Home Tulisan Kegiatan Praktikum Mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial Fisip USU di Sentra “Bahagia” di Medan: Bimbingan Motivasi Pada Anak Korban Eksploitasi
Tulisan

Kegiatan Praktikum Mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial Fisip USU di Sentra “Bahagia” di Medan: Bimbingan Motivasi Pada Anak Korban Eksploitasi

Share

Oleh: Johanes Hia

Suara USU, Medan. Pada tanggal 28 Februari 2025, para mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP Universitas Sumatera Utara resmi dilepaskan untuk menjalankan kegiatan Praktikum di lapangan. Kegiatan ini merupakan suatu acara simbolis sebagai tanda dilaksanakannya proses pembelajar langsung di lapangan yang merupakan suatu integrasi ilmu dan praktik sosial. Saya, Johanes Hia (NIM: 220902037) merupakan salah satu mahasiwa Ilmu Kesejahteraan Sosial, Fisip, Universitas Sumatera Utara yang mengikuti kegiatan praktikum. Adapun lokasi praktikum saya, yaitu di Sentra “Bahagia” di Medan yang merupakan suatu unit pelaksana teknis yang berada di bawah naungan Kementerian Sosial Republik Indonesia. Kegiatan praktikum yang saya laksanakan berlangsung dari tanggal 24 Maret hingga 4 Juni 2025. Dalam kegiatan ini, Dr. Husni Thamrin., S.Sos., MSP. menjadi Dosen pendamping praktikum yang memberikan arahan untuk kegiatan praktikum saya. Adapun supervisor lembaga saya, yaitu Ade Zul Affandi S.Sos, MSP. Lewat kegiatan praktikum ini, saya mengambil kesempatan untuk membuat suatu komitmen, tidak hanya menerapkan teori yang telah saya pelajari di perkuliahan, akan tetapi juga dapat turut mengambil peran secara nyata di dalam proses pemulihan sosial.

Sentra “Bahagia” adalah lembaga milik Kementerian Sosial RI yang berjalan di bidang rehabilitasi sosial. Lembaga ini memiliki fungsi untuk melakukan layanan perlindungan dan pemulihan sosial terhadap setiap kelompok rentan, yang di dalamnya juga terdapat korban eksploitasi, disabilitas, lanjut usia, dan kelompok marginal lainnya. Sentra “Bahagia” melakukan pengembangan dalam layanan intervensi, seperti asesmen sosial, terapi psikososial, hingga reintergrasi sosial. Program-program yang ada ini, dijalankan oleh para pekerja sosial profesional yang bekerja sama dengan berbagai stakeholder. Mahasiswa yang menjalankan kegiatan praktikum juga dapat ikut berkontribusi di dalam program pemulihan sosial yang ada, sebagai bentuk dari kerjasama di dalam suatu pembangunan sosial yang berkelanjutan.

Di dalam kegiatan praktikum, fokus intervensi yang saya lakukan adalah memberikan bimbingan motivasi terhadap anak yang menjadi korban eksploitasi. Anak korban eksploitasi cenderung memiliki trauma secara psikososial, kehilangan rasa percaya diri, dan jauh dari lingkungan yang positif atau mendukung. Bimbingan motivasi dapat dilakukan terhadap anak korban eksploitasi sebagai suatu pendekatan yang memiliki tujuan agar anak kembali memilki harapan, semangat, dan berdaya untuk membangun dan meraih masa depan. Bimbingan motiasi adakah suatu proses pendampingan yang memilki tujuan untuk membangkitkan semangat, keyakinan diri, dan kesadaran terhadap potensi yang dimiliki serta arah hidup. Bimbingan motivasi tidak hanya sekedar memberikan semangat, akan tetapi juga fokus pada aspek psikososial dan emosional agar mau untuk berubah. Ronaldus Jholi, Salah satu pendamping sosial yang juga merupakan pekerja sosial yang ada di Sentra “Bahagia” menjelaskan tentang pendekatan yang tepat untuk melakukan bimbingan motivasi adalah pendekatan persuasif yang di mana berorientasi pada keadaan anak korban eksploitasi agar anak bersedia untuk mengikuti kegiatan bimbingan motivasi yang ada. Anggi, seorang pendamping sosial yang juga merupakan seorang pekerja sosial di Sentra “Bahagia” juga menjelaskan tentang pendekatan di dalam bimbingan motivasi terhadap anak korban eksploitasi. “Kita tidak boleh langsung mengintervensi kasus si anak, akan tetapi kita harus membangun hubungan terlebih dahulu dengan anak. Motivasi yang diberikan juga harus sesuai dengan apa yang dirasakan si anak dan keadaan lingkungannya, serta tanpa adanya keterpaksaan”.

Dalam kegiatan praktikum ini, saya melakukan intervensi terhadap salah satu korban eksploitasi yang ada di Sentra “Bahagia” di Medan. Anak tersebut memiliki cita-cita untuk menjadi seorang polisi, akan tetapi kurang memiliki semangat dan tidak percaya diri akan cita-citanya. Oleh karena itu saya menjalankan beberapa kegiatan bimbingan motivasi di dalam proses intervensi yang sya aplikasikan kepada klien. Beberapa tahap yang dijalankan, diantaranya:

1. Engagement and Intake Contract

Ini merupakan tahap paling awal pada saat akan melakukan kegiatan intervensi terhadap klien. Tahap ini juga menjadi landasan untuk memnentukan kelancaran di dalam keigatan intervensi selanjutnya. Fokus saya dalam tahap ini adalah membangun kepercayaan antara praktikan dengam klien. Adapun usaha yang saya lakukan di dalam proses engagement adalah dengan mengajak bermain bersama, bercerit ringan tentang hal yang anak sukai, dan mendengarkan pengalaman klien tanpa menghakimi. Ketika hubungan telah terbangun, selanjutnya saya melakukan Intake Contract sebagai bentuk kesepakatan antara saya sebagai praktikan dan anak korban eksploitasi sebagai klien untuk menjalankan kegiatan intervensi ataupun bimbingan motivasi. Adapun kontrak ini ditandatangani oleh saya sebagai praktikan, anak sebagai klien, dan seorang pendamping sosial sebagai saksi.

2. Assesment

Pada tahap ini saya mengumpulkan identitas klien, seperti nama lengkap, usia, latar belakang, riwayat pendidikan, dan sebagainya. Selanjutnya saya juga mencari tau dan menggali tentang aspek minat, potensi, dan cita-cita yang ada pada anak. Dalam konteks ini saya berfokus pada cita-cita yang diinginkan oleh klien. Dalam konteks ini, saya menemukan bahwa klien memiliki keinginan yang kuat menjadi seorang polisi, oleh karena ia mengganggap bahwa polisi adalah sosok yang keren, melindungi, dan mengayomi. Akan tetapi klien merasa tidak percaya diri untuk dapat meraih cita-citanya oleh karena keadaanya. Adapun hasil dari asesmen ini saya jadikan landasan untuk membuat suatu perencanaan yang berfokus pada pendekatan bimbingan motivasi yang akan diaplikasikan pada tahap intervensi.

3. Planning

Tahap in merupakan tahap yang strategis di dalam kegiatan bimbingan motivasi ini. Tahap ini merupakan jembatan antara hasil asesmen dengan proses intervensi yang akan dilaksanakan. Pada tahap ini saya membuat suatu rencana secara komprehensif. Berdasarkan hasil asesmen, klien memiliki cita-cita untuk menjadi seorang polisi. Oleh karena itu saya menggunakan pendekatan strengths-based perspective yang dikembangkan oleh Dennis Saleebey, yang di mana pendekatan ini fokus terhadap kekuatan dan potensi anak, bukan terhap kelemahan atau masalah klien. Oleh karena itu saya merencanakan untuk melakukan beberapa kegiatan yang dapat membangun semangat dan kepercayaan diri anak akan cita-citanya.

4. Intervention

Tahap ini adalah tahap paling utama di dalam kegiatan bimbingan motivasi yang dijalankan. Pada tahap ini saya menerapkan beberapa kegiatan atau strategi yang sudah saya rancang pada tahap perencanaan. Beberapa kegiatan yang saya lakukan, yaitu:

  • Motivational Interviewing: Saya memberikan afirmasi positif dan dukungan yang empatik agar anak memiliki keinginan untuk berubah menjadi lebih baik dan percaya diri akan cita-citanya.
  • Motivasi lewat media visual (Menonton video animasi tentang profesi polisi): Sebagai bentuk stimulan visual untuk memberikan edukasi kepada anak mengenai profesi polisi.
  • Kegiatan kreatif (Mewarnai gambar polisi): Kegiatan ini bertujuan agar anak dapat mengekspresikan gambaran dari profesi tersebut secara visual dan mengkonstruksi cita dirinya sebagai “calon polisi”
  • Dream Job Activity: Kegiatan ini merupakan kegiatan menempel gambar tentang apa yang diinginkan anak di dalam profesi polisi ke dalam media yang disebut sebagai “dream job”. Kegiatan ini menyusun suatu representasi diri yang positif dan harapan untuk masa depan.

5. Termination

Tahap ini merupakan proses pemutusan kontrak oleh karena kegiatan layanan atau bimbingan motivasi yang dilaksanakan antara saya sebagai praktikan kepada anak korban eksploitasi sebagai klien. Adapun terminasi dilaksanakan oleh karena tujuan dari proses intervensi antara saya sebagai praktikan dan klien telah tercapai.

6. Evaluation

Before: Kondisi anak sebelum intervensi

Sebelum kegiatan intervensi dilakukan, menunjukkan beberapa indikator yang rentan secara psikososial yang ada pada anak korban eksploitasi, diantaranya:

  • Rendahnya motivasi anak untuk berpartisipasi dalam kegiatan positif
  • Tingkat self-efficacy (keyakinan terhadap kemampuan diri) yang rendah.
  • Keterbatasan ekspresi diri dan komunikasi terbuka.
  • Kebiasaan yang tidak disiplin

After: Kondisi anak setelah intervensi

Setelah anak megikuti segala kegiatan intervensi yang tersturuktur dan konsisten, suatu perubahan positif mulai tampak secara bertahap. Adapun beberapa indikator keberhasilan yang diperhatikan, antara lain:

  • Peningkatan motivasi dan semangat hidup, terutama semangat anak dalam menggapai cita-citanya.
  • Meningkatnya self-efficacy. Hal ini ditandai oleh munculnya kepercayaan diri anak untuk menyampaikan mimpi dan keinginan yang kuat oleh anak untuk mau belajar.
  • Perkembangan keterbukaan emosional. Hal ini dilihat dari inisiatif anak untuk berbagi mengenai cerita pribadinya dan menyatakan hal yang diinginkannya dalam bentuk harapan di masa depan.
  • Perbaikan dalam kedisiplinan dan tanggung jawab. Anak mulai menerapkan kedisiplian di dalam aktivitasnya sehari-hari.

Sebagai penutup, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan bimbingan, edukasi, kepercayaan, dan bantuan selama kegiatan praktikum. Saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dr. Husni Thamrin, S.Sos., MSP, selaku Supervisor Sekolah yang telah membimbing saya dengan memberikan arahan selama masa praktikum dan telah memberikan saya acuan dan membentuk integritas saya sebagai calon pekerja sosial. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak Ade Zul Affandi, S.Sos., MSP., selaku Supervisor Lembaga di Sentra “Bahagia” di Medan, yang telah memberikan kesempatan, kepercayaan, dan pembinaan secara langsung di lapangan. Setiap dukungan dan edukasi sangat berarti bagi saya untuk menghadapi setiap dinamika kerja sosial yang beragam. Saya juga menyampaikan rasa hormat sebesar-besarnya kepada seluruh jajaran di Sentra “Bahagia” di Medan yang telah memberikan ruang untuk mendapatkan edukasi yang sangat berharga. Semoga setiap kebaikan, dedikasi, dan ilmu yang saya dapatkan selama masa praktikum dapat menjadi dasar yang kuat bagi saya untuk melanjutkan perjalanan sebagai agen perubahan sosial di dalam masyarakat.

Artikel ini merupakan bagian dari publikasi pemenuhan tugas mata kuliah Praktikum Kesejahteraan Sosial FISIP USU dengan Dosen Pengampu Bapak Fajar Utama Ritonga S.Sos M.Kesos. dan Supervisor Dr. Husni Thamrin S.Sos., MSP

 

Redaktur: Indira Rivany 

 

 

 

 

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.