Home Tulisan Anak Panah USU, Bukan Sekadar Tembak-Tembakan
Tulisan

Anak Panah USU, Bukan Sekadar Tembak-Tembakan

Share

Oleh: Siti Syifa Nazlia, Mutia Warohma, Laila Mardhiah, Dewi Jernita Hulu, Cindy Christien Larosa, Reza Elkana Sianturi,  Mery Cristin Barus

Suara USU, Medan. Project Based Learning (PBL) merupakan metode pembelajaran yang mengedepankan keterlibatan aktif mahasiswa dalam memecahkan masalah nyata. Melalui pendekatan ini, mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga menerapkannya di lapangan. Salah satu implementasinya dilakukan oleh mahasiswa MKWU COCD A dalam bentuk mini riset bertema prestasi atlet ATC USU (Archery Training Club).

Kegiatan ini dilaksanakan oleh kelompok 4 Mahasiswa Fakultas Psikologi, FMIPA, dan FEB USU, yaitu Siti Syifa Nazlia 231301013, Mutia Warohma 231301014, Laila Mardhiah 231301034, Dewi Jernita Hulu 230801034, Cindy Christien Larosa 230801022, Reza Elkana Sianturi 230801079, dan Mery Cristin Barus 230502104. Kami melakukan observasi dan wawancara langsung dengan beberapa atlet aktif ATC USU pada Sabtu, 10 Mei 2025. Tujuan dilakukannya kegiatan ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi proses pencapaian prestasi atlet dalam kejuaraan, termasuk UGM Open Archery Championship (UOAC) Series 2 pada tanggal 11-14 Juli 2024 di GOR Pancasila UGM. Pada kegiatan PBL ini, kami dibimbing oleh dosen pengampu mata kuliah Community Organizing and Community Development (COCD) yaitu Bapak Fajar Utama Ritonga, S.Sos., M.Kesos.

Panahan adalah olahraga yang menuntut ketenangan, fokus, dan konsistensi. Salah satu atlet yang kami wawancarai mengakui bahwa ia mulai bergabung dengan ATC USU sejak tahun 2023 karena ingin kembali menekuni panahan yang pernah ia pelajari saat SMP. Namun, awalnya ia justru canggung dan kesulitan beradaptasi di awal. “Saya sempat merasa kurang dirangkul, jadi sulit berbaur dan bertanya,” ungkapnya.

Perasaan tersebut mengarah pada tekanan sosial yang cukup tinggi. Dalam konteks ini, teori kebutuhan Abraham Maslow pada tahapan belongingness di mana individu butuh merasa diterima dan menjadi bagian dari kelompok. Setelah melalui masa adaptasi, keberanian untuk bertanya dan berlatih mulai membuahkan hasil. Rasa percaya diri tumbuh seiring terbangunnya dukungan sosial dalam komunitas ATC.

Latihan dilakukan rutin minimal 2–3 kali seminggu, dan bisa meningkat hingga 5 kali menjelang lomba. Namun, untuk latihan rutin atau latihan wajib dilaksanakan setiap hari Sabtu. Salah satu kunci keberhasilan, menurut atlet, adalah konsistensi. “Kalau bolong-bolong latihannya, tembakannya pasti jadi tidak fokus,” ujarnya. Dalam dunia olahraga, hal ini selaras dengan teori deliberate practice dari K. Anders Ericsson yang menyatakan bahwa latihan terstruktur dan berulang sangat menentukan pencapaian keahlian tingkat tinggi. Selain fisik, mental juga menjadi faktor penting. Atlet mengaku belajar mengelola tekanan dengan tidak terlalu fokus pada performa lawan, tetapi lebih pada pencapaian pribadi. Ia juga menjaga kondisi dengan cukup istirahat dan menghindari latihan berat sehari sebelum lomba.

Perjalanan prestasi atlet ATC bukan tanpa kegagalan. Atlet tersebut bercerita tentang kekalahan pada lomba pertamanya di Barakuda TNI AL, namun berhasil bangkit dan meraih juara 3 dan juara 1 di kejuaraan berikutnya di Ladang Edukasi dan Langkat. Dukungan dari pelatih dan senior menjadi komponen krusial dalam proses ini. “Kalau nggak ada yang koreksi, hasil tembakan bisa gitu-gitu aja,” ujarnya. Kehadiran mereka pada saat latihan maupun lomba memberikan koreksi teknis dan motivasi emosional, sebagaimana ditekankan oleh teori dukungan sosial dari Cohen & Wills (1985) yang menyatakan bahwa dukungan sosial dapat menjadi pelindung stres dalam situasi kompetitif.

Melalui hasil observasi yang kami lakukan terhadap atlet ATC USU, dapat disimpulkan bahwa pencapaian prestasi tidak hanya ditentukan oleh latihan fisik, tetapi juga dipengaruhi oleh dukungan sosial, konsistensi latihan, ketahanan mental, serta proses adaptasi sosial dalam lingkungan klub. Kegiatan ini menunjukkan pentingnya kolaborasi, ketekunan, dan dukungan dalam meraih prestasi. Kegiatan ini juga menjadi wujud nyata penerapan teori dalam komunitas, serta mendorong terciptanya pembinaan yang lebih merata dan berkelanjutan.

Meski fasilitas dan lingkungan latihan dinilai cukup nyaman, atlet berharap ATC USU kedepannya bisa lebih aktif dan merata dalam menumbuhkan semangat kompetisi. “Jangan cuma itu-itu saja yang diturunkan ikut lomba. Semua punya tanggung jawab membesarkan nama klub,” katanya.

Untuk itu, kami menyarankan agar ATC USU meningkatkan pendekatan sosial bagi anggota baru, meratakan kesempatan mengikuti lomba, serta memperkuat dukungan mental dan sistem latihan yang terstruktur. Selain itu, klub juga diharapkan lebih aktif dalam promosi dan kolaborasi, agar pembinaan berlangsung lebih merata dan seluruh anggota memiliki kesempatan berkembang secara adil dan seimbang.

Dari balik diamnya arena panahan, tampak kerja keras, kegigihan, dan kolaborasi yang tak terlihat oleh kasat mata. Panahan di ATC USU bukan sekadar menembakkan anak panah tetapi juga menembus batas diri, menargetkan disiplin, dan membidik prestasi, sebuah perjalanan sunyi menuju keunggulan.

Tulisan ini merupakan bagian dari tugas akhir mata kuliah MKWU COCD A (Community Organizing and Community Development), dibimbing oleh dosen pengampu Bapak Fajar Utama Ritonga, S.Sos., M.Kesos. Wawancara dan observasi dilakukan pada 10 Mei 2025 di Lapangan Panahan USU.

 

Redaktur: Indira Rivany

 

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.