Home Tulisan Implementasi Pancasila Dalam Menghadapi Intoleransi di Dunia Pendidikan Kota Medan
Tulisan

Implementasi Pancasila Dalam Menghadapi Intoleransi di Dunia Pendidikan Kota Medan

Share

Oleh: Rafael Yose Immanuel Rumahorba/Faris Anwar Faizan Nst/Mutiara Atika Purnama/Anisah Luthfi/Dwi Hartati/Vita Aulia Rahmah/Rifki Maulana                                         

Suara USU, Medan. Indonesia adalah negara yang kaya akan keberagaman suku, agama, budaya, dan bahasa, yang di satu sisi menjadi kekuatan, namun di sisi lain juga menghadirkan tantangan, terutama terkait fenomena intoleransi. Intoleransi, khususnya di kalangan generasi muda, kerap muncul dalam bentuk diskriminasi berdasarkan agama, ras, atau perbedaan keyakinan. Kondisi ini jika tidak ditangani dengan baik, dapat mengancam persatuan bangsa yang telah dibangun. Dalam konteks pendidikan, nilai-nilai Pancasila memiliki peran penting dalam membangun sikap toleransi dan menghargai perbedaan di kalangan siswa dan mahasiswa. Pendidikan di sekolah dan perguruan tinggi menjadi kunci untuk menanamkan nilai-nilai ini sejak dini, sehingga generasi muda dapat tumbuh menjadi individu yang mampu menghormati keberagaman dan menjaga persatuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji implementasi Pancasila dalam dunia pendidikan di Medan, serta perannya dalam menghadapi fenomena intoleransi yang muncul di lingkungan akademik.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei daring. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang dibagikan kepada 83 responden. Dari total responden, 60 orang merupakan mahasiswa yang berasal dari berbagai perguruan tinggi di Medan, yaitu Universitas Sumatera Utara, Poltekkes Kemenkes Medan, ST Bhineka, dan Universitas Negeri Medan. Sementara itu, 23 orang lainnya adalah siswa dari SMK Negeri 3 Medan. Kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini dirancang untuk mengukur tingkat intoleransi responden, sikap terhadap keberagaman, serta penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Data yang dikumpulkan kemudian dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk diagram untuk mempermudah interpretasi hasil.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

1.Tingkat Intoleransi di Kalangan Responden

Hasil analisis data menunjukkan bahwa tingkat intoleransi di kalangan responden, baik mahasiswamaupun siswa, relatif rendah. Dari keseluruhan responden, mayoritas menunjukkan sikap toleransi yang tinggi terhadap perbedaan, baik dalam konteks agama, suku, maupun budaya. Sebagian besar responden merasa nyaman berinteraksi dengan orang-orang yang berbeda latar belakang, dan mereka menunjukkan sikap menghargai perbedaan dalam lingkungan sosial mereka, termasuk di sekolah dan kampus.

Diagram yang menggambarkan hasil ini menunjukkan bahwa hanya sedikit responden yang menunjukkan sikap intoleransi, dengan persentase yang sangat kecil. Hal ini memberikan indikasi bahwa pendidikan yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila masih menjadi salah satu faktor penting dalam menumbuhkan sikap toleransi di kalangan generasi muda.

2. Pengaruh Nilai-Nilai Pancasila terhadap Sikap Toleransi

Nilai-nilai Pancasila memiliki peran yang signifikan dalam membentuk sikap toleransi di kalangan mahasiswa dan siswa. Berdasarkan hasil survei, sebagian besar responden memahami dan menerapkan prinsip-prinsip Pancasila dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sila pertama, “Ketuhanan Yang Maha Esa,” mengajarkan pentingnya menghormati perbedaan agama dan keyakinan. Responden mengakui bahwa mereka tidak merasa terancam oleh keberadaan orang dengan agama atau keyakinan yang berbeda, melainkan justru merasa bahwa keberagaman agama memperkaya kehidupan sosial mereka.

Sila kedua, “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab,” juga sangat berperan dalam menumbuhkan sikap toleransi. Para responden merasa bahwa setiap manusia, terlepas dari latar belakangnya, memiliki hak yang sama untuk dihormati dan diperlakukan dengan adil. Mereka menyadari bahwa intoleransi seringkali lahir dari sikap tidak adil dan diskriminatif, sehingga penting untuk selalu mengedepankan keadilan dalam setiap interaksi sosial.

Sila ketiga, “Persatuan Indonesia,” menekankan pentingnya menjaga persatuan di tengah keberagaman. Responden mengakui bahwa persatuan tidak bisa dicapai tanpa adanya sikap toleransi terhadap perbedaan. Sementara itu, sila keempat, “Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan,” mengajarkan pentingnya menyelesaikan konflik melalui musyawarah. Hal ini sangat relevan dalam konteks pendidikan, di mana perbedaan pendapat sering terjadi di antara siswa atau mahasiswa. Dengan mengedepankan dialog dan musyawarah, konflik yang potensial dapat diselesaikan secara damai.

Sila kelima, “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia,” menggarisbawahi pentingnya menciptakan keadilan sosial bagi semua, tanpa memandang latar belakang suku, agama, atau ras. Dalam konteks pendidikan, hal ini berarti memberikan kesempatan yang setara kepada semua siswa untuk belajar dan berkembang, tanpa adanya diskriminasi. Kesetaraan ini, sebagaimana diakui oleh responden, menjadi faktor penting dalam menjaga hubungan yang harmonis di lingkungan pendidikan.

3. Implementasi Nilai-Nilai Pancasila dalam Pendidikan

Penerapan nilai-nilai Pancasila di sekolah dan perguruan tinggi diakui oleh para responden sebagai salah Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), mereka diajarkan untuk menghargai perbedaan dan berkontribusi satu faktor yang membantu mereka memahami pentingnya toleransi. Melalui pelajaran Pendidikan dalam menjaga persatuan. Selain itu, para guru dan dosen juga berperan sebagai model dalam menerapkan nilai-nilai Pancasila, yang kemudian diinternalisasi oleh para siswa dan mahasiswa.

Program-program ekstrakurikuler yang mengedepankan kerja sama antar siswa dari berbagai latar belakang juga menjadi salah satu sarana untuk menumbuhkan toleransi. Kegiatan seperti kerja bakti, diskusi kelompok, dan kegiatan lintas budaya diakui oleh responden sebagai cara efektif untuk memperkuat persatuan dan mengurangi potensi munculnya sikap intoleransi.

Kesimpulan

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat intoleransi di kalangan mahasiswa dan siswa di Medan relatif rendah, dengan mayoritas responden menunjukkan sikap toleransi yang tinggi terhadap keberagaman. Pancasila, sebagai ideologi negara, berperan penting dalam membentuk sikap toleransi tersebut. Melalui pengajaran dan penerapan nilai-nilai Pancasila, para responden mampu menghargai perbedaan dan menjaga persatuan dalam kehidupan sosial dan pendidikan. Oleh karena itu, upaya untuk terus menanamkan nilai-nilai Pancasila dalam dunia pendidikan sangat diperlukan untuk membentuk generasi muda yang toleran, adil, dan beradab.

Artikel ini adalah publikasi tugas Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan dengan Dosen Pengampu Onan Marakali Siregar, S.Sos., M.Si.

Redaktur: Khalda Mahirah Panggabean 

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.