Oleh: Tricia Amanda Simare Mare
SUARA USU, Medan. Di zaman sekarang, teknologi digital berkembang sangat cepat dan membawa banyak perubahan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam pekerjaan sosial. Salah satu inovasi yang menurut saya cukup menarik dan relevan untuk diterapkan adalah model peer support atau dukungan sebaya yang berbasis komunitas digital, khususnya dalam konteks mendampingi lansia.
Saya membayangkan pekerja sosial bisa memberikan pelatihan dasar penggunaan teknologi kepada lansia, mengajarkan mereka cara bergabung ke komunitas digital, serta membangun suasana yang positif dalam komunitas tersebut. Dengan begitu, lansia bisa merasa lebih percaya diri, memiliki teman untuk berbagi cerita, dan merasa lebih berarti.
Pada tahun 1985 berdirilah Panti Jompo Yayasan Guna Budi Bakti. Aktivitas yang saya lakukan di sana yaitu mewawancarai pihak Panti Jompo, orang tua lansia, dan perawat yang mengurus orang tua lansia. Mohon maaf, saya juga permisi untuk mengambil video wawancara tersebut karena ini merupakan tugas belajar luar kampus. Saya memberikan beberapa pertanyaan hanya kepada 4 orang tua lansia, baik laki-laki maupun perempuan.
Saya merasa takut dan gugup saat mewawancarai 4 orang tua lansia. Perawat mengungkapkan kepada saya, “Jangan takut, anggap saja orang tua sendiri.” Saya pun langsung percaya diri untuk mewawancarai mereka. Ketika saya mewawancarai, ada pertanyaan yang saya ajukan: “Bapak/Ibu sekalian, apakah para orang tua yang dimasukkan dalam Panti Jompo bisa mengetahui perkembangan teknologi digital pada zaman sekarang atau pada generasi yang akan datang?” Empat orang lansia tersebut menjawab bahwa hanya sebagian kecil dari mereka yang tahu tentang media luar atau perkembangan teknologi. Sebagian besar tidak mengetahui informasi mengenai teknologi seperti handphone, internet, alat/robot canggih ciptaan manusia, sistem navigasi GPS, dan sebagainya.
Para orang tua lansia di Panti Jompo Yayasan Guna Budi Bakti sangat ramah. Mereka mengizinkan saya untuk mengambil video. Keempat orang tua lansia tersebut sangat senang menjawab pertanyaan-pertanyaan yang saya buat. Setelah saya selesai mewawancarai orang tua lansia pertama, saya meminta izin untuk berpindah ke lansia berikutnya. Para orang tua memberikan pujian atas pelayanan di Panti Jompo Yayasan Guna Budi Bakti. Bahkan ada satu orang lansia yang memberikan jempol sebagai bentuk apresiasi karena sangat menyukai pelayanan di sana.
Saya juga bertanya kepada pihak Panti Jompo Yayasan Guna Budi Bakti, “Apakah ada fasilitas yang disediakan oleh Panti Jompo ini?” Pihak Panti menjawab, “Fasilitas yang kami sediakan meliputi ruang kamar tidur, toilet, senam, ibadah sesuai kepercayaan masing-masing, dan karaoke. Mengenai makanan, kami menyesuaikan jenis makanan yang berbeda sesuai kebutuhan lansia yang tinggal di Panti Jompo.”
Pada umumnya, untuk masuk ke Panti Jompo Yayasan Guna Budi Bakti tidak dikenakan biaya sama sekali. Rata-rata orang tua lansia di sana tidak memiliki keluarga, hanya beberapa yang dikunjungi oleh saudara. Ketika seorang lansia meninggal, pihak Panti akan memberi tahu pihak keluarga, dan jenazah bisa langsung dikremasi di Panti Jompo.
Pesan yang disampaikan oleh para orang tua lansia di Panti Jompo Yayasan Guna Budi Bakti adalah:
“Belajarlah wahai anak muda, semoga kamu sukses di masa depan supaya bisa mengikuti perkembangan zaman teknologi saat ini, biar kamu berguna bagi bangsa dan negara Indonesia.”
Secara pribadi, saya melihat bahwa model peer support digital ini bukan hanya inovasi teknis, tapi juga bentuk nyata adaptasi sosial yang memperkuat prinsip-prinsip pekerjaan sosial, seperti pemberdayaan, partisipasi, dan keberlanjutan. Melalui pendekatan ini, lansia tidak lagi hanya menjadi objek, tapi juga subjek aktif yang bisa berkontribusi, belajar, dan berkembang bersama.
Namun tentu saja pendekatan ini tidak lepas dari tantangan. Masih ada lansia yang belum akrab dengan teknologi, belum memiliki perangkat digital, atau bahkan merasa asing dengan dunia maya. Oleh karena itu, pekerjaan sosial harus peka dan mampu memberikan pelatihan dasar, pendampingan teknis, serta menciptakan ruang digital yang aman dan nyaman bagi lansia.
Sebagai calon pekerja sosial, saya merasa metode ini perlu terus dikembangkan dan disosialisasikan. Bukan untuk menggantikan cara lama, tetapi justru sebagai pelengkap yang bisa memperluas jangkauan dan dampak dari pelayanan sosial kepada lansia. Dengan cara ini, kita bisa memastikan bahwa lansia tetap merasa dihargai, terhubung, dan bahagia di masa tuanya—baik secara offline maupun online.
Artikel ini merupakan publikasi tugas Mata Kuliah Metode-Metode Pekerjaan Sosial dengan Dosen Pengampu Bapak Fajar Utama Ritonga, S.Sos., M.Kesos.,
Redaktur: Indira Rivany
Leave a comment