Home Musik “If You Could See Me Now”, Rindu yang Tak Pernah Sampai
Musik

“If You Could See Me Now”, Rindu yang Tak Pernah Sampai

Share

Oleh: Dinda Sri Aulia

Suara USU, Medan. Kehilangan seseorang yang dicintai adalah salah satu fase terberat dalam hidup. Waktu terus berjalan, dan muncul keinginan untuk berbagi cerita tentang kehidupan, pencapaian, hingga berbagai perubahan setelah kepergian mereka. Perasaan itulah yang menjadi inti lagu “If You Could See Me Now” dari The Script. Lagu ini membawa pendengar ke ruang kerinduan sekaligus membayangkan bagaimana perasaan orang-orang tercinta jika mereka masih bisa melihat kehidupan yang dijalani hari ini.

Dirilis pada 2012 sebagai bagian dari album ketiga mereka, lagu ini ditulis sebagai penghormatan kepada orang-orang terdekat yang telah berpulang, termasuk ayah sang vokalis Danny O’Donoghue dan ibu gitaris Mark Sheehan. Lewat lagu ini, The Script menggambarkan bagaimana kenangan dan kasih sayang terhadap orang yang telah pergi tetap melekat dalam perjalanan hidup seseorang.

Lagu dibuka dengan kenangan tentang hari ketika kehilangan terjadi, yang kemudian dipertemukan dengan kehidupan dan pencapaian sang tokoh setelahnya.

It was February 14, Valentine’s Day
The roses came, but they took you away

Dad, you should see the tours that I’m on
I see you standing there next to Mom

Bait ini menghadirkan ironi yang kuat. Hari yang identik dengan kasih sayang justru menjadi bagian dari kenangan tentang kehilangan. Perasaan itu makin terasa ketika pencapaian yang seharusnya membahagiakan harus dijalani tanpa kehadiran orang yang ingin melihatnya. Larik tentang perjalanan tur menggambarkan keinginan seorang anak untuk memperlihatkan pencapaiannya kepada sang ayah. Kesuksesan bermusik bukan hanya kebanggaan pribadi, tetapi juga sesuatu yang ingin dibagikan kepada orang yang dahulu memberi dukungan. Namun, keinginan itu berhadapan dengan kenyataan bahwa sang ayah tidak bisa lagi menyaksikannya secara langsung.

Di tengah rasa kehilangan, nasihat sang ayah tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya. Nasihat itu menunjukkan bagaimana musik dapat menjadi tempat untuk menuangkan berbagai perasaan.

Take that rage, put it on a page
Take the page to the stage
Blow the roof off the place”
I’m tryna make you proud

Bagi tokoh dalam lagu, pengalaman dan rasa sakit tidak dibiarkan begitu saja, tetapi diubah menjadi karya. Nasihat sang ayah pun tetap hidup lewat musik yang terus ia ciptakan. Larik ini menunjukkan bahwa pencapaian yang diraih bukan sekadar keberhasilan diri sendiri. Ada keinginan untuk membuktikan bahwa segala perjuangan yang dilalui memiliki arti. Meski sang ayah telah tiada, harapan untuk mendapat pengakuan dan kebanggaan darinya masih ada.

Kerinduan itu kembali terasa lewat kebiasaan mencari sosok yang telah pergi di tengah keramaian. Dari sini, lagu membawa pendengar pada pertanyaan yang lebih dalam tentang penerimaan.

I still look for your face in the crowd
Oh, if you could see me now
Would you stand in disgrace or take a bow?

Potongan lirik tersebut menggambarkan betapa kuatnya seseorang dapat melekat dalam ingatan. Meskipun secara sadar mengetahui bahwa orang tersebut sudah tidak ada, rasa rindu membuat sosoknya seolah masih dicari di antara banyak wajah. Pertanyaan tersebut menggambarkan keinginan untuk mengetahui bagaimana orang yang telah tiada akan menilai dirinya saat ini. Apakah mereka akan bangga, kecewa, atau justru memberikan dukungan seperti dahulu? Pertanyaan tersebut memperlihatkan bahwa pendapat orang tua tetap memiliki tempat khusus dalam kehidupan seorang anak, bahkan setelah mereka tidak lagi dapat memberikan jawaban.

The Script kemudian memperluas makna kehilangan melalui pengalaman yang dapat dirasakan banyak orang. Kehilangan seorang ayah, ibu, saudara, atau orang terdekat meninggalkan ruang kosong yang berbeda bagi setiap orang, tetapi memiliki satu kesamaan yaitu rasa rindu yang sulit dijelaskan.

So if you’ve lost a sister, someone’s lost a mom
And if you’ve lost a dad, then someone’s lost a son

Mom, dad, I’m just missing you now

Kemiripan wajah menjadi pengingat bahwa sebagian dari orang yang telah tiada masih bisa ditemukan dalam diri orang yang ditinggalkan. Bukan hanya lewat fisik, tetapi juga lewat nasihat, kebiasaan, nilai-nilai, dan kenangan yang terus dibawa dalam kehidupan sehari-hari.

Pada akhirnya, “If You Could See Me Now” bukan sekadar lagu tentang kesedihan setelah kehilangan. Lagu ini adalah surat rindu yang tidak pernah benar-benar sampai kepada mereka yang telah berpulang. Lewat musik, The Script mengabadikan perasaan seorang anak yang ingin menceritakan hidupnya, menunjukkan pencapaiannya, sekaligus mengatakan bahwa ia masih mengingat orang-orang yang pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya.

Lagu ini mengingatkan bahwa kehilangan tidak selalu berarti berakhirnya sebuah hubungan. Seseorang mungkin telah tiada secara fisik, tetapi kasih sayang dan kenangan tentangnya dapat terus hidup dalam diri orang yang ditinggalkan. Sebab, terkadang bentuk cinta yang paling sederhana setelah kehilangan adalah tetap melanjutkan hidup sambil membawa nama, nasihat, dan kenangan mereka di dalam hati.

Redaktur : Naisya Husna Hafizahtul Salwa Anshari

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.