki sekitar 10 hingga 15 potong pakaian yang tidak lagi terpakai. Pakaian tersebut biasanya hanya disimpan di lemari dan dibiarkan begitu saja.

Salah satu hal yang ikut mendorong bertambahnya limbah pakaian adalah fast fashion. Qothrun Nada Ma’ruf Batubara, M.Pd.T., dosen tata busana, menjelaskan bahwa fast fashion merupakan pakaian yang diproduksi dengan cepat untuk mengikuti tren. Harganya yang relatif murah juga membuat pakaian tersebut lebih mudah dibeli.

Proses produksi yang cepat memungkinkan pakaian dibuat dalam jumlah banyak. Modelnya pun terus berganti mengikuti tren, sehingga pakaian yang masih layak digunakan bisa lebih cepat tersisih dari lemari. Besarnya persoalan limbah pakaian terlihat dari data yang dikutip Citarum Harum dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) pada 2021. Indonesia disebut menghasilkan sekitar 2,3 juta ton limbah pakaian atau setara dengan 12 persen dari limbah rumah tangga. Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 0,3 juta ton yang dapat didaur ulang.

Nada Ma’ruf menjelaskan bahwa keputusan membeli pakaian dipengaruhi keinginan mengikuti tren, rasa takut ketinggalan atau fear of missing out (FOMO), serta faktor ekonomi karena harga yang lebih terjangkau. Media sosial juga ikut memengaruhi kebiasaan tersebut. Ketika melihat influencer mengenakan pakaian tertentu, seseorang bisa terdorong untuk memiliki pakaian serupa. Akibatnya, pakaian yang awalnya dibeli untuk memenuhi kebutuhan berisiko hanya tersimpan di lemari dan akhirnya menjadi limbah.

Ketika pakaian tidak lagi digunakan, persoalannya tidak berhenti pada ruang yang terpakai di lemari. Proses produksi, pencucian, hingga pembuangannya dapat berdampak pada lingkungan. Salah satunya berkaitan dengan penggunaan pewarna tekstil. Dalam proses pembuatan kain, warna dapat berasal dari bahan alami maupun sintetis. Sisa pewarna yang terbawa air pencucian berpotensi mencemari lingkungan jika tidak dikelola dengan baik.

Nada Ma’ruf menjelaskan bahwa pewarna alami biasanya berasal dari tumbuhan, seperti daun dan kayu, tetapi prosesnya membutuhkan waktu lebih lama. “Warna kain itu memang ada alami dan ada juga yang sintetis. Kalau yang alami itu memang daun-daun, kayu dan yang memang berasal dari tumbuhan, tapi proses ini memakan waktu lebih lama,” jelasnya. Sementara itu, pewarna sintetis juga dapat meninggalkan sisa dalam air pencucian. “Seperti batik dengan warna sintetis, warna sintetis ini jadi luntur, sisa air cuciannya dapat menjadi limbah,” lanjutnya.

Persoalan lain muncul ketika pakaian dibuang atau dibakar. Sebagian jenis kain membutuhkan waktu lebih lama untuk terurai di lingkungan. Dermawan Pakpahan, M.Pd., dosen tata busana sekaligus fashion designer, menjelaskan perbedaan karakter kain dan limbah makanan. “Kalau makanan kita buang, dia akan hancur. Beda dengan kain. Kalau kain dibuang ke tanah, dia akan makin tebal,” ujarnya. Pembakaran pakaian, terutama yang mengandung bahan sintetis, juga dapat menghasilkan asap. Yuli Efriani menambahkan bahwa proses produksi pakaian membutuhkan banyak air. “Karena untuk membuat satu pakaian, kita juga membutuhkan banyak air dalam proses pembuatannya, dalam proses industri,” ungkapnya.

