
Oleh: Aliza Asyula Darma
Suara USU, Medan. Krisis iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan kenyataan yang sedang kita hadapi saat ini. Indonesia, yang dikenal sebagau negara kaya sumber daya alam, kini berada diambang kerusakan lingkungan. Penerbangan hutan secara masif, kebakaran hutan, pencemaran udara, hingga hilangnya keanekaragaman hayati menjadi bukti bahwa alam kita sedang tidak baik-baik saja.
Di Tengah hiruk-pikuk Pembangunan dan ego manusia yang terus mengeksploitasi alam, hadir sebuah lagu dari anak bangsa yang menyuarakan kepedulian terhadap lingkungan. Lagu berjudul “Dengar Alam Bernyanyi” ini merupakan karya kolaborasi Laelilmanino bersama HIVI!, Sheila Dara, dan Chicco Jerikho.
Lagu ini tidak menyuarakan kemarahan, melainkan disampaikan dengan kelembutan dan empati. Melalui lirik-liriknya, lagu ini mengingatkan kita bahwa alam juga layak untuk didengar. Lagu ini mengajak pendengarnya berhenti sejenak dan meresapi suara alam yang sering diabaikan. Lirik pembukanya berbunyi:
Bila kau ada waktu, lihat aku di sini, indah lukisan Tuhan, merintih ingin kau Kembali.
Lirik tersebut merefleksikan kerinduan alam terhadap manusia yang dulu begitu akrab dengannya. Lagu ini menjadi ajakan untuk merenung, bahwa dibalik hiruk-pikuk kehidupan di kota, ada suara alam yang menjerit untuk didengarkan.
Makna mendalam juga tampak dalam lirik tersebut:
Pandanglah indahnya biru yang menjingga, simpanlah gawaimu hirup dunia.
Pesan ini mengajak kita sejenak menjauh dari layar gawai dan menyatu kembali dengan alam. Lagu ini tidak hanya menyampaikan ajakan untuk menjaga lingkungan, melainkan juga untuk kembali hadir secara utuh dalam pelestarian alam. Sebagai manusia yang hidup berdampingan dengan semesta, kita wajib menghargai kekayaan alam yang luar biasa ini.
Ajakan dalam lagu ini terasa semakin relevan jika dikaitkan dengan kasus kerusakan lingkungan di Raja Ampat. Pulau yang dikenal memiliki ekosistem laut yang luar biasa ini terancam rusak akibat rencana pembukaan tambang nikel. Kebijakan tersebut memicu kekhawatiran karena berpotensi merusak terumbu karang, mencemari laut, dan mengganggu kehidupan flora dan fauna yang telah lama hidup damai di sana. Bila kerusakan terjadi, bukan hanya Papua yang kehilangan, melainkan juga dunia. Kondisi ini seolah tercermin dalam bait lagu:
Bayangkanlah hidupmu, bila tak ada kami.
Lirik ini menjadi peringat bahwa kerusakan alam akan berdampak langsung kepada manusia. Kita akan kehilangan bukan hanya keindahan, tetapi juga kehidupan.
Dari sisi musikalitas, “Dengar Alam Bernyanyi” disajikan dengan aransemen sederhana namun sarat makna. Alunan gitar yang lembut berpadu dengan suara-suara alam seperti kicauan burung dan desiran angin, menciptakan suasana yang tenang namun menggugah. Kehadiran vokal dari penyanyi lintas generasi dan latar belakang turut memperkaya warna lagu ini, menegaskan bahwa menjaga alam adalah tanggung jawab bersama.
Pada akhirnya, lagu ini menyampaikan bahwa perlwanan terhadap krisis lingkungan tidak selalu harus dilakukan dengan suara lantang. Kadang, suara yang lembut dan penuh empati justru lebih menggugah kesadaran. Melalui lagu “Dengar Alam Bernyanyi”, kita diingatkan bahwa alam juga memiliki suara dan hak yang harus dijaga serta dilindungi.
Redaktur: Nisya Augia
Leave a comment