Penulis: Natal Fernando Panjaitan/Juventus Simangunsong/Rafi Ramadhan Lubis/Felisa Jauzarafa/Arya Pranata Sidabutar
Suara USU, Medan. Desa Tanjung Rejo, yang terletak di Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, merupakan desa dengan potensi agraris yang besar. Desa ini tidak hanya dikenal sebagai salah satu lumbung pangan, tetapi juga sebagai desa wisata mangrove yang menawarkan keindahan alam dan kearifan lokal. Namun, seperti banyak desa lainnya di Indonesia, Tanjung Rejo menghadapi berbagai tantangan yang mempengaruhi dinamika sosial dan ekonomi masyarakatnya.
Tantangan Geografis dan Lingkungan
Tanjung Rejo terletak di wilayah pesisir, yang membuatnya rentan terhadap abrasi, erosi, dan banjir musiman. Sebagai daerah hilir sungai, desa ini juga menghadapi sedimentasi yang menyumbat aliran sungai dan meningkatkan risiko banjir. Selain itu, naiknya permukaan air laut akibat perubahan iklim memperparah kondisi, mengakibatkan banjir rob yang merusak lahan pertanian dan rumah penduduk. Dampak dari perubahan iklim ini menyebabkan kerugian besar bagi masyarakat, terutama para petani yang bergantung pada hasil panen untuk kelangsungan hidup mereka.

Keterbatasan Sumber Daya Manusia
Masalah lain yang dihadapi Desa Tanjung Rejo adalah kurangnya sumber daya manusia (SDM) yang memadai. Meskipun desa ini memiliki potensi besar dalam sektor pertanian dan perikanan, minimnya pengetahuan dan keterampilan teknis menjadi hambatan dalam pengembangan ekonomi lokal. Inovasi dalam bidang pertanian dan perikanan masih kurang, dan masyarakat belum sepenuhnya mampu mengadopsi teknologi baru yang dapat meningkatkan hasil produksi. Misalnya di Dusun 13 ingin dikembangkan “Dusun Inggris” namun progresnya sulit karena keterbatasan dana dan sumber daya manusia. Dusun masih mengharapkan dari mahasiswa yang berkunjung atau melakukan penelitian untuk membantu mengajar anak-anak disana.

Upaya Pemberdayaan Ekonomi dan Pembangunan Infrastruktur
Pemerintah desa telah mengambil langkah-langkah strategis untuk mengatasi berbagai tantangan tersebut. Melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), desa ini mengembangkan beberapa unit usaha seperti wisata mangrove, tambak udang dan ikan, serta usaha peternakan. Usaha ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat, tetapi juga untuk memperkuat ketahanan ekonomi lokal di tengah perubahan iklim dan globalisasi.
Pembangunan infrastruktur juga menjadi prioritas pemerintah desa, terutama untuk memperbaiki akses jalan menuju kawasan wisata mangrove. Pembangunan Infrastruktur yang saat ini menjadi salah satu fokus kita terlebih akses ke wisata mangrove, sudah berapa kali kita ajukan ke provinsi, memang progresnya lama sekali, jadi kita usahakan sebisa mungkin dengan sumber daya yang ada.” ucap Selamet selaku Kepala Desa. Infrastruktur yang baik akan mendukung pertumbuhan sektor pariwisata, membuka peluang kerja baru, serta meningkatkan ekonomi desa secara keseluruhan.

Program Kesehatan dan Ketahanan Pangan
Dalam bidang kesehatan, salah satu isu utama yang dihadapi adalah stunting. Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah desa menjalankan program ketahanan pangan yang fokus pada pemanfaatan lahan pekarangan untuk menanam sayuran sehat. Program ini diharapkan dapat meningkatkan gizi masyarakat, terutama anak-anak, serta mencegah stunting. Selamet selaku Kepala Desa mengatakan “Walaupun di Desa Tanjung Rejo angka stunting 0% tapi kita tetap buat program untuk mencegah stunting di Desa kita ini” Selain itu, program posyandu aktif dan tes kesehatan bagi calon pengantin menjadi bagian dari upaya untuk meningkatkan kesehatan masyarakat secara keseluruhan.
Pengembangan Pendidikan
Dalam bidang pendidikan, Desa Tanjung Rejo telah melakukan kerjasama dengan berbagai universitas untuk membantu dan menunjang tingkat pendidikan di Desa Tanjung Rejo yang dapat meningkatkan pengetahuan penduduk desa Tanjung Rejo. Desa Tanjung Rejo juga sering sekali menjadi daerah pengembangan dan penelitian dari universitas-universitas yang ada di Sumatera Utara.
Desa Tanjung Rejo memiliki potensi besar dalam sektor pertanian, perikanan, dan pariwisata. Namun, desa ini menghadapi tantangan geografis, kekurangan infrastruktur, dan keterbatasan SDM yang mempengaruhi perkembangan ekonomi lokal. Upaya pemerintah desa dalam memberdayakan masyarakat melalui BUMDes, program kesehatan, serta pembangunan infrastruktur adalah langkah positif untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat lokal menjadi kunci untuk mengatasi tantangan yang ada dan memanfaatkan peluang yang tersedia di masa depan.
Artikel ini merupakan publikasi tugas mata kuliah Dinamika Masyarakat Pedesaan dengan Dosen Pengampu: Dra. Berlianti. M.SP/Dr. Bengkel Ginting, M.Si
Redaktur: Balqis Aurora
Leave a comment