Home Opini Ketimpangan Akses Deteksi Dini Kanker Serviks Masih Membayangi Perempuan Indonesia
Opini

Ketimpangan Akses Deteksi Dini Kanker Serviks Masih Membayangi Perempuan Indonesia

Share
Ilustrator: Priyanka Az Zahra

Oleh: Nataly Princess br Tarigan

Suara USU, Medan. Sehat seharusnya menjadi gaya hidup, bukan respons panik saat tubuh mulai memberi sinyal bahaya. Namun, realitas di Indonesia menunjukkan bahwa kesadaran ini belum dimiliki oleh banyak orang, terutama bagi perempuan yang hidup dalam keterbatasan akses, informasi, dan perlindungan kesehatan.

Kanker serviks merupakan cerminan nyata dari ketimpangan itu. Setiap tahunnya, ribuan perempuan kehilangan nyawa akibat penyakit yang sebenarnya dapat dicegah lebih awal. Menurut data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) tahun 2025 juga mencatat bahwa diperkirakan terdapat lebih dari 36.000 kasus baru yang ditemukan. Ironisnya lagi, sekitar 70% kasus baru ditemukan saat stadium lanjut, sehingga berpotensi meningkatkan risiko kematian.

Akses yang tidak memadai adalah salah satu dari banyak faktor yang meningkatkan kasus kanker serviks di Indonesia, dan fakta bahwa kasus ini terus meningkat tidak dapat disangkal. Akses bukan hanya ketersediaan fasilitas. Akses mencakup banyak aspek ketimpangan, seperti kurangnya pendidikan dan informasi, keterbatasan ekonomi, norma sosial yang tidak jelas, dan kebijakan yang tidak merata. Perempuan tidak memiliki kesempatan yang sama untuk menjaga kesehatannya, termasuk deteksi dini kanker serviks, karena berbagai hambatan ini.

Rendahnya angka partisipasi dalam deteksi dini adalah penyebab kematian akibat kanker serviks tertinggi. Laporan dari PRAKARSA tahun 2023 menunjukkan bahwa hanya 9,8% perempuan, atau 3,6 juta dari 37,4 juta wanita usia 30 hingga 50 tahun menjalani skrining kanker serviks antara tahun 2007 dan 2018. Akibatnya, lebih dari 50% korban meninggal. Namun, deteksi dini sangat penting untuk mencegah lesi prakanker berkembang menjadi kanker serviks.

Faktor yang menyebabkan kematian akibat kanker serviks paling tinggi adalah karena rendahnya angka partisipasi deteksi dini. Berdasarkan laporan PRAKARSA tahun 2023 menunjukkan bahwa hanya sekitar 9,8% perempuan, atau sekitar 3,6 juta dari 37,4 juta wanita usia 30-50 tahun yang menjalani skrining kanker serviks selama periode 2007-2018. Akibatnya, lebih dari 50% penderitanya meninggal dunia. Padahal, deteksi dini sangat berperan penting dalam mencegah perubahan lesi prakanker menjadi kanker serviks.

Upaya deteksi dini sebenarnya telah menjadi bagian dari program pencegahan penyakit kronis oleh pemerintah Indonesia, seperti program peningkatan deteksi dini kanker serviks melalui Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 2015 tentang Pencegahan Kanker Serviks dan Kanker Payudara. Kebijakan ini menjadi landasan pelaksanaan program skrining kanker serviks (Cervical Cancer Screening/CCS) secara nasional. Namun, hal ini tidak terealisasikan sebaik dan sesempurna mereka menyusun kebijakan tersebut.

Terbatasnya akses terhadap informasi dan edukasi kesehatan yang memadai juga merupakan penyebab rendahnya partisipasi perempuan dalam deteksi dini kanker serviks. Banyak orang tidak memahami pentingnya skrining. Mereka bahkan tidak tahu apa itu kanker serviks dan cara mencegahnya. Salah satu cara untuk meningkatkan kesadaran wanita tentang deteksi dini kanker serviks adalah dengan meningkatkan pendidikan mereka.

