
Oleh: Frianka Raya Sitanggang
Suara USU, Medan. Hari Minggu biasanya identik dengan suasana tenang. Banyak orang menghabiskan waktu bersama keluarga, pergi ke tempat ibadah, atau sekadar beristirahat dari padatnya rutinitas. Tapi minggu kemarin, dunia justru dikejutkan oleh sebuah kabar besar yang datang dari Amerika Serikat. Tanpa peringatan apa pun, negara adikuasa itu tiba tiba meluncurkan serangan ke tiga fasilitas nuklir milik Iran yang berada di di Fordow, Natanz, dan Isfahan. Serangan ini langsung memicu ketegangan baru di tengah konflik yang sudah panas antara Iran dan Israel.
Yang mengejutkannya lagi, tiga hari sebelumnya tepatnya 19 Juni 2025 Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melalui Sekretaris Pers Karoline Leavitt sempat menyampaikan bahwa ia akan membuat keputusan terkait konflik tersebut dalam waktu dua minggu. Banyak yang mengira Amerika akan mengambil waktu untuk berdiplomasi atau setidaknya berdiskusi dengan negara lain. Tapi kenyataannya, keputusan itu datang lebih cepat dari yang dikira. Hari Minggu itu, serangan langsung diluncurkan.
Langkah yang diambil Amerika Serikat bukan hanya soal kekuatan militer. Serangan itu juga menunjukkan bahwa Amerika memilih untuk berdiri di sisi Israel. Di saat konflik antara Iran dan Israel sedang panas panasnya, keputusan seperti ini justru memperburuk keadaan. Bukannya meredakan ketegangan, keputusan ini seperti menyiram bensin ke api yang belum padam. Banyak orang mulai bertanya tanya, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah dunia sedang bergerak ke arah konflik global yang lebih besar? Apakah ini awal dari perang dunia ketiga? Dan bagaimana posisi Indonesia sebagai negara nonblok?
Dampak paling besar dari perang ini tampaknya akan terjadi pada sektor energi. Selat Hormuz, yang terletak di antara Iran di utara dan Semenanjung Oman, memegang peranan penting dalam jalur perdagangan minyak dunia. Jika Iran menutup akses selat ini, dampaknya akan langsung terasa pada harga minyak global. Hal ini tercermin dalam laporan Financial Times, yang mencatat bahwa hanya beberapa jam setelah serangan terjadi, harga minyak langsung melonjak. West Texas Intermediate (jenis minyak mentah utama dari AS) naik dari 74 menjadi 77 dolar per barel, sementara Brent (jenis minyak mentah dari Eropa) menembus angka 80 dolar.
Jika penutupan Selat Hormuz berlangsung lebih lama, harga minyak diperkirakan akan terus naik. Kondisi ini dapat memicu peningkatan inflasi, memperlambat laju ekonomi global, dan mendorong Bank Sentral Amerika (The Fed) untuk menunda rencana penurunan suku bunga akibat ketidakpastian yang semakin tinggi.
Dampak lain dari konflik ini juga terlihat jelas di sektor keuangan. Mengutip DetikFinance dari Reuters, pasar saham di Asia termasuk Jepang, China, dan Indonesia langsung melemah sesaat setelah serangan terjadi. IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) tercatat turun hingga 2% pada saat pembukaan pasar.
Penurunan ini kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya kekhawatiran investor terhadap memburuknya situasi geopolitik. Banyak dari mereka memilih menarik dana dari pasar saham dan mengalihkannya ke instrumen yang dianggap lebih aman. Memanasnya konflik ini berpotensi mengganggu stabilitas perekonomian global, sekaligus menegaskan betapa rentannya pasar keuangan terhadap tekanan geopolitik yang tak terduga.
Selain berdampak pada sektor energi dan keuangan, konflik antara Israel dan Iran juga memengaruhi industri penerbangan global. Serangan rudal dan misil yang terus terjadi mendorong sejumlah negara, khususnya di kawasan Timur Tengah, untuk menutup wilayah udaranya demi alasan keamanan. Mengutip The New Arab, sejumlah maskapai penerbangan terpaksa mengubah jalur terbang mereka. Beberapa bahkan harus dialihkan melalui wilayah udara Afghanistan jalur yang lebih jauh dan kurang efisien sehingga menyebabkan waktu tempuh lebih lama dan biaya operasional meningkat.
