Oleh: Ghefira Mannawa Salwa
Suara USU, Medan. Belakangan ini, ruang media sosial dipenuhi oleh berbagai respons masyarakat terhadap kondisi ekonomi Indonesia. Salah satu yang cukup menarik perhatian adalah munculnya seruan seperti #SellSingapore dan #BuyIndonesia, yang dipahami sebagai ajakan untuk lebih mendukung perputaran ekonomi dalam negeri dibanding mengalihkan preferensi ekonomi ke luar negeri. Fenomena ini semakin meluas setelah sejumlah tokoh publik, influencer, dan akun media sosial membahas gerakan tersebut, hingga narasi itu menyebar luas melalui Instagram, TikTok, X (Twitter), hingga grup WhatsApp. Di tengah melemahnya nilai rupiah serta meningkatnya keresahan masyarakat terhadap kenaikan biaya hidup, gerakan seperti ini menjadi topik yang ramai diperbincangkan di berbagai platform digital.
Namun, di balik ramainya perang tagar tersebut, terdapat persoalan yang lebih besar untuk direnungkan. Fenomena ini tidak hanya berbicara tentang pilihan ekonomi masyarakat, tetapi juga membuka kembali diskusi mengenai kedaulatan ekonomi Indonesia dan sejauh mana masyarakat menyadari perannya dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Di saat kondisi ekonomi menjadi perhatian bersama, muncul pertanyaan yang menarik untuk dibahas, apakah gerakan seperti ini hanya merupakan respons sesaat terhadap situasi yang sedang berlangsung, atau justru menjadi tanda tumbuhnya kesadaran kolektif bahwa menjaga ekonomi negara bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga memerlukan keterlibatan masyarakat?
Selama ini, isu ekonomi sering dipandang sebagai sesuatu yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Nilai tukar rupiah, pergerakan dolar, investasi, dan kebijakan moneter sering dianggap hanya urusan pemerintah, bank sentral, atau pelaku pasar. Padahal, ketika kondisi ekonomi mengalami tekanan, dampaknya justru dirasakan langsung oleh masyarakat.
Kondisi ekonomi yang mengalami tekanan sering kali lebih mudah dirasakan masyarakat melalui perubahan dalam kehidupan sehari-hari dibanding melalui angka kurs ekonomi di media. Nilai tukar rupiah bahkan sempat mencetak rekor terlemah sepanjang sejarah, parkir di level Rp17.127 per dolar AS pada penutupan perdagangan April 2026, jauh melampaui asumsi APBN 2026 yang ditetapkan di kisaran Rp16.000 per dolar AS. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia mengalami inflasi year on year sebesar 3,08% pada Mei 2026, naik signifikan dibanding periode yang sama tahun lalu yang hanya 1,60%, dengan kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar dengan andil inflasi 1,43%.
Komoditas yang dominan mendorong kenaikan harga antara lain beras, cabai merah, cabai rawit, minyak goreng, daging ayam ras, serta ikan segar. Kondisi ini menunjukkan bahwa perubahan ekonomi tidak hanya terlihat dari pergerakan nilai tukar rupiah, tetapi juga mulai dirasakan masyarakat melalui meningkatnya biaya hidup dan perubahan harga kebutuhan sehari-hari. Dari situ, tidak mengherankan jika kemudian muncul berbagai bentuk respons publik yang dianggap dapat menjadi bentuk partisipasi dalam menghadapi situasi ekonomi yang sedang berlangsung.
Tekanan tersebut juga tecermin dari perilaku konsumsi masyarakat. Survei Bank Indonesia mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Mei 2026 turun ke level 120,9 dari 123,0 pada April 2026, menandai posisi terendah sejak September 2025, penurunan yang sebagian besar didorong oleh penilaian yang lebih lemah terhadap kondisi ekonomi saat ini. Indeks Penjualan Riil Mei 2026 pun diperkirakan terkontraksi 3,2% secara tahunan, melanjutkan kontraksi pada April yang tercatat 3,7%. Masyarakat, dengan kata lain, mulai semakin selektif dalam membelanjakan pendapatannya, sebuah sinyal nyata bahwa tekanan ekonomi telah merembes jauh ke dalam kehidupan rumah tangga sehari-hari.
Dalam situasi seperti ini, muncul kecenderungan untuk kembali membicarakan konsep nasionalisme ekonomi, gagasan bahwa masyarakat dapat ikut memperkuat ekonomi nasional melalui pilihan dan perilaku sehari-hari. Bentuknya bisa sederhana, yaitu lebih sadar terhadap produk lokal, memberi ruang bagi usaha dalam negeri, atau membangun kepercayaan terhadap kemampuan ekonomi nasional.
Di titik ini, gerakan seperti #BuyIndonesia menjadi menarik karena menawarkan bentuk partisipasi yang berbeda. Alih-alih hanya menjadi penonton dari perubahan ekonomi, masyarakat diajak untuk merasa memiliki peran dalam mendukung perputaran ekonomi domestik.
Namun, yang juga perlu dipahami adalah bahwa kondisi ekonomi negara tidak dapat diselesaikan hanya melalui satu gerakan atau satu pilihan konsumsi. Menguat atau melemahnya rupiah tidak terjadi karena satu tagar, satu kampanye, atau satu kelompok masyarakat saja. Ada banyak faktor yang bekerja secara bersamaan, mulai dari kondisi ekonomi global, kebijakan pemerintah, arus investasi, hingga tingkat kepercayaan pasar. Sejumlah pengamat ekonomi menilai masyarakat perlu memahami istilah dan gerakan tersebut secara proporsional, mengingat hubungan ekonomi Indonesia dan Singapura sangat erat, baik dari sisi perdagangan, investasi, maupun sektor keuangan.
Karena itu, yang mungkin lebih penting dari sekadar mengejar keberhasilan sebuah gerakan adalah membangun kesadaran bersama bahwa stabilitas ekonomi membutuhkan partisipasi dari banyak pihak. Di tengah situasi yang sensitif, masyarakat sering kali berada pada dua kutub respons, bereaksi secara emosional atau menjadi apatis. Padahal, ada ruang lain yang mungkin lebih produktif, yaitu membangun kesadaran kolektif mengenai apa yang sebenarnya bisa dilakukan bersama.
Menyuarakan dukungan terhadap ekonomi nasional tidak harus selalu dipahami sebagai menutup diri dari dunia luar. Nasionalisme ekonomi bukan berarti menolak hubungan internasional atau menganggap negara lain sebagai lawan. Sebaliknya, hal tersebut dapat dimaknai sebagai upaya memperkuat fondasi dalam negeri agar mampu bersaing secara lebih sehat di tingkat global. Bagi sebagian kalangan, istilah Sell Singapore kemudian berkembang menjadi simbol keinginan agar Indonesia semakin mandiri dalam mengelola kekuatan ekonominya sendiri bukan sebagai seruan permusuhan, melainkan sebagai dorongan untuk lebih percaya pada potensi dalam negeri.
Pada akhirnya, gerakan seperti #SellSingapore dan #BuyIndonesia mungkin bukan jawaban akhir atas tantangan ekonomi Indonesia. Namun, kemunculannya menunjukkan satu hal penting, yakni masyarakat mulai merasa bahwa kondisi ekonomi bukan lagi isu yang jauh dari kehidupan mereka.
Pertanyaan yang tersisa kemudian bukan lagi siapa yang paling benar dalam merespons situasi ini, melainkan bagaimana energi kolektif tersebut dapat diarahkan menjadi langkah yang lebih berkelanjutan. Sebab membangun negara tidak hanya bergantung pada kebijakan dari atas, tetapi juga pada kesadaran masyarakat untuk bergerak dari bawah.
Redaktur: Rifatul Suaidah
Leave a comment