
Oleh: Ramadhina Ayu Fitrah, Ramona Sefaca Situmorang, Jois Domini, Canesha Tiya Purba, Herlinawati Halawa, Nur azizah, Grace Nathania Pricilla Sirait
Suara USU, Medan. Project Based Learning (PBL) adalah sebuah pendekatan pembelajaran berbasis proyek yang menempatkan mahasiswa sebagai pelaku aktif dalam memahami dan mengkaji persoalan nyata di lingkungan masyarakat. Tujuan utama dari PBL adalah menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, meningkatkan keterampilan kolaboratif, dan menumbuhkan kepekaan sosial mahasiswa agar mereka tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mengaplikasikannya secara nyata.
Dalam rangka memenuhi tugas Mata Kuliah Pengorganisasian dan Pengembangan Masyarakat (COCD), kelompok 6 yang terdiri dari mahasiswa Program Studi Manajemen, Fisika, dan Psikologi Universitas Sumatera Utara melakukan asesmen terhadap salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa yang dikenal aktif dan berprestasi, yakni UKM Lentera Nataraja USU. Adapun anggota kelompok 6 terdiri dari Ramadhina Ayu Fitrah (230502062), Ramona Sefaca Situmorang (230801037), Jois Domini (230801077) Canesha Tiya Purba (230801081), Herlinawati Halawa (231301015), Nur azizah (231301069), dan Grace Nathania Pricilla Sirait (231301203). Seluruh kegiatan asesmen ini dilakukan kelompok atas bimbingan Bapak Fajar Utama Ritonga, S.Sos., M.Kesos, selaku dosen pengampu Mata Kuliah Pengorganisasian dan Pengembangan Masyarakat (COCD MKWU-A).

UKM Lentera Nataraja USU adalah unit kegiatan mahasiswa yang berfokus pada pelatihan dan pengembangan minat di bidang tari tradisional Indonesia. UKM ini berdiri sebagai salah satu pilar budaya kampus yang rutin melaksanakan latihan setiap hari Senin dan Kamis pukul 15.00 WIB s/d pukul 18.00 WIB di Sanggar Kebudayaan Gedung Cikal Pintu 3 USU, Kampus Padang Bulan, Medan Baru, Kota Medan, Sumatera Utara, dengan fasilitas seperti matras dan cermin yang cukup menunjang latihan olah tubuh dan ekspresi tari.
UKM ini menarik untuk diasesmen bukan hanya karena fokusnya pada bidang seni, tetapi juga karena semangat dan keunikan sistem yang mereka bangun dari dalam. Lentera Nataraja bukan sekadar ruang latihan tari; UKM ini telah menjelma menjadi rumah kedua bagi para mahasiswa yang berasal dari berbagai jurusan dan latar belakang. Mereka menciptakan ruang yang ramah, inklusif, dan konsisten. Salah satu hal yang membedakan mereka dari UKM lain adalah fleksibilitas yang tetap diiringi tanggung jawab. Tidak ada sanksi kaku bagi anggota yang tidak bisa hadir latihan, namun absensi tetap dicatat sebagai bentuk penghargaan terhadap komitmen dan keaktifan. Mereka bahkan menyediakan rekaman video latihan agar anggota tetap bisa belajar kapan pun dan di mana pun.
Keberadaan struktur organisasi yang lengkap dan fungsional dari Badan Pengurus Harian dan seluruh anggota membuat sistem kerja di dalam UKM ini berjalan dengan efisien. Tak hanya fokus pada pelatihan, Lentera Nataraja juga aktif mendokumentasikan dan mempublikasikan kegiatan mereka di media sosial sebagai bagian dari upaya menjaga eksistensi dan menarik minat generasi muda terhadap seni tari tradisional.
Lentera Nataraja juga memiliki pencapaian mereka yang luar biasa di berbagai kompetisi. Mereka telah mengharumkan nama Universitas Sumatera Utara dalam banyak ajang kompetisi, baik nasional maupun internasional. Dalam ajang Internasional, seperti kompetisi Indonesia – Malaysia – Thailand Growth Triangle (IMT-GT) Varsity Carnival, UKM Lentera Nataraja telah berhasil meraih predikat sebagai Best Performance, Best Music Performance, dan Most Spectacular Performance sejak beberapa tahun terakhir mengikuti ajang IMT-GT . Selain itu, mereka juga meraih juara 2 dalam kompetisi tari tingkat nasional di Yogyakarta serta juara 1 dalam lomba antar universitas yang diselenggarakan oleh Universitas Potensi Utama, Medan, dan masih banyak pencapaian kemenangan lomba lainnya.
Yang lebih menginspirasi lagi, setiap kali mengalami kegagalan dalam perlombaan, anggota UKM Lentera Nataraja tidak langsung patah semangat. Sebaliknya, kegagalan menjadi titik tolak untuk evaluasi dan perbaikan. Setelah setiap penampilan, mereka rutin menonton ulang rekaman tarian mereka bersama pelatih dan pengurus untuk mengidentifikasi kekurangan. Proses refleksi inilah yang menjadi kekuatan Lentera Nataraja dalam mempertahankan kualitas dan semangat juang mereka di panggung berikutnya.
Meskipun belum aktif terlibat langsung dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, Lentera Nataraja tetap berkontribusi secara kultural melalui keikutsertaan mereka sebagai pengisi acara pembuka dalam berbagai event kampus, menjadi media partner, atau menjadi bagian dari perayaan-perayaan yang menampilkan unsur seni dan budaya. Mereka percaya bahwa kontribusi terhadap komunitas bisa hadir dalam berbagai bentuk, termasuk melalui pengaruh positif seni di ruang publik. Ke depannya, UKM Lentera Nataraja berencana memperluas jejaring kerja sama dengan komunitas seni dari berbagai kampus di Sumatera Utara, serta meningkatkan partisipasi mereka dalam kompetisi nasional dan internasional. Mereka juga memiliki visi untuk membuka pelatihan seni tari yang lebih terbuka dan merangkul lebih banyak mahasiswa USU, agar semakin banyak generasi muda yang mengenal, mencintai, dan melestarikan kekayaan budaya bangsa melalui tarian tradisional.
Melalui seluruh rangkaian asesmen dan wawancara yang kami lakukan, kami menemukan bahwa Lentera Nataraja bukan sekadar UKM yang bergerak di bidang seni, melainkan sebuah komunitas pembentuk karakter. Mereka hidup dalam prinsip yang sejalan dengan teori pengorganisasian komunitas seperti yang dikemukakan oleh Susan Kenny (2011) yakni pentingnya partisipasi aktif, struktur yang kuat, dan identitas kelompok yang jelas. Mereka juga menjadi representasi konkret dari capacity building menurut Chaskin (2001), di mana pembelajaran kolektif, kolaborasi, dan keberlanjutan menjadi pondasi tumbuhnya potensi individu dan komunitas secara bersamaan.
Satu hal yang pasti, Lentera Nataraja adalah lentera yang tak pernah padam. Ia terus menari dalam semangat, terus hidup dalam karya, dan terus bersinar sebagai penjaga warisan budaya di tengah zaman yang terus bergerak. Dalam tiap gerak langkah dan hentak kaki mereka, terselip harapan bahwa budaya bukan sekadar masa lalu yang dikenang, tetapi masa depan yang diperjuangkan.
Artikel ini merupakan publikasi tugas Mata Kuliah Pengorganisasian dan Pengembangan Masyarakat (COCD) dengan Dosen Pengampu Bapak Fajar Utama Ritonga, S.Sos., M.Kesos.,
Redaktur: Indira Rivany
Leave a comment