Mengenal Frans Kaisiepo, Sosok di Pecahan Uang Rupiah

Oleh: Marwa Adilah Ahmad

Suara USU, Medan. Frans Kaisiepo merupakan salah satu pahlawan Republik Indonesia sekaligus gubernur keempat Provinsi Papua. Wajahnya diabadikan dalam pecahan uang kertas Rp 10.000, sebagai penghormatan atas jasa-jasanya yang luar biasa. 

Lahir pada 10 Oktober 1921 di Pulau Biak, Papua, dari pasangan Albert Kaisiepo dan Alberthina Maker. Frans Kaisiepo merupakan orang pertama dari Papua yang mendapatkan pendidikan formal di sekolah Belanda. Ia menempuh pendidikan di Hollandsch Inlandsche School (HIS) dan kemudian di Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA) di Serui, Papua. Selain berprestasi di bidang akademik, Frans aktif dalam berbagai organisasi seperti Jong Papua, Partai Indonesia (Partindo), dan Partai Kedaulatan Rakyat (PKR).

Rintangan Frans dibidang politik untuk menyatukan Papua dengan Republik Indonesia tidaklah mudah. Frans menjadi satu-satunya orang Papua asli yang berhadir di Konferensi Malino di Sulawesi Selatan pada Juli 1946. Pada saat itu, Belanda ingin menggabungkan Papua dengan Maluku yang menjadikan Papua  bagian dari Negara Indonesia Timur (NIT). Namun, Frans menolak usulan tersebut karena beliau beranggapan Papua seharusnya dipimpin oleh orang Papua bukan dari wilayah lain. Frans juga mengusulkan untuk mengganti nama Papua atau Nederlands Nieuw Guinea dengan ‘irian’ yang berasal dari bahasa asli Biak.

Pada 1946, Frans mendirikan Partai Indonesia Merdeka di Biak dan menjadi salah satu tokoh yang menyebarkan lagu Indonesia Raya di Papua. Meskipun diminta Belanda menjadi delegasi Papua dalam Konferensi Meja Bundar tahun 1949, Frans menolaknya karena tidak ingin menjadi boneka Belanda. Perjuangannya menyebabkan ia dipenjara dari tahun 1954 sampai 1961.

Setelah dibebaskan, Frans mendirikan Partai Irian Sebagian Indonesia (ISI) untuk menyatukan Papua dengan Republik Indonesia. Ia juga berpartisipasi dalam Operasi Tiga Komando Rakyat (Trikora) yang dibentuk oleh Presiden Soekarno. Hasil dari operasi ini adalah Perjanjian New York pada 1 Agustus 1962, yang mengakui wilayah Papua sebagai bagian dari Indonesia. Pada 1 Mei 1963, PBB mengalihkan kekuasaan atas Papua dari Belanda ke Indonesia.

Setelah perpindahan tangan, Pemerintah RI menggunakan nama Irian yang diusulkan oleh Frans pada konferensi Malino dan tahun 2001 berganti nama menjadi Papua. Frans Kaisiepo wafat pada 10 April 1979 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cendrawasih, Jaya Pura (Makam Pahlawan Nasional RI Frans Kaisiepo).

Frans Kaisiepo wafat pada 10 April 1979 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cendrawasih, Jayapura. Jasa-jasanya dalam menyatukan Papua dengan Republik Indonesia diakui dengan berbagai penghargaan, termasuk keputusan presiden nomor 077/TK/1993 yang menetapkannya sebagai pahlawan nasional. Wajahnya diabadikan dalam pecahan uang kertas Rp 10.000,00 emisi 2016 sebagai penghormatan atas perjuangannya.

Pengorbanan dan dedikasi Frans Kaisiepo dalam memperjuangkan persatuan Indonesia dan Papua menjadikannya sosok yang patut dikenang dan dihormati oleh seluruh bangsa.

Redaktur: Feby Simarmata

Related posts

Marco Kartodikromo, Gambaran Perlawanan Jurnalis terhadap Kolonialisme

Malala Yousafzai, Pejuang Pendidikan yang Tak Takut Peluru

Inspirasi dan Perjuangan Mahasiswa dalam Usaha Buket Bunga Handmade