Laporan dari Kementerian Perhubungan Indonesia (Kemenhub) yang dikutip oleh detikFinance menyebutkan bahwa sebanyak delapan wilayah ruang udara (Flight Information Region/FIR) di Timur Tengah sempat ditutup sementara akibat eskalasi konflik. Kondisi ini memaksa maskapai penerbangan untuk menyesuaikan rute, sekaligus menghadapi risiko operasional yang lebih tinggi. Dari delapan FIR yang ditutup, dua di antaranya Bahrain dan Qatar telah kembali dibuka.
Ketika konflik antara Iran dan Israel memanas dan Amerika Serikat ikut terlibat dengan menyerang fasilitas nuklir Iran, apakah ini benar benar awal dari Perang Dunia III? Kemungkinan itu masih kecil untuk saat ini. Seperti pada wawancaranya dengan BBC News Indonesia, pakar hubungan internasional seperti Dina Sulaeman dan Dian Wirengjurit menyatakan bahwa serangan Amerika masih tergolong terbatas dan belum cukup untuk memicu perang besar. Banyak negara juga berusaha keras mendorong diplomasi.
Tapi konflik ini tetap sangat tergantung pada respons dari negara negara besar. Kalau mereka memutuskan memberi dukungan kepada Iran, maka akan terbentuk kekacauan baru yang dapat meningkatkan kemungkinan perang dunia ketiga. Dalam wawancaranya dengan detiknews, Guru Besar Hukum Internasional dari Universitas Indonesia Hikmahanto Juwana, menyampaikan bahwa kalau negara negara seperti Rusia dan Cina memutuskan untuk mendukung Iran secara terbuka, maka potensi pecahnya Perang Dunia akan semakin besar.
Indonesia sendiri yang walaupun berdiri sebagai negara nonblok dan menjunjung tinggi perdamaian dunia tidak lepas dari dampak konflik ini. Posisi Indonesia sebagai negara pengimpor minyak membuat kita mudah terkena dampak naik turunnya harga energi dunia, yang pastinya kembali berkaitan dengan keuangan dan perekonomian negara. Seperti pada pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam konferensi pers APBN Kita pada 17 Juni 2025 menyatakan kenaikan ketegangan ini bisa menekan nilai tukar rupiah, menambah beban subsidi BBM, memicu inflasi, dan merusak stabilitas APBN apalagi harga minyak bisa naik hingga 8 persen dalam beberapa hari.
Pada wawancaranya oleh BBC News Indonesia Analis ekonomi dari Universitas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi, juga mengingatkan bahwa sebagai negara pengimpor minyak, Indonesia sangat rentan terhadap lonjakan harga BBM. Ia memperkirakan pemerintah harus mengeluarkan tambahan anggaran subsidi antara Rp 50-110 triliun. Akhibatnya, pengeluaran pemerintah bisa jauh melebihi pendapatan yang direncanakan atau yang biasa disebut dengan defisit fisikal, sehingga kondisi keuangan negara jadi makin berat. Hal ini bisa melemahkan rupiah karena aliran modal investor asing biasanya berhenti saat defisit membengkak . Menurut Fithra, hal yang mungkin dilakukan oleh pemerintah adalah dengan memperkuat cadangan energi dan pangan, serta menggeser rencana subsidi BBM menjadi bantuan langsung tunai atau subsidi pada produsen.
Masalah antara Iran, Israel, dan keterlibatan Amerika Serikat, bukan hanya sekadar konflik Timur Tengah. Walaupun Indonesia tidak memihak siapa pun sebagai negara nonblok, dampaknya tetap akan terasa bagi kita. Mulai dari naiknya harga minyak, turunnya nilai tukar rupiah, naiknya harga harga barang, sampai bertambahnya pengeluaran negara. Ini waktunya untuk bergerak, menyiapkan diri, dan ikut berperan menjaga kestabilan. Bukan hanya demi dunia, tapi juga untuk melindungi rakyatnya sendiri.
Redaktur: Muhammad Halim
Leave a comment