Reporter: Zahra Zaina Rusty
Suara USU, Medan. Dalam upaya mewujudkan cita-cita Indonesia sebagai negara emas 2045, anak-anak yang berasal dari remaja di tahun 2024 ini akan menjadi penerus bangsa yang menentukan masa depan negara. Orang tua sebagai sekolah pertama harus mampu secara finansial dan mental dalam bertanggungjawab atas anak-anak yang mereka hadirkan. Fenomena anak-anak yang bekerja di lampu merah, anak-anak yang berada di panti asuhan dan masih banyak anak-anak terabaikan hak haknya sering kali hasil dari tidak siapan para orang tua dalam menjalankan tanggung jawab mereka.
Menjadi orang tua adalah tanggung jawab besar, yang sulit dilakukan dan banyak gagal dilakukan mereka yang baru akan menjadi orang tua, atau yang sudah punya anak sejak lama. Gambaran nyata yang pasti banyak ditemui di setiap belahan bumi ini tergambar jelas dalam film yang rilis pada tahun 2018, “Capernaum”. Sebuah film yang berlatar belakang di sebuah daerah di Lebanon. Direktu film Nadine Labaki dan produser Khaled Mouzanar. Film ini berfokus pada kehidupan Zain El Hajj.
“Capernaum” dibuka dengan adegan di persidangan, Zain El Hajj, seorang anak berusia 12 tahun dari daerah kumuh Beirut , menjalani hukuman penjara lima tahun di Penjara Roumieh karena menikam seseorang yang disebutnya sebagai “bajingan”. Zain dibawa ke pengadilan , setelah memutuskan untuk mengambil tindakan perdata terhadap orang tuanya, ibunya, Souad, dan ayahnya, Selim. Ketika ditanya oleh hakim mengapa dia ingin menuntut orang tuanya, Zain menjawab “Karena saya lahir”.
Cerita kembali ke beberapa bulan sebelumnya ketika Zain tinggal bersama orang tuanya dan tujuh adiknya. Zain, yang tidak disekolahkan, diajarkan oleh orang tuanya untuk mencari uang dengan berbagai cara, seperti menjual campuran air dan tramadol kepada pecandu narkoba, serta bekerja untuk Assad, tuan tanah keluarga mereka. Orang tua Zain juga berencana menjual adiknya, Sahar, kepada Assad.
Ketika Sahar mulai menstruasi, Zain berusaha menyembunyikannya agar Sahar tidak dinikahkan dengan Assad. Namun, usahanya gagal dan Sahar dijual kepada Assad. Zain mencoba melarikan diri bersama Sahar, namun gagal dan akhirnya kabur sendirian. Zain bertemu Rahil, seorang migran ilegal, dan anaknya Yonas di sebuah taman bermain. Rahil mengajak Zain tinggal di rumahnya dengan syarat Zain menjaga Yonas saat Rahil bekerja. Namun, Rahil ditangkap polisi dan Zain harus merawat Yonas sendirian. Setelah rumah Rahil disita, Zain kehilangan semua uang hasil kerjanya.
Zain mengetahui bahwa ia bisa keluar dari Lebanon dengan dokumen palsu yang ditawarkan oleh Aspro. Ia menitipkan Yonas kepada Aspro dan pulang ke rumah untuk mencari identitas diri. Di rumah, Zain mengetahui bahwa Sahar telah meninggal karena pendarahan akibat kehamilan di usia 11 tahun. Marah, Zain menusuk Assad dan akhirnya dipenjara. Di penjara, Zain mendengar bahwa ibunya sedang mengandung lagi. Ia muak dan melaporkan orang tuanya melalui layanan pelaporan pelecehan. Dalam sebuah acara TV, Zain menyatakan kebenciannya terhadap orang tua yang mengabaikan anak-anak mereka dan berencana menuntut orang tuanya karena terus memiliki anak tanpa mampu merawat mereka.
Film ini memperlihatkan betapa mirisnya pemikiran para orang tua yang hidup dengan keterbatasan tapi memiliki banyak anak. Mereka bahkan tidak siap untuk menghidup diri sendiri, tapi menghadirkan banyak nyawa yang kemudian tidak bisa mereka pertanggungjawabkan. “Capernaum” menyoroti betapa besar tanggung jawab yang harus dipikul oleh orang tua. Menjadi orang tua tidak hanya tentang melahirkan anak, tetapi juga tentang memberikan kehidupan yang layak, pendidikan, dan kasih sayang. Orang tua harus siap secara finansial dan emosional sebelum memutuskan untuk memiliki anak.
Pernah mendengar pernyataan “punya anak dalam kondisi miskin, adalah kejahatan”?. Pernyataan ini dijabarkan dengan jelas melalui film “Capernaum”. Kemiskinan dapat memaksa anak-anak untuk bekerja di usia yang sangat muda, seperti yang dialami Zain. Mereka kehilangan hak untuk bersekolah dan bermain, dan malah harus bekerja untuk membantu keluarganya bertahan hidup. Kemiskinan ini juga dapat menyebabkan orang tua membuat keputusan yang buruk, seperti menjual anak mereka untuk uang.
Sementara di sisi lain orang tua zaman dulu punya petuah “banyak anak banyak rezeki”. Tapi miskin dan rezeki yang akan kita bicarakan bukan soal materil atau tingkatan ekonomi semata. Menjadi orang tua bukan sekedar “ayah” dan “ibu” atau sebutan semacamnya, bukan sekedar mencukupi dengan uang, bukan sekedar yang penting masih bisa makan. Apalagi “kan kamu udah dibesarkan, harus berbakti sama kami orang tua, jangan tidak tau diuntung”.
Sebagai seorang mahasiswa, insan terpelajar yang diberikan ilmu dan pengetahuan, kita harus mampu mempertimbangkan banyak aspek seperti tingkat kemiskinan negeri ini, kita harus mengerti apa saja yang dipersiapkan dalam berumah tangga. Menjadi orang tua adalah bentuk tanggung jawab yang akan dibawa sampai mati. Menjadi orang tua tidak bisa diputuskan hanya sekedar dengan “kami sudah menikah, kami akan punya anak”, ada pertimbangan dan persiapan yang harus dimatangkan sebelum keputusan diambil. “Capernaum” adalah sebuah panggilan untuk refleksi menjadi orang tua yang siap finansial dan emosional kita dapat menciptakan lingkungan yang lebih baik bagi anak-anak, memastikan bahwa mereka mendapatkan hak-hak dasar mereka, dan memberikan mereka peluang untuk masa depan yang lebih baik.
Redaktur: Khalda Mahirah Panggabean
Leave a comment