Oleh: Ruth Jelita Laia
Film Moana versi live action akhirnya resmi hadir di layar lebar dan langsung menjadi bahan perbincangan di kalangan penonton maupun kritikus. Adaptasi terbaru Disney ini menuai respons yang beragam. Di satu sisi, film tersebut mendapat apresiasi karena mampu menghadirkan visual yang memukau serta tetap mempertahankan semangat cerita aslinya. Namun di sisi lain, tidak sedikit kritik yang menyebut film ini gagal menawarkan pengalaman baru karena terlalu setia mengikuti versi animasi yang dirilis pada 2016.
Sejumlah kritikus menilai Moana live action lebih menyerupai salinan dari film animasinya daripada sebuah adaptasi yang memberikan perspektif baru. Alur cerita, dialog, hingga beberapa adegan ikonik dibuat hampir identik dengan versi sebelumnya. Kesamaan tersebut memang membangkitkan nostalgia bagi penggemar lama, tetapi juga memunculkan anggapan bahwa Disney bermain terlalu aman dan enggan mengambil langkah kreatif dalam mengembangkan kisah tersebut.
Akibatnya, sebagian pengulas menilai film ini terasa kurang memiliki identitas tersendiri. Meskipun didukung teknologi visual yang lebih realistis, banyak yang berpendapat bahwa nuansa emosional dan daya tarik yang membuat versi animasi begitu berkesan belum sepenuhnya berhasil diterjemahkan ke dalam format live action. Beberapa kritikus bahkan menyebut adaptasi ini sebagai tontonan yang indah secara visual, tetapi tidak memberikan nilai tambah yang signifikan dibanding karya aslinya.
Perdebatan mengenai film ini sebenarnya sudah muncul sejak Disney pertama kali mengumumkan proyek remake Moana. Banyak penggemar mempertanyakan keputusanstudio tersebut mengadaptasi film yang usianya belum terlalu lama dan masih memilikipopularitas tinggi. Berbeda dengan remake Disney lainnya yang mengangkat film-film klasikberusia puluhan tahun, Moana dianggap masih relevan sehingga dinilai belum membutuhkanversi live action.
Kritik tersebut kemudian berkembang menjadi pembahasan yang lebih luas mengenai strategi Disney dalam beberapa tahun terakhir. Sebagian kalangan menilai perusahaan tersebutsemakin bergantung pada remake sebagai cara mempertahankan kesuksesan komersial, dibanding menghadirkan cerita-cerita orisinal yang benar-benar baru. Meski strategi tersebutterbukti mampu menarik perhatian publik, tidak sedikit penonton yang berharap Disney kembali berani mengeksplorasi ide-ide segar.
Selain persoalan remake, representasi budaya Polinesia kembali menjadi perhatian. Sebagaifilm yang terinspirasi dari tradisi masyarakat Kepulauan Pasifik, Moana membawa tanggung jawab besar dalam menampilkan budaya tersebut secara akurat. Disney memang kembali melibatkan aktor dan kreator yang memiliki latar belakang Pasifik, termasuk Catherine Laga’aia sebagai Moana dan Dwayne Johnson sebagai Maui. Bila kita telisik, karakter Moana sangat berkaitan erat dengan latar belakang keluarganya yang berasal dari kepulauan Pasifik. Kakeknya berasal dari Fa’aala, Palauli, di Savai’i, sedangkan sang nenek berasal dari Leulumoega Tuai di pulau utama ‘Upolu di Samoa. Langkah ini dipandang sebagai bentukkomitmen studio dalam menjaga representasi budaya.
Meski demikian, karakter Maui tetap memunculkan diskusi di kalangan masyarakatPolinesia. Sejak versi animasi dirilis, sebagian pihak menilai penggambaran Maui lebihmenonjolkan sisi humor dibanding makna spiritual yang melekat pada sosok tersebut dalammitologi Polinesia. Karena itu, kehadiran versi live action kembali memunculkan pertanyaan mengenai sejauh mana sebuah adaptasi dapat melakukan penyesuaian kreatif tanpamengurangi penghormatan terhadap budaya yang menjadi sumber inspirasinya.
Di tengah berbagai kritik tersebut, banyak penonton tetap mengapresiasi kualitas produksi film ini. Sinematografi, efek visual, desain kostum, serta lanskap Kepulauan Pasifik dinilai berhasil menciptakan pengalaman sinematik yang memanjakan mata. Lagu-lagu yang telah melekat di ingatan penggemar juga kembali dihadirkan sehingga memperkuat nuansa nostalgia yang menjadi daya tarik utama film.
Perbedaan pendapat antara kritikus dan penonton menunjukkan bahwa Moana live action menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Adaptasi sebuah film populer bukan hanya soal menghadirkan cerita lama dengan teknologi baru, tetapi juga tentang memberikan alasan yang kuat mengapa kisah tersebut perlu diceritakan kembali. Bagi sebagian orang, kesetiaan terhadap versi animasi merupakan kelebihan. Namun bagi yang lain, justru itulah kelemahan terbesar film ini karena dianggap gagal menawarkan sesuatu yang benar-benar berbeda.
Pada akhirnya, Moana live action menjadi bukti bahwa setiap remake Disney akan selalu membawa dua sisi yang sulit dipisahkan, nostalgia yang memikat sekaligus ekspektasi tinggi yang tidak mudah dipenuhi. Terlepas dari berbagai kontroversi yang menyertainya, film ini kembali membuka diskusi mengenai batas antara mempertahankan warisan sebuah karya dengan keberanian untuk menciptakan interpretasi baru yang lebih segar.
Redaktur: Emia Timentha Tarigan
Leave a comment