Home Musik Beghu, Musik Sakral dari Nagekeo yang Kini Berjuang untuk Bertahan
Musik

Beghu, Musik Sakral dari Nagekeo yang Kini Berjuang untuk Bertahan

Share
Sumber: National Geographic

Oleh: Lucy Kezia Simarmata

Suara USU, Medan. Di pegunungan Flores lahir sebuah tradisi musikal yang tak hanya indah, tetapi juga sakral. Namanya Beghu. Bagi masyarakat adat setempat di Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, musik Beghu bukan sekadar suara atau pertunjukan, tetapi menjadi medium komunikasi spiritual dengan leluhur serta simbol identitas sosial dan budaya yang diwariskan lintas generasi.

Lebih dari sekadar hiburan, Beghu berfungsi sebagai penjaga harmoni sosial dan simbol identitas komunal. Proses pemilihan pemain, posisi instrumen dalam ritual, serta aturan mainnya mencerminkan struktur sosial masyarakat Nagekeo. Musik ini menjadi sarana kolektif untuk memperkuat nilai-nilai kebersamaan, rasa hormat pada leluhur, dan kesinambungan budaya.

Rosalinda Ceme bersama timnya, Florentianus Dopo dan Sena Iswara Samino, mencatat dalam Jurnal Citra Pendidikan (2021) bahwa Beghu berakar dari mimpi, yang kemudian diwujudkan menjadi instrumen nyata dan berperan besar dalam kehidupan masyarakat. Musik ini hidup dan tumbuh dari praktik keseharian, mitos leluhur, juga kepercayaan lokal yang kuat. Dalam tradisi mereka, Beghu tak boleh dimainkan sembarangan. Ia hanya dihadirkan dalam upacara adat atau ritual keagamaan dengan tujuan mengundang dan memanggil kehadiran roh nenek moyang serta berkomunikasi dengan roh tersebut.

Instrumen Beghu terdiri dari dua jenis gendang dan tujuh pasang gong bambu. Gendang panjang disebut juga laba dewa, sedangkan yang pendek lebih dikenal dengan laba bhoko. Gong bambu yang disebut toda dimainkan dengan cara dipukul dan membentuk harmoni unik dengan ritme yang bersahutan. Teknik permainan ini bukan sekadar menciptakan musik, melainkan juga membangun narasi spiritual yang hanya bisa dipahami dalam konteks budaya setempat.

Seorang tokoh bernama Prier, peneliti musik tradisional dan misionaris Jesuit yang mendalami musik Nusantara, menyebut Beghu sebagai musik yang mengandung Lautmalerei, yakni musik yang menggambarkan suasana atau lanskap tertentu. Ia menegaskan bahwa setiap nada yang dimainkan dalam Beghu mengandung makna simbolik, yang bila dimainkan secara keliru bisa dianggap sebagai pelanggaran adat. Bahkan, pemain yang salah memukul notasi tertentu dikenai denda karena dianggap mengganggu komunikasi dengan leluhur.

Cerita rakyat di Gezu, tempat asal Beghu, menyebutkan bahwa alat musik ini pertama kali dibuat oleh pasangan Ebu Uwe dan Ebu Owa setelah mendapat petunjuk melalui mimpi. Dalam mimpi tersebut, mereka diminta membangun rumah adat dan melengkapinya dengan Beghu agar bisa memperoleh keturunan. Narasi ini menegaskan keterikatan antara Beghu dengan dimensi spiritual, kepercayaan, dan harapan akan masa depan.

Namun, Beghu kini menghadapi berbagai tantangan serius. Fakta menunjukkan bahwa modernisasi, migrasi urban, dan perubahan gaya hidup generasi muda menggerus eksistensi Beghu. Anak-anak di Nagekeo kini lebih mengenal musik digital ketimbang tradisi leluhurnya. Di sekolah, instrumen seperti Beghu tidak diajarkan secara formal. Akibatnya, warisan ini perlahan tersisih dan kehilangan relevansinya di mata generasi muda.

Lebih buruk lagi, belum ada dokumentasi menyeluruh yang mencatat teknik permainan, notasi, atau sejarah musik Beghu secara sistematis. Selama ini, pengetahuan hanya diturunkan secara lisan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ketika para maestro tua wafat tanpa penerus, maka lenyap pula sebagian besar memori kultural yang mereka simpan.

Pelestarian Beghu memerlukan pendekatan lintas sektor. Pemerintah daerah, institusi pendidikan, komunitas budaya, hingga teknologi digital harus bersinergi. Beberapa strategi penting meliputi pendokumentasian audio-visual, integrasi Beghu dalam kurikulum sekolah, pendirian sanggar seni, serta penyelenggaraan lokakarya rutin untuk anak muda.

Di era digital ini, teknologi bisa menjadi sekutu penting. Misalnya, pembuatan aplikasi edukasi berbasis permainan, kanal media sosial khusus budaya Flores, serta pengarsipan daring dapat memperluas jangkauan Beghu ke generasi milenial dan Gen Z. Keberhasilan Thailand dan Vietnam dalam menjaga musik tradisional mereka melalui platform digital bisa dijadikan contoh relevan.

Selain itu, Beghu juga bisa dikembangkan sebagai bagian dari ekowisata dan turisme budaya. Dengan pendekatan yang tepat, ia bukan hanya dapat bertahan, tetapi juga bertransformasi menjadi simbol kebanggaan dan daya tarik budaya internasional.

Beghu bukan sekadar alat musik; ia adalah narasi panjang tentang manusia, alam, spiritualitas, dan identitas. Ia menghubungkan masa lalu dengan masa kini, dan membuka pintu bagi masa depan budaya yang inklusif dan sadar akar. Melestarikan Beghu berarti menjaga suara nenek moyang agar tetap hidup—berdendang di tengah dunia yang terus berubah.

Redaktur: Annisya Putri Anggraini

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.