Salah satu bahan yang perlu mendapat perhatian adalah poliester, bahan sintetis yang banyak digunakan dalam pakaian sehari-hari. Artikel Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) Universitas Airlangga menyebutkan bahwa produsen meningkatkan penggunaan bahan sintetis seperti poliester karena biaya produksinya lebih rendah. Namun, bahan ini sulit terurai setelah menjadi limbah.

Dermawan menjelaskan bahwa poliester termasuk bahan yang sulit terurai. “Sebenarnya terurainya poliester itu sangat tidak gampang terurai. Itu yang paling tidak ramah,” jelasnya. Persoalan poliester juga muncul saat pakaian dicuci. Serat-serat kecil dapat terlepas dari kain dan terbawa bersama air. FTMM Universitas Airlangga menyebutkan bahwa sekitar 49–70 persen mikroplastik dalam air limbah berbentuk serat tekstil.

Yuli Efriani juga menyoroti pelepasan serat mikroplastik dari pakaian berbahan poliester saat dicuci. Serat tersebut dapat terbawa menuju ekosistem perairan dan tertelan organisme, termasuk ikan. Jika ikan yang terpapar dikonsumsi manusia, partikel tersebut berpotensi berpindah melalui rantai makanan. FTMM Universitas Airlangga juga menyebutkan bahwa sekitar 85 persen produk tekstil setiap tahunnya berakhir di tempat pembuangan sampah. Sementara itu, pembakaran pakaian yang mengandung poliester dapat menimbulkan asap. Dermawan menjelaskan, “Kalau dia cenderung banyak kayak plastik, kan kita tahu plastik dibakar itu kan meleleh. Terus bakarannya itu kepulan asapnya hitam. Itu dia pasti banyak dengan poliester,” ujarnya.

Ketika pakaian mulai jarang dikenakan, membuangnya bukan satu-satunya pilihan. Pakaian yang masih dapat dimanfaatkan bisa dialihfungsikan menjadi barang lain, seperti tas. Upaya ini termasuk penggunaan kembali (reuse) atau daur ulang (recycle), bergantung pada proses pengolahannya.

Menurut Nada Ma’ruf, sisa kain dari proses menjahit juga masih dapat dimanfaatkan melalui teknik patchwork, yaitu menyatukan potongan-potongan kain kecil. “Kalau misalnya sisa menjahit, misalnya sisa yang gede, kain-kainnya tuh udah selesai, tidak terpakai, tapi kan nggak bisa jadi baju juga karena ukurannya udah kecil-kecil. Nah, patchwork itu dibentuk dengan yang kecil-kecil, kayak 10×10, nanti disatu-satukan,” jelas Nada. Potongan kain tersebut dapat disusun menjadi selimut, keset, atau produk rumah tangga lainnya.

Upaya mengurangi limbah pakaian juga dapat dimulai sebelum pakaian dibeli. Nada Ma’ruf mengatakan bahwa konsumen perlu mengendalikan keinginan agar tidak mudah terbawa tren. “Sebagai masyarakat tuh, membeli sesuai kebutuhan, jadi dia punya self-control-nya, untuk tidak tergiur, atau FOMO, dengan apa yang lagi happening sekarang,” ujarnya.

Membeli pakaian sesuai kebutuhan dan menggunakannya selama mungkin dapat memperpanjang masa pakainya. Jika sudah tidak dapat dikenakan, pakaian bisa dimanfaatkan kembali atau diolah menjadi barang lain sebelum dibuang. Mengurangi limbah pakaian dapat dimulai dari langkah sederhana: lebih bijak saat membeli, menggunakan kembali pakaian, serta memanfaatkan sisa kain. Sebelum menjadi sampah, pakaian masih memiliki kesempatan untuk diberi kehidupan kedua.

Artikel ini merupakan publikasi tugas Mata Kuliah Menulis Feature dan Editorial Program dengan Dosen Pengampu Sofiari Ananda SlKom, MlKom

Redaktur: Siti Farhatun Nafis Azhari

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.