Home Musik Tumbuhlah Jadi Samudra: Ketika Penyesalan Ayah Menjadi Doa untuk Sang Anak
Musik

Tumbuhlah Jadi Samudra: Ketika Penyesalan Ayah Menjadi Doa untuk Sang Anak

Share

 Oleh : Anastasyia Dwi T Sitinjak

Suara USU, Medan. Apa yang pertama kali terlintas ketika mendengar kata “samudra”? Lautan yang luas? Doa? Harapan? Atau sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata? Bagaimana jika samudra ternyata bukan sekadar tentang laut? Sambadha, personel band Coldiac, mencoba menjawabnya lewat lagu Tumbuhlah Jadi Samudra.

Lagu bergenre lo-fi yang dirilis pada 10 April 2026 ini menjadi bagian dari mini album Ruang Ruang Sandar, yang mengangkat cerita tentang keluarga, perjalanan pulang, dan kehangatan rumah. Dari segi aransemen, lagu ini bergerak perlahan, baik pada musik maupun melodinya. Dentuman drum yang santai berpadu dengan dentingan piano yang lembut, seolah mengajak pendengar mengintip ruang keluarga di malam yang sepi. Suasana lo-fi yang hangat ini berpadu sempurna dengan vokal Sambadha yang dibawakan dengan tenang namun sarat emosi, sehingga terasa sangat personal.

Tiap malam kau minta tidur bersama
Tapi tak banyak kukabulkanya
Maafkan jika dunia buatku sering duduk sendiri
Kejar ambisi

Bait pembuka menjadi potret penyesalan seorang ayah atas penolakan-penolakan kecil yang sering tidak disadari. Permintaan sederhana sang anak untuk tidur bersama menjadi simbol keakraban yang terabaikan akibat jarak, baik fisik maupun emosional. Kesan ini diperkuat melalui lirik “Maafkan jika dunia buatku sering duduk sendiri, kejar ambisi”, yang menggambarkan perjuangan serta keinginan untuk mengejar tujuan hidup dan perannya sebagai seorang ayah untuk anaknya.

Menariknya, refleksi tersebut kemudian berubah menjadi kesadaran bahwa waktu bersama anak tidak dapat diulang. Melalui   lirik
Kutahu tlah banyak yang hilang
Tak terasa kau sudah pandai bicara
Nanti kau kan tumbuh dewasa
Pasti tak mudah jadi yang pertama”

Sang ayah mengakui banyak momen yang telah terlewat, dan tanpa terasa anaknya sudah pandai bicara. Ia juga membayangkan beratnya menjadi anak pertama kelak saat dewasa. Dari sini, lagu memperlihatkan bukan hanya kasih sayang seorang ayah, tetapi juga rasa takut kehilangan kesempatan mendampingi anak bertumbuh.

Dari segi penulisan, Sambadha tidak memakai bahasa yang rumit. Liriknya sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari, sehingga maknanya mudah sampai kepada siapa saja yang mendengarkan. Tidak ada metafora yang berbelit, hanya kalimat-kalimat pendek yang terdengar seperti percakapan di ruang tamu. Justru dari kesederhanaan itulah lagu ini terasa jujur dan tidak dibuat-buat.

Selain mempertegas pesan tentang hubungan antara anak dan ayah, lagu tersebut juga berisi harapan sang ayah kepada anaknya untuk tumbuh menjadi Samudra. Melalui lirik,
Tumbuhlah jadi samudra
Jadi raksasa terkuat di dunia
Jadi permata terindah
Walau tak mudah nantinya.

Samudra dapat dimaknai sebagai simbol ketangguhan dan kelapangan dada. Sang ayah sadar bahwa dunia yang kelak dihadapi anaknya tidak selalu ramah. Karena itu, doa terbaiknya bukan sekadar agar sang anak belajar dan berkembang, melainkan agar ia tumbuh setangguh dan seluas samudra dalam menghadapi apa pun.

Setelah mendengarkannya, saya merasa lagu ini bukan hanya ditujukan kepada seorang anak, tetapi juga kepada siapa pun yang pernah merasa terlalu sibuk untuk pulang. Di tengah rutinitas yang menuntut kita terus bergerak, Sambadha justru mengajak berhenti sejenak dan menoleh ke belakang. Ajakan itu disampaikan tanpa menggurui, melainkan lewat pengakuan yang pelan dan apa adanya. Barangkali di situlah kekuatan lagu ini: ia tidak berusaha menjadi besar, tetapi justru terasa luas.

Dengan demikian, Tumbuhlah Jadi Samudra bukan hanya lagu tentang hubungan ayah dan anak, tetapi juga harapan sekaligus pengakuan jujur seorang ayah yang berusaha memberikan yang terbaik di tengah keterbatasannya.

Lagu ini pun bisa menjadi pelukan hangat sekaligus pengingat bagi siapa saja untuk lebih menghargai momen-momen sederhana bersama keluarga sebelum waktu berlalu terlalu jauh.

Redaktur : Naisya Husna Hafizahtul Salwa Anshari

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.