Oleh: Yeremia Jonathan
Suara USU, Medan. Film ini diadaptasi dari novel karya Almira Bastari, Home Sweet Loan, dan berfokus pada kehidupan sehari-hari Kaluna (diperankan oleh Yunita Siregar), seorang karyawan swasta kelas menengah yang menjalani hidup sederhana dengan tujuan menabung untuk membeli rumah. Namun, sebelum mimpinya terwujud, Kaluna masih harus tinggal di rumah orang tuanya bersama dua kakaknya, Kanendra (diperankan oleh Ariyo Wahab) dan Kamala (diperankan oleh Ayushita). Keduanya sudah menikah dan memiliki anak, yang membuat dinamika kehidupan di rumah tersebut semakin kompleks.
Sutradara Sabrina Rochelle Kalangie, yang juga menulis naskah bersama Widya Arifianti, dengan sangat akurat menggambarkan pergulatan kehidupan kaum kelas menengah melalui karakternya. Hasilnya, keinginan untuk memiliki rumah sering kali didorong karena alasan mau melepaskan diri dari keluarga yang kerap tidak mendukung dan justru membebani.
Meskipun tidak pernah diungkapkan secara eksplisit, Kaluna sebagai satu-satunya anggota keluarga yang belum berkeluarga sering dianggap memiliki tanggung jawab yang paling ringan. Keberadaan Kaluna di rumah, tanpa tanggung jawab suami atau anak, membuatnya dianggap memiliki kehidupan yang lebih santai dibandingkan kakak-kakaknya yang sudah menikah dan berperan sebagai orang tua. Anggapan ini menempatkan Kaluna dalam posisi di mana beban yang ia pikul terlihat lebih ringan, meskipun kenyataannya berbeda.
Kaluna hanya bisa mengeluh pada tiga sahabatnya, Danan (diperankan oleh Derby Romero), Tanish (diperankan oleh Risty Tagor), dan Miya (diperankan oleh Fita Anggriani Ilham). Mereka lah yang setia menemani Kaluna dalam perjalanannya ke seluruh Jakarta untuk mencari tempat tinggal ideal. Namun, persahabatan tidak selalu berarti kehadiran fisik. Ada kalanya, Kaluna hanya ditemani oleh musik yang mengalun di earphone-nya, saat ia menjalani perjalanan ini sendirian.
Saat Kaluna berhasil menemukan tempat tinggal yang diinginkannya adalah salah satu momen terindah dalam film. Senyumnya mengembang, mencerminkan kebahagiaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Kemudian dia melihat setiap sudut rumah sambil berpikir tentang hal-hal yang ingin dia lakukan di sana nanti, seperti memasak atau sekadar merebahkan badan yang lelah di sofa setelah pulang dari pekerjaan.
Akhir dari Home Sweet Loan tidak menawarkan solusi “ajaib” bagi karakter utamanya, tetapi tetap terasa realistis. Sebagai orang biasa, setiap keputusan datang dengan konsekuensinya sendiri, dan pada akhirnya, mereka harus beradaptasi dalam hidup untuk mencapai kebahagiaan.
Setiap perjuangan menuju kemandirian dan kebahagiaan memerlukan pengorbanan, kesabaran, dan ketekunan. Dalam hidup, tidak ada solusi instan atau jalan pintas. Seperti halnya Kaluna yang gigih menabung untuk membeli rumah, mahasiswa juga harus belajar untuk mengelola harapan, bekerja keras, dan tetap fokus pada tujuan, meskipun ada tekanan dari lingkungan atau keluarga. Kebebasan dan kesuksesan sering kali datang dari usaha terus-menerus, dan proses itulah yang akan membuat hasil akhirnya terasa lebih bermakna.
Pesan ini cukup relevan terkait realitas kehidupan mahasiswa. Tantangan yang mereka hadapi tidak hanya berkaitan dengan akademik, tetapi juga mencakup tekanan keuangan, tanggung jawab pribadi, dan harapan dari lingkungan sekitar. Kesabaran dan ketekunan adalah kunci dalam menghadapi setiap hambatan.
Mengelola harapan dan tidak mudah menyerah saat situasi sulit adalah pelajaran penting yang bisa diambil. Seperti Kaluna yang sabar meniti langkah demi mencapai tujuannya memiliki rumah, mahasiswa juga harus belajar bahwa hasil besar sering kali membutuhkan waktu dan pengorbanan. Pada akhirnya, keberhasilan akan terasa jauh lebih manis jika dilalui dengan proses yang penuh makna.
Redaktur: Duwi Cahya
Leave a comment