Home Film Just Mercy, Menolak Rasisme dalam Keadilan
Film

Just Mercy, Menolak Rasisme dalam Keadilan

Share

Reporter: Sarah Gabriela Silaen

Suara USU, Medan. Just Mercy merupakan film drama hukum Amerika pada tahun 2019 yang dibintangin oleh Jamie Foxx, Michael B. Jordan, Brie Larson, Rafe Spall, dan Tim Blake Nelson. Film ini menceritakan kisah nyata dari Walter McMillian yang dengan bantuan pengacara muda Bryan Stevenson mengajukan banding atas hukuman pembunuhannya. Just Mercy diangkat dari memoar berjudul sama yang ditulis oleh Stevenson.

Diadaptasi dari buku karya Stevenson dengan kisah yang kuat dan mengharukan, film Just Mercy berhasil meraih berbagai penghargaan di ajang internasional. Salah satunya film arahan Destin Daniel Cretton ini menyapu bersih penghargaan kategori film NAACP Image Awards 2020.

Film Just Mercy mengisahkan seorang pengacara lulusan Harvard, Bryan Stevenson (Michael B. Jordan) dalam memperjuangkan keadilan, terutama bagi warga kulit hitam yang terancam hukuman mati tanpa proses keadilan yang jelas. Bryan berkomitmen terhadap dirinya sendiri akan membantu para terpidana hukuman mati. Perjuangan ini sudah dimulai sejak Stevenson lulus kuliah.

Stevenson mendirikan Equal Justice Initiative bersama Eva Ansley (Brie Larson). Setelah itu namanya langsung melambung naik, tepatnya ketika menangani kasus Walter McMillian (Jamie Foxx) atau yang akrab disapa Johnny D, seorang pria Afrika- Amerika. Tanpa proses peradilan jelas, Johnny D langsung diganjar hukuman mati atas tuduhan pembunuhan terhadap seorang perempuan kulit putih pada 1986, pemberian vonis tersebut terjadi pada 1987. Banyak bukti yang menunjukkan Johnny D tidak bersalah, sementara kesaksian hanya berasal dari penjahat yang memiliki motif untuk berbohong.

Ada satu kutipan yang diungkapkan Bryan di pengadilan “The opposite of poverty is not wealth, it’s  justice” kutipan tersebut rasanya tepat menyimpulkan seluruh isi dari film Just Mercy. Keadilan akan sulit didapatkan oleh orang-orang dengan status ekonomi rendah. Dan mirisnya saksi yang dalam persidangan awal menyatakan ia melihat Johnny D di dekat korban, tega melakukan kesaksian palsu karena berada di bawah ancaman pihak kepolisian.

Di Indonesia kita juga banyak menyaksikan bahwa keadilan itu tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Banyak pejabat tinggi yang terbukti korupsi bisa melenggang bebas. Jikalau mereka akhirnya dinyatakan bersalah, fasilitas yang mereka dapatkan di dalam penjara bisa semewah hotel bintang lima. Sementara masyarakat kelas bawah bisa mendekam di penjara bertahun-tahun karena mencuri barang yang tidak seberapa harganya.

Just Mercy memberikan pesan tersirat bahwa menegakkan keadilan di negara sendiri sangat susah, dan tidak cukup dengan penegak hukum yang berintegritas dan berkomitmen tinggi. Namun, adanya ketegasan dalam hukum untuk tidak memandang bulu atau tebang pilih. Hukum yang tidak memandang usia, jenis kelamin, status dan tidak peduli latar belakang atau warna kulit. Hukum yang bisa menebus kesalahan bagi pelaku dan pencegahan bagi masyarakat lain.

Terdapat kalimat dalam film Just Mercy yang menjadi pengingat bagi para generasi selanjutnya “It’s never too late for justice” yang artinya tidak ada kata terlambat untuk keadilan. Jika Sobat Suara USU adalah mahasiswa Program Studi Hukum, film Just Mercy cocok menjadi list tontonan untuk libur panjang ini. Tunggu apa lagi? Yuk, segera tonton film Just Mercy!

Redaktur: Dinda Ratu Nayla

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.