Perempuan dengan pendidikan tinggi cenderung lebih memahami informasi kesehatan seperti pentingnya skrining rutin dan bahaya kanker serviks. Secara kultural dan psikologis, banyak perempuan yang masih merasa malu atau takut direndahkan saat menjalani skrining. Hal ini disebabkan oleh persepsi yang salah tentang risiko penyakit dan kurangnya kesadaran akan pentingnya deteksi sejak dini. Selain itu, norma sosial yang menganggap topik alat reproduksi sebagai hal tabu yang membuat edukasi menjadi sulit disampaikan dan diterima oleh khalayak umum.

Selain itu, deteksi dan pencegahan kanker serviks ini juga dipengaruhi oleh faktor sosial dan ekonomi yang tidak mendukung, sehingga sebagian besar pasien baru memeriksakan diri saat kanker sudah memasuki stadium lanjut. Masalah keterlambatan proses diagnosis dan terapi akan mengakibatkan terjadinya peningkatan bahaya kanker serviks. Bagi perempuan yang berasal dari kelompok ekonomi menengah ke bawah, biaya pemeriksaan rutin saja sudah berat, terutama jika mereka perlu menjalani pengobatan jangka panjang.

Tidak semua orang memiliki asuransi kesehatan dan mampu menjangkau rumah sakit rujukan yang letaknya jauh. Dalam kondisi ini, kesehatan menjadi hak yang mahal, bukan kebutuhan dasar. Karena ketimpangan ekonomi, banyak perempuan tidak dapat memastikan kesehatan mereka, satu-satunya hal yang mereka bisa lakukan adalah berharap tidak jatuh sakit. Ini menunjukkan bahwa bukan hanya aspek ekonomi individu, tetapi juga kegagalan sistem di seluruh wilayah untuk memberikan akses yang setara kepada seluruh perempuan.

Menurut data dari Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Ditjen P2P) Kementerian Kesehatan RI tahun 2024, cakupan deteksi dini kanker serviks di Indonesia masih menunjukkan ketimpangan yang mencolok. Provinsi seperti NTB dan DKI Jakarta mencatat capaian tinggi berkat dukungan fasilitas dan edukasi yang memadai. Sebaliknya, wilayah timur seperti Papua masih tertinggal akibat keterbatasan akses layanan kesehatan, minimnya tenaga medis perempuan, serta hambatan geografis dan budaya. Perbandingan ini memperlihatkan bahwa deteksi dini kanker serviks masih menjadi isu ketimpangan pelayanan kesehatan, di mana perempuan di wilayah tertinggal belum memperoleh hak yang setara dalam pencegahan kanker.

Selain itu, jumlah tenaga medis juga masih minim. Hasil penelitian PRAKARSA tahun 2023 menunjukkan bahwa jumlah dokter spesialis Onkologi masih minim. Di Indonesia, hanya ada 139 dokter spesialis penyakit dalam sekaligus konsultan Hematologi dan Onkologi yang terdaftar di Kementerian Kesehatan di 17 provinsi. Untuk menjembatani perbedaan ini, pendekatan lintas budaya dan upaya untuk meningkatkan layanan berbasis komunitas sangat penting.

Di antara berbagai faktor yang menyebabkan ketimpangan akses yang terjadi di Indonesia, perlu ada peningkatan kesadaran dan tindakan nyata dari berbagai pihak. Karena pencegahan kanker serviks tidak hanya bergantung pada kebijakan dan infrastruktur, ada lebih dari itu. Sangat penting bagi masyarakat, terutama perempuan, untuk lebih menyadari pentingnya pencegahan melalui deteksi dini. Untuk memperluas edukasi dan menghapus stigma yang ada, dukungan dari berbagai pihak, termasuk institusi pendidikan, tenaga kesehatan, dan keluarga, sangat diperlukan.

Jika upaya ini dilakukan secara konsisten dan inklusif, jutaan nyawa dapat diselamatkan. Lebih dari tiga juta kematian akibat kanker serviks bisa dicegah dalam satu abad ke depan. Mengeliminasi kanker serviks bukan sekadar wacana ideal, tetapi sebuah tanggung jawab yang sepenuhnya dapat dicapai asal kita mau bergerak bersama.

Redaktur: Axfeba Saragih

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.