Oleh: Selsa Nabila
Suara USU, Medan. Case Methode (CM) adalah sebuah pendekatan pembelajaran yang menantang mahasiswa untuk menganalisis, mendiskusikan, dan menyelesaikan masalah atau situasi nyata yang dihadapi dalam dunia profesional. Dalam konteks pendidikan tinggi, metode ini sering digunakan untuk mengajarkan keterampilan berpikir kritis, pengambilan keputusan, serta kemampuan analitis mahasiswa dalam menghadapi permasalahan yang kompleks.
Kegiatan ini juga dilaksanakan oleh mahasiswa Program Studi Kehutanan USU, saya yang bernama Selsa Nabila 221201082 dari peminatan Manajemen Hutan. Pada CM ini, saya dibimbing oleh dosen pengampu mata kuliah Pekerjaan Sosial Internasional yaitu Bapak Fajar Utama Ritonga S.Sos, M.Kesos.
Melalui program ini, CM yang dilakukan adalah melakukan observasi dengan mencari informasi dari jurnal yang sesuai dengan topik permasalahan yang diambil. Tujuan observasi ini adalah untuk mengetahui apa penyebab kematian harimau dan di Medan Zoo beserta cara penanggulangan dari aspek Kehutanan.
Taman margasatwa Medan (Medan Zoo) merupakan sebuah satu tempat wisata dan tempat edukasi untuk masyarakat di Indonesia terkhususnya di kota medan. Taman margasatwa Medan terletak di Kecamatan Medan Tuntungan, Kabupaten Deli Serdang. Kebun binatang dapat dimanfaatkan sebagai tempat wisata, tempat study tour, serta mendapatkan pendidikan alam fisik, flora, fauna, dan sebagainya. Taman satwa merupakan pelestarian yang kaya akan flora dan fauna, dengan program pembiakan, pelepasan serta dapat mempertahankan qarisan alam nusantara. Beberapa jenis satwa yang dapat ditemukan di sana antara lain: Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae), Orangutan Sumatra (Pongo abelii), Gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus), Kera, Burung Cendrawasih, Elang, Reptil dan masih banyak lagi.
Menurut Franklin (1999) kehidupan dari harimau sumatera (Panthera tigris sumatera) terus terancam, hal ini disebabkan karena adanya perburuan liar dan musnahnya habitatnya, walaupun hanya ada sedikit informasi tentang intensitas masalah tersebut. Pengelolaan kebun binatang tidak lah mudah karena pada dasarnya mengurus kebun binatang memerlukan biaya dan keahlian untuk dapat mengelolaanya dengan baik. Menurut (Almazan, 2005) menyatakan bahwa pengelolaan kebun binatang di negara berkembang kebanyakan masih berada di bawah standar dari pengelolaan yang mana banyak dari pengelola lebih berfokus pada kepentingan dan keuntungan manusia khususnya terkait dengan kegiatan rekreasi. Dalam rangka tercapainya keberlanjutan pengelolaan kebun binatang, maka diperlukan adanya keterlibatan serta partisipasi dari berbagai pihak dengan memperhatikan kondisi dari sosial ekonomi, budaya, dan lingkungan sekitarnya (Shah dan Sumampau, 2013).
Untuk mencegah kepunahan Harimau Sumatra, berbagai upaya konservasi telah dilakukan oleh pemerintah, organisasi lingkungan, dan masyarakat. Pencegahan kematian harimau di kebun binatang memerlukan pendekatan yang holistik, melibatkan pemeliharaan yang baik, manajemen kesehatan, serta pendidikan dan pelatihan bagi staf kebun binatang. Untuk mencegah kematian harimau di kebun binatang, penting untuk menerapkan pengelolaan habitat yang sesuai, pemeriksaan kesehatan rutin, manajemen stres yang baik, serta pelatihan yang tepat bagi staf kebun binatang. Dengan langkah-langkah pencegahan ini, harimau dapat dipelihara dengan baik dalam lingkungan yang mendukung kesejahteraan fisik dan psikologis mereka.
Artikel ini adalah publikasi tugas Pekerjaan Sosial Internasional dengan Dosen Pengampu Fajar Utama Ritonga S.Sos, M.Kesos.
Redaktur: Khalda Mahirah PanggabeanÂ
Leave a comment