Home Tulisan Dari Pelaku Kehidupan menjadi Kurator Kehidupan Digital
Tulisan

Dari Pelaku Kehidupan menjadi Kurator Kehidupan Digital

Share

Oleh: Theona Kimy Lova Batubara

Media sosial pada era digital tidak lagi sekadar ruang komunikasi, tetapi telah berkembang menjadi sistem yang secara aktif membentuk cara manusia memahami dirinya sendiri. Di Indonesia, jumlah pengguna media sosial telah mencapai lebih dari 170 juta orang, dengan rata-rata waktu penggunaan harian yang dapat mencapai sekitar 3–4 jam per hari atau lebih dari 20 jam setiap minggunya. Angka ini menunjukkan bahwa media sosial telah menjadi bagian yang hampir tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat, terutama generasi muda yang paling aktif menggunakan berbagai platform seperti TikTok, Instagram, X (Twitter), dan WhatsApp.

Tingginya intensitas penggunaan ini terlihat jelas dari pola interaksi masyarakat yang hampir selalu terhubung dengan media sosial dalam berbagai aktivitas. Mulai dari bangun tidur, banyak orang langsung membuka ponsel untuk melihat notifikasi, hingga menjelang tidur kembali melakukan aktivitas scrolling konten. Bahkan dalam aktivitas sehari-hari di ruang publik seperti makan di restoran, berkumpul dengan teman, atau bepergian, banyak individu tetap terdorong untuk mendokumentasikan dan membagikan momen tersebut di media sosial. Fenomena unggahan keseharian seperti daily life, story aktivitas, get ready with me, hingga “curhat digital” menunjukkan bahwa kehidupan sehari-hari kini semakin tidak bisa dipisahkan dari kebutuhan untuk ditampilkan kepada publik.

Media sosial pada akhirnya tidak hanya menjadi ruang dokumentasi, tetapi juga mulai berperan sebagai ruang pembentuk perilaku. Banyak pengguna yang secara tidak sadar merencanakan aktivitas mereka berdasarkan potensi “layak konten”, misalnya memilih tempat makan yang estetik, mengatur pencahayaan untuk foto, atau bahkan mengulang momen agar terlihat lebih menarik saat diunggah. Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman hidup tidak lagi sepenuhnya spontan, tetapi telah melalui proses seleksi dan konstruksi visual sebelum dipublikasikan. Dengan demikian, media sosial tidak hanya merekam kehidupan manusia, tetapi perlahan mengarahkan bagaimana kehidupan itu dijalani agar sesuai dengan standar keterlihatan di ruang digital.

Perubahan ini menandai pergeseran mendasar dalam posisi manusia: dari pelaku kehidupan menjadi kurator kehidupan. Individu tidak lagi hadir sebagai subjek yang sepenuhnya menjalani pengalaman secara utuh, tetapi sekaligus menjadi pengelola citra yang terus-menerus menyeleksi realitasnya sendiri sebelum ditampilkan ke ruang publik digital. Dalam kondisi ini, setiap pengalaman tidak lagi bersifat spontan, melainkan melalui proses pertimbangan apakah momen tersebut “layak” untuk dibagikan atau tidak. Akibatnya, kehidupan perlahan dikonstruksi agar sesuai dengan citra yang ingin ditampilkan kepada audiens di media sosial.

Fenomena ini dapat dilihat secara konkret dalam berbagai praktik konten digital seperti study with me, daily routine, hingga life update yang banyak ditemukan di platform seperti TikTok dan Instagram. Dalam konten study with me, misalnya, proses belajar yang seharusnya bersifat personal dan fokus pada pengalaman individu justru direkam, diatur pencahayaannya, bahkan disusun ulang agar terlihat produktif dan estetis. Begitu juga dalam konten daily routine, aktivitas sehari-hari seperti bangun tidur, sarapan, hingga belajar atau bekerja tidak lagi sekadar aktivitas biasa, tetapi menjadi rangkaian adegan yang dikurasi agar tampak ideal di mata penonton. Sementara itu, life update sering kali hanya menampilkan potongan kehidupan tertentu yang sudah dipilih secara selektif, bukan keseluruhan realitas yang sebenarnya terjadi.

Dalam proses tersebut, kehidupan manusia terpecah menjadi dua lapisan yang semakin jelas batasnya, yaitu kehidupan yang dialami (lived experience) dan kehidupan yang ditampilkan (performed life). Kehidupan yang ditampilkan di ruang digital bukan lagi representasi utuh dari realitas, melainkan hasil kurasi yang disaring berdasarkan nilai visual, emosional, dan sosial agar dapat diterima, disukai, dan mendapat respons dari audiens.

Erving Goffman melalui teori dramaturgi menjelaskan bahwa kehidupan sosial bekerja seperti panggung pertunjukan, di mana individu memainkan peran di hadapan audiens. Namun dalam konteks media sosial, konsep ini mengalami radikalisasi. Bukan hanya sekadar “menampilkan diri”, tetapi individu dipaksa terus-menerus mengelola performa dirinya secara permanen. Batas antara “front stage” dan “back stage” semakin runtuh, karena bahkan ruang privat pun berpotensi menjadi materi publik.

Sherry Turkle memperdalam kritik ini dengan menunjukkan bahwa teknologi digital telah menggeser cara manusia membangun identitas. Individu tidak lagi membentuk diri melalui pengalaman langsung yang stabil, tetapi melalui respons digital yang fluktuatif. Likes, komentar, dan views tidak hanya menjadi bentuk interaksi, tetapi berubah menjadi mekanisme penilaian sosial yang dapat memengaruhi rasa keberhargaan diri seseorang. Dalam kerangka ini, validasi digital berperan sebagai indikator sosial baru yang turut membentuk cara individu memahami dan mengevaluasi dirinya.

Sejumlah penelitian dalam bidang psikologi media sosial juga mendukung temuan tersebut. Studi eksperimental oleh Sherman et al. (2016) dalam Psychological Science menemukan bahwa individu yang menerima lebih banyak “likes” pada unggahan media sosial menunjukkan peningkatan aktivasi sistem reward di otak serta menilai konten tersebut lebih positif, yang mengindikasikan adanya penguatan respons terhadap penerimaan sosial melalui media digital. 

Lebih jauh, algoritma media sosial memperkuat logika ini dengan cara yang tidak terlihat tetapi sangat menentukan. Sistem algoritmik tidak hanya menampilkan konten, tetapi juga mengarahkan perilaku pengguna. Konten yang emosional, dramatis, dan visual lebih diutamakan, sehingga secara tidak langsung manusia didorong untuk menyesuaikan kehidupannya agar sesuai dengan logika keterlihatan (visibility logic). Akibatnya, kehidupan tidak lagi dijalani berdasarkan kebutuhan personal, tetapi berdasarkan potensi ketersebarannya di ruang digital.

Dampak dari kondisi ini tidak hanya bersifat psikologis, tetapi juga struktural terhadap cara manusia memaknai dirinya. Individu semakin terjebak dalam siklus perbandingan sosial yang terus-menerus, di mana kehidupan orang lain yang telah dikurasi tampak lebih ideal daripada realitas sendiri. Fenomena ini sejalan dengan teori social comparison yang dikemukakan oleh Leon Festinger, yang menjelaskan bahwa individu cenderung menilai dirinya dengan membandingkan diri dengan orang lain, terutama dalam konteks sosial yang terus terekspos seperti media sosial.

Penelitian yang dilakukan oleh Vogel, Rose, Roberts, dan Eckles (2014) dalam Psychology of Popular Media Culture menemukan bahwa penggunaan media sosial yang lebih tinggi berkaitan dengan meningkatnya kecenderungan perbandingan sosial, yang kemudian berhubungan dengan rendahnya harga diri (self-esteem) serta menurunnya kesejahteraan psikologis individu. Kondisi ini terjadi karena individu cenderung mengevaluasi dirinya melalui perbandingan dengan orang lain yang tampil lebih positif di media sosial, sehingga dapat memengaruhi cara mereka menilai diri sendiri dan pengalaman subjektif kesejahteraan psikologisnya.

Pada titik yang lebih dalam, media sosial tidak hanya mengubah perilaku, tetapi juga mengubah ontologi pengalaman manusia. Beberapa penelitian dalam kajian media digital menunjukkan bahwa pengalaman kini semakin dinilai berdasarkan tingkat keterlihatan (visibility) dan respons publik, bukan lagi pada makna personalnya. Dengan demikian, kehidupan perlahan bergeser menjadi objek representasi, di mana pengalaman harus dapat dipublikasikan, dikonsumsi, dan direspons agar dianggap “nyata” dalam ruang sosial digital.

Kesimpulannya, media sosial telah menggeser posisi manusia dari pelaku kehidupan menjadi kurator kehidupan yang terus-menerus mengelola citra dirinya di ruang digital. Perubahan ini tidak dapat dilihat hanya sebagai fenomena gaya hidup, tetapi sebagai transformasi mendasar dalam cara manusia membentuk identitas dan memaknai realitas. Di tengah dominasi logika keterlihatan dan algoritma, tantangan terbesar manusia modern adalah mempertahankan dirinya sebagai subjek yang utuh, bukan sekadar representasi yang dikurasi untuk konsumsi publik.

Artikel ini disusun sebagai bagian dari pemenuhan tugas Ujian Akhir Semester (UAS) mata kuliah Sosiologi Keluarga yang diampu oleh Dra. Berlianti M.SP

Redaktur: Siti Farhatun Nafis Azhari

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.