Home Musik Bingkai Kelam Dinamika Sosial Anak Muda Lewat Lagu Ouroboros Karya .Feast
Musik

Bingkai Kelam Dinamika Sosial Anak Muda Lewat Lagu Ouroboros Karya .Feast

Share

Oleh: Dhita Luna

Suara USU, Medan. Grup rock alternatif asal Jakarta, .Feast, rasanya tidak pernah kehabisan akal untuk menerjemahkan realitas ke dalam musik. Jika selama ini mereka bersuara lantang soal isu sosial dan politik makro, Ouroboros justru hadir menawarkan sesuatu yang berbeda. Lewat lagu ini, mereka menyentil isu yang jauh lebih personal dan lekat dengan keseharian anak muda, yakni lingkaran pertemanan. Mengambil filosofi dari mitologi kuno tentang ular yang memakan ekornya sendiri, lagu ini menggambarkan siklus pertemanan toksik yang penuh intrik, tipu daya, dan perlahan saling menghancurkan dari dalam.

Soal racikan musik, .Feast tampil lepas dan ugal-ugalan. Mereka mempertahankan corak musik yang mendalam, agresif, dan berani untuk membangun nuansa konflik yang padat. Bagian awal hingga pertengahan lagu, menghadirkan nuansa yang mendalam dengan melodi piano yang diiringi dengan vokal Baskara Putra yang sinis dan lugas, membuat pendengar dapat merasakan langsung emosi kemarahan bercampur muak yang ingin disampaikan. 

Semenatara itu, bagian akhir lagu menyajikan hentakan instrumen yang cukup kuat, seakan mewakili riuhnya isi kepala seseorang saat menyadari dirinya baru saja dikhianati oleh teman terdekatnya. Instrumen musik Ouroboros bukan sekadar pamer teknik, melainkan bentuk katarsis dari rasa lelah menghadapi orang-orang bermuka dua.

Berbicara soal lirik, lagu ini adalah sindiran telak bagi ekosistem pertemanan yang manipulatif. Metafora ular memakan ekornya sendiri menjadi terjemahan paling pas untuk menggambarkan ironi “teman makan teman”. .Feast menyoroti bagaimana sebuah perkawanan yang awalnya solid bisa membusuk hanya karena ego, persaingan diam-diam, hingga kebiasaan saling sikut di belakang layar. Lirik-lirik satirnya menyuarakan kemuakan terhadap mereka yang gemar mencari muka, menebar rumor, dan rela menjatuhkan teman sendiri demi panggung pribadi. Ular itu terus berputar, sama halnya dengan tongkrongan yang pada akhirnya hancur karena perilaku saling menggunting dalam lipatan.

Seakan kami tak pernah dewasa

Seakan tangismu tanpa saksi mata

Kau samakan ku dengan tokoh fiksi

Tak sadar kau gigit ekor sendiri 

Bait ini dengan tajam membongkar tabiat seorang manipulator dalam sebuah lingkaran sosial. Mereka kerap memutarbalikkan fakta atau berlagak menjadi korban, tanpa sadar bahwa sikap tersebutlah yang merusak segalanya. Kalimat “gigit ekor sendiri” menegaskan pesan lagu ini, bahwa mereka yang gemar menebar intrik pada akhirnya hanya akan menghancurkan reputasi mereka sendiri. 

Bagi kehidupan mahasiswa, isu semacam ini tentu sangat relevan. Di tengah fase pencarian jati diri dan tingginya gesekan politik dalam organisasi kampus, kita kerap dihadapkan pada kenyataan pahit bahwa tidak semua teman yang tertawa satu meja memiliki niat yang lurus. Ouroboros seolah mengajak pendengarnya untuk berhenti mewajarkan hal tersebut. Lagu ini memantik kita untuk berani memutus siklus pergaulan yang tidak sehat. Saat diputar kencang-kencang di kamar indekos, ia tidak hanya enak dipakai menganggukkan kepala, tetapi juga memaksa kita merenungkan ulang siapa saja orang yang pantas dipertahankan dalam hidup.

Kau tenggelam jauh

Maka aku pergi

Kawan sampai nanti oh-oh 

Sikap tegas untuk memutus rantai pergaulan beracun disuarakan dengan gamblang pada penggalan menjelang akhir lagu ini. Dibanding ikut terseret masuk ke dalam drama yang merugikan, angkat kaki menjadi satu-satunya jalan keluar yang paling masuk akal. Lirik ini meyakinkan kita bahwa memilih pergi meninggalkan kawan yang terus-menerus membawa keracunan bukanlah wujud keegoisan, melainkan murni bentuk pertahanan dan penyelamatan diri. 

Di luar urusan musikalitas, lagu ini membawa pesan budaya yang kuat tentang bagaimana anak muda seharusnya memaknai relasi sosial. Di era ketika jumlah pengikut media sosial dan eksistensi pergaulan sering diagung-agungkan, .Feast datang mengingatkan bahwa kuantitas teman tidak bisa membeli kesetiaan. Siklus ular memakan ekor itu akan terus berulang, kecuali kita punya keberanian untuk melangkah pergi dari lingkaran tersebut.

Lewat karya ini, .Feast lagi-lagi membuktikan taringnya sebagai pencerita yang jujur tanpa banyak basa-basi. Ouroboros berdiri sebagai pengingat bahwa luka paling perih sering kali ditorehkan oleh orang-orang yang paling dekat dengan kita. Tembang ini sangat layak masuk ke daftar putar utama Anda, khususnya bagi siapa saja yang sedang dalam fase menyeleksi ulang lingkaran pertemanan demi menyelamatkan kewarasan pikiran.

Redaktur: Muhassanah Nasution

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.