Home Tempat Leang-Leang, Warisan Dunia yang Paling Sepi Dibicarakan
Tempat

Leang-Leang, Warisan Dunia yang Paling Sepi Dibicarakan

Share

Oleh: Deswina Listiani Matondang

Ada yang aneh ketika pertama kali menginjakkan kaki di kawasan prasejarah Leang-Lean yang berada di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Bukan keanehan yang menakutkan. Lebih tepatnya, seperti ada bisikan panjang yang datang dari dinding batu kapur yang menjulang, dari lubang-lubang gelap yang menyimpan jejak tangan manusia yang telah berumur puluhan ribu tahun. Di sini, waktu tidak berjalan, ia menggantung, membeku, dan menatap balik siapa pun yang datang dengan cukup sunyi untuk memperhatikan.

Leang-Leang, dalam bahasa Makassar berarti gua-gua. Dan memang begitulah kawasan ini, gugusan gua karst yang tersebar di kaki pegunungan Maros-Pangkep, sebuah kawasan yang kini diakui sebagai salah satu bentang alam karst terluas dan terpenting di dunia. Namun lebih dari sekadar keajaiban geologi, Leang-Leang adalah ruang persidangan antara masa kini dan masa purba, tempat di mana manusia modern bisa berdiri di titik yang pernah dijejaki leluhurnya ratusan abad silam, dan bertanya “Apa yang telah kita lupakan?”

Yang pertama kali mencuri perhatian dari di dalam gua ini adalah gambar-gambar yang berada pada dinding gua tersebut. Stensil tangan manusia berwarna merah kecokelatan, membentuk siluet yang tercetak di dinding batu. Di dekatnya, ada lukisan babi rusa yang tubuhnya digambarkan dengan garis tegas dan penuh keyakinan, seolah pelukisnya paham betul anatomi binatang buruan mereka. Gambar-gambar ini bukan sekadar coretan iseng, ia adalah pernyataan eksistensi paling tua yang pernah ditinggalkan manusia di bumi Nusantara.

Penemuan ilmiah telah membuktikan betapa tuanya jejak ini. Dikutip dari Nature (2019) berjudul “Earliest hunting scene in prehistoric art”, Para peneliti dari Griffith University mengonfirmasi bahwa lukisan naratif berburu di kawasan Maros-Pangkep berusia lebih dari 43.900 tahun, menjadikannya seni figuratif tertua yang diketahui umat manusia hingga saat ini, menggeser anggapan lama bahwa seni tertua berasal dari gua-gua di Eropa. Ini bukan pencapaian kecil. Ini adalah pergeseran cara dunia memandang di mana peradaban pertama kali tumbuh. Lukisan-lukisan ini pun merupakan bagian dari tradisi seni yang menyebar luas di Asia Tenggara dan menunjukkan kompleksitas kognitif manusia purba yang jauh melampaui dugaan sebelumnya. Ini bukan manusia primitif yang asal menggores. Ini adalah manusia yang berpikir, yang merasa, yang ingin dikenang. 

Analisis uranium-seri terhadap lapisan kalsit yang menutupi lukisan menunjukkan bahwa pigmen yang digunakan adalah oksida besi atau hematit, bahan alami yang tersedia di lingkungan sekitar. Para seniman purba ini kemungkinan meniup pigmen melalui tabung tulang atau bambu untuk menciptakan efek stensil tangan yang kita lihat hari ini. Sebuah teknik yang, jika kita pikirkan, tidak jauh berbeda dari semprotan cat aerosol yang digunakan seniman jalanan modern.

Yang lebih mengejutkan lagi, dalam beberapa gua di kawasan Maros-Pangkep, ditemukan bahwa lukisan-lukisan itu tidak selesai dalam satu waktu. Ada lapisan yang ditambahkan berabad-abad kemudian oleh generasi berbeda, seolah gua-gua itu adalah kanvas komunal yang diwariskan dari tangan ke tangan, dari generasi ke generasi. Ini bukan hanya seni. Ini adalah tradisi yang hidup, napas panjang yang dihembuskan lintas zaman.

Salah satu hal paling menggoda dari Leang-Leang adalah bukan apa yang sudah ditemukan, melainkan apa yang belum. Kawasan Sulawesi dan sekitarnya menyimpan kemungkinan kehadiran spesies manusia purba lain sebelum Homo sapiens tiba,  dan interaksi antara spesies-spesies ini kemungkinan besar terjadi di lanskap karst seperti Maros-Pangkep. Apakah ada lukisan yang lebih tua lagi, dari tangan spesies yang berbeda, yang tersembunyi di balik dinding batu yang belum terjamah? Para peneliti belum bisa menjawab dengan pasti.

Survei terbaru bahkan mengidentifikasi ratusan gua baru di kawasan Maros-Pangkep yang belum pernah diteliti secara arkeologis. Artinya, kawasan Leang-Leang dan sekitarnya masih menyimpan arsip yang belum terbuka, catatan yang belum dibaca. Setiap ekspedisi ke sana berpotensi mengubah apa yang kita pahami tentang asal-usul seni dan peradaban manusia. Kita belum di ujung cerita, kita bahkan mungkin baru di halaman pertama.

Tetapi Leang-Leang bukan hanya tentang masa lalu yang membatu. Kawasan ini hidup, atau setidaknya, berusaha hidup di tengah berbagai tekanan. Taman Prasejarah Leang-Leang, yang dikelola sebagai kawasan wisata budaya, menawarkan pengalaman yang tidak bisa ditemukan di tempat lain: berjalan di antara batu-batu yang terbentuk jutaan tahun lalu, melihat langsung, bukan replika, lukisan tangan yang dibuat oleh manusia Homo sapiens pertama yang menghuni Nusantara. Di sekitar kawasan, vegetasi tropis menyeruak di sela-sela batu kapur. Suara burung bersahutan di antara ceruk dan lekukan tebing. Sungai kecil mengalir di beberapa bagian, memantulkan cahaya siang yang menyelinap masuk ke dalam mulut gua. Ini bukan keheningan yang mati, ini adalah keheningan yang bernapas.

Ekosistem karst Maros-Pangkep pun bukan hanya situs arkeologi semata. Ia juga merupakan kawasan dengan keanekaragaman hayati tinggi, termasuk flora endemik dan spesies kelelawar gua yang berfungsi sebagai penyerbuk alami kawasan pertanian sekitarnya. Menghancurkan kawasan ini bukan hanya kehilangan warisan budaya , ini juga bencana ekologis yang dampaknya akan dirasakan jauh melampaui batas-batas gua itu sendiri.

Namun di balik semua keindahan dan kedalaman itu, ada kegelisahan yang tidak bisa diabaikan. Ekspansi industri semen dan pertambangan batu kapur telah berlangsung selama puluhan tahun di kawasan ini dan secara langsung mengancam integritas fisik gua-gua prasejarah. Getaran dari aktivitas peledakan tambang dapat merusak lapisan kalsit rapuh yang justru menjadi “selimut pelindung” lukisan-lukisan purba itu selama ribuan tahun, penjaga sunyi yang kini terancam oleh dentuman yang kita ciptakan sendiri.

Dan ancaman itu tak hanya datang dari luar gua. Perubahan iklim mikro di dalam gua akibat aktivitas manusia, termasuk emisi karbon dioksida dari napas pengunjung dalam jumlah besar, juga mempercepat degradasi pigmen pada lukisan gua. Ini ironi yang menyakitkan: ketertarikan kita terhadap lukisan itu bisa menjadi salah satu penyebab kehancurannya. Cinta yang tidak bijak, dalam hal ini, adalah racun yang bekerja perlahan.

Dikutip dari laporan ICOMOS (International Council on Monuments and Sites) tahun 2023, komite internasional ini secara eksplisit menyebutkan bahwa ancaman dari aktivitas pertambangan dan lemahnya penegakan hukum di kawasan penyangga menjadi hambatan utama bagi pengakuan kawasan ini sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization)  sebuah status yang sudah lama diperjuangkan Indonesia, namun terus tersandung oleh kepentingan ekonomi jangka pendek.

Manusia pernah begitu kecil di hadapan alam, namun tetap berani meninggalkan jejak dengan cat dan jari. Leang-Leang tidak butuh kita untuk diakui kebesarannya. Ia telah bertahan selama lebih dari empat puluh ribu tahun tanpa kita. Yang justru perlu dipertanyakan adalah apakah kita akan cukup bijak untuk membiarkannya bertahan empat puluh ribu tahun lagi?

Redaktur : Naisya Husna Hafizahtul Salwa Anshari

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.