Oleh: Tamara Tambunan/Muhammad Raghib/Gilberto Ronaldi/Dicky Kurniawan/Rizki Ismail/ Syndi Febriani
Suara USU, Medan. Mahasiswa Program Studi Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sumatera Utara (USU), melakukan penelitian lapangan di Desa Tanjung Garbus Satu, Kecamatan Lubuk Pakam. Kegiatan ini merupakan bagian dari mata kuliah Dinamika Masyarakat Pedesaan yang bertujuan untuk memahami lebih dalam mengenai perubahan sosial, ekonomi, dan budaya di desa tersebut, serta bagaimana masyarakat desa beradaptasi terhadap modernisasi yang kian pesat.
Desa Tanjung Garbus Satu, Kecamatan Lubuk Pakam, Kabupaten Deli Serdang, terus menunjukkan perkembangan signifikan dalam aspek sosial, ekonomi, dan infrastruktur. Sebagai desa yang terletak di antara area perkebunan dan pemukiman, desa ini menjadi contoh bagaimana masyarakat pedesaan dapat beradaptasi dengan tantangan modernisasi tanpa meninggalkan nilai-nilai lokal seperti gotong royong.
Dalam beberapa tahun terakhir, Desa Tanjung Garbus Satu berhasil memanfaatkan dana desa yang diberikan pemerintah melalui Undang-Undang No. 6 Tahun 2014 tentang Desa. Penggunaan dana ini difokuskan untuk membangun infrastruktur yang mendukung perekonomian masyarakat, seperti jalan desa, renovasi balai desa, serta pengembangan objek wisata lokal yang mendukung usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).
Kepala Desa Tanjung Garbus Satu, Basuki Rebo, menyampaikan bahwa salah satu kekuatan utama desa ini adalah semangat gotong royong yang masih sangat kental di tengah masyarakat. “Di sini, kami sangat mengandalkan gotong royong. Masyarakat selalu terlibat dalam berbagai kegiatan pembangunan, baik itu perbaikan jalan maupun pembangunan fasilitas umum. Gotong royong ini tidak hanya mempercepat pembangunan, tetapi juga mempererat hubungan antarwarga,” ungkapnya.
Kegiatan gotong royong di Desa Tanjung Garbus Satu dilakukan secara rutin setiap pekan atau sebulan sekali, tergantung kebutuhan. Ini mencerminkan masih kuatnya nilai-nilai tradisional di tengah masyarakat, meskipun modernisasi telah membawa banyak perubahan dalam pola interaksi sosial dan ekonomi.
Selain gotong royong, Kepala Desa juga menjelaskan bagaimana desa ini mengalami kemajuan pesat dalam sektor infrastruktur yang mendukung perekonomian. “Pembangunan infrastruktur yang didanai oleh dana desa seperti perbaikan jalan, fasilitas umum, dan pembangunan sarana pariwisata, sangat membantu peningkatan kesejahteraan masyarakat. Sekarang, dengan adanya jalan yang lebih baik, akses ke pasar dan tempat-tempat usaha lebih mudah,” tambahnya.
Desa ini juga memiliki objek wisata lokal yang sedang dikembangkan, yang diharapkan dapat menarik wisatawan dari dalam maupun luar daerah. Objek wisata ini tidak hanya menjadi sumber pendapatan baru bagi desa, tetapi juga membantu pelaku UMKM setempat. Salah satu contoh adalah pengrajin lokal yang memanfaatkan wisatawan sebagai pasar potensial untuk menjual produk kerajinan tangan mereka.
Meski perkembangan terlihat positif, Basuki Rebo juga menekankan bahwa desa masih menghadapi tantangan, terutama dalam hal pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia. “Kami masih perlu meningkatkan akses pendidikan dan pelatihan keterampilan untuk warga desa, terutama bagi generasi muda. Dengan keterampilan yang lebih baik, mereka bisa lebih berdaya saing dan mampu berkontribusi lebih besar bagi desa,” jelasnya.
Menurut Kepala Desa, partisipasi aktif masyarakat dalam program-program pemberdayaan menjadi kunci dalam menghadapi tantangan ini. Ia berharap bahwa kedepannya, lebih banyak program pelatihan keterampilan dan pendidikan vokasional yang dapat diakses oleh warga desa, terutama yang berkaitan dengan teknologi dan pengelolaan sumber daya lokal.
Melihat perkembangan yang sudah dicapai, Basuki Rebo optimis bahwa Desa Tanjung Garbus Satu memiliki potensi besar untuk terus tumbuh dan berkembang di masa depan. Dengan sinergi yang baik antara pemerintah desa dan masyarakat, desa ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi desa-desa lain dalam hal pengelolaan pembangunan yang berkelanjutan.
“Kami percaya, selama ada kerjasama yang baik antara pemerintah dan warga, desa kami akan semakin maju. Gotong royong adalah kekuatan utama kami, dan kami akan terus memanfaatkan nilai ini untuk mencapai kesejahteraan yang lebih baik,” tutupnya dengan penuh keyakinan.
Artikel ini ditujukan untuk memenuhi mata kuliah Dinamika Masyarakat Pedesaan
dengan Dosen Pengampu Ibu Dra. Berlianti, MSP dan Bapak Dr. Bengkel, M.Si.
Redaktur: Khalda Mahirah Panggabean
Leave